Rabu, 29 Juni 2011

ISTIKHAROH


Sudah menjadi kodrat manusia bahwa ia tidak dicipta untuk tunduk, tetapi diberi alternatif. Sehingga tidak urung, hidup manusia selalu diliputi alternatif : ada pilihan. Pilihan-pilihan ini menuntut lahirnya sikap keberanian memilih, karena memang memilih tidak bisa tidak harus dilakukan manusia. Kita bisa pahami bahwa aktivitas memilih merupakan sesuatu hal yang pasti terus menerus dilakukan manusia, maka sesungguhnya jika seseorang tidak menentukan pilihan bukan berarti ia tidak memilih tapi ia telah memilih untuk tidak menanggapi pilihannya.


Sikap ragu selalu saja akan muncul di setiap gerak manusia, karena hidup manusia selalu diliputi bermunculannya pilihan-pilihan yang bisa jadi semua menjanjikan. Dan kebimbangan akan juga selalu lahir, karena dalam hidup harapan demi harapan juga menjadi tuntutan dan selalu mengalir.


Maka dari itu sikap orang terhadap hidup juga beragam. Ada yang menyatakan hidup itu sulit, ada pula yang mengatakan mudah. Saya ingin mencoba memandangnya sebagai suatu hal yang tidak perlu kita anggap sulit. Kesulitan yang paling dominan sesungguhnya bukan datang dari orang lain atau lingkungan kita tapi lebih banyak muncul dari diri kita sendiri.


Ragu, gelisah, takut, tidak percaya adalah merupakan sikap-sikap manusia yang cenderung menjadikan hidup itu terasa sulit. Sesungguhnya semua rasa gelisah yang acap kali muncul adalah merupakan kodrat bagi manusia dan tidak akan pernah terpisahkan dari manusia. Bukankah beberapa sifat manusia yang demikian secara tegas dimuat dalam Al Qur’an : tergesa-gesa (Al Isra’ 11), berkeluh kesah, gelisah (Al Ma’arij 19), putus asa bila ada kesusahan (Al Ma’arij 20).


Dengan sifat-sifat tersebut lahirlah dorongan penggunaan akal, lalu lahirlah pemikiran-pemikiran untuk menjauhkan rasa ragu, gelisah, takut dan ketidak percayaan diri. Pengalaman demi pengalaman meyakinkan seseorang akan sesuatu hal, ketajaman memahami sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, entah dialami secara pribadi atau dialami orang lain menjadi kunci untuk menentukan sikap terhadap fenomena masa depan. Semua sikap yang menjadi pilihan untuk dijalani sama-sama mengandung harapan dan tantangan, mengandung kepastian dan ketidakpastian. Dalam menentukan pilihan baru, pilihan masa depan, manusia tidak bisa menawar agar menjadi pasti sesuai prediksi, sebab keserbapastian bukan miliknya tetapi hanya milik Allah semata.


Hidup manusia diwarnai oleh adanya kebebasan memilih, dan selalu pilihan demi pilihan muncul, harapan demi harapan lahir. Disinilah bedanya mahluk yang dinamakan manusia. Semua ini menuntut kerja keras mental, fisik dan rasa agar kita mampu mengambil satu pilihan yang tepat. Apalah artinya memiliki seribu alternatif yang indah tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan menjadikan kita bingung. Juga janganlah kita tergila-gila hanya pada satu pilihan yang terbaik menurut kita tapi kenyataannya dari waktu ke waktu merupakan mimpi belaka. Padalah satu-satunya yang jelas pasti datang kepada siapa yang menunggu adalah hilangnya waktu dan bertambahnya usia. Kita memang harus bersikap supaya tidak sekedar mengembangkan harap, lalu tanpa sadar tergilas waktu.


Dalam hal apapun apabila kita harus memilih. Intropeksi menjadi sangat penting agar harapan demi harapan bisa kita benahi sekaligus kita sikapi. Mana yang pantas dan mana yang benar. Tidak salah bila kita berharap sesuatu yang terbaik, tidak salah, yang salah adalah bila kita terjebak pada harapan-harapan yang tidak kunjung bisa kita rengkuh. Biasanya waktu yang akan menyadarkan kita. Karena kita sering menuntut : bahwa segala sesuatu yang untuk kita mesti harus yang terbaik. Tanpa kita menyadari bahwa belum tentu kita bisa diterima sebagai sosok yang terbaik, belum tentu kita bisa memberi yang terbaik bagi orang lain yang kita harapkan yang tentunya mereka mempunyai ukuran yang terbaik baginya yang kita tidak pernah tahu.


Keadaan yang belum tentu ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang harus kita sadari dan kita terima. Ini merupakan tantangan bagi manusia. Karena manusia adalah mahluk berakal . Dan bila segala upaya rasional telah kita lakukan, dan rasa gemetar menentukan sikap masih tetap ada, rasa ragu masis menyelimuti sikap kita. Maka iskharoh adalah upaya yang selayaknya kita lakukan.


Guru spiritualku berpikiran, istikharoh adalah suatu usaha manusia untuk menagkap fenomena langkah ke depan yang baik untuk kita dengan mendekatkan diri pada Allah. Menangkap sesuatu yang masih abstrak, amat sulit. Dengan indra apa kita menangkap fenomena ini ? Semua indra kita sudah terlalu biasa hanya menangkap fenomena riil atau nyata, sesuatu yang nampak, yang dapat disentuh, diraba, atau didengar. Memahami sesuatu yang abstrak mesti harus dengan gerak hati. Keyakinan merupakan kunci yang bisa membuka semuai ini. Maka dalam istikharoh , ketajaman hati yang disertai dengan keyakinan yang mendalam dan iklas kepada Allah adalah sangat diperlukan. Sebab buah dari istikharoh tidak lain juga adalah satu keyakinan yang menghilangkan seribu pilihan lain yang sebelumnya membingungkan. Buah istikharoh menjadikan kita berani memilih satu pilihan, satu langkah atas nur Allah.


Nah, menurutku, kita garus selalu bahagia ! Bersyukur ! Bahwa sang waktu telah menjaga semangat kita. Detak harap memang harus selalu dilahirkan, agar tidak terhenti. Gairah harus dibangun terus, sebelum ia membeku. Mungkin benar bahwa hidup dapat diumpamakan sebagai gelas. Fungsi gelas tidak akan bermakna jika hanya sekedar ditandaskan isinya. Padahal mesti kita rajin, mengisinya, merawatnya, bahkan bisa mengoptimalkannya untuk berbagai fungsi yang pantas. Kalau kita bingung mengembangkan harap, mengoptimalkan hidup, menentukan pilihan di antara banyak pilihan, maka jalan terbaik adalah beristikaroh, sebab denga cara itu kita bisa dibimbing pada pilihan yang tepat.

Senin, 27 Juni 2011

KITA DAN PLASTIK




Kalau futurolog dunia meramalkan bahwa modernisasi dunia abad 21 mendatang akan banyak diwarnai 4 teknologi penting, yaitu : mikroelektronika, teknologi energi alternatif, aeronautika dan bioteknologi. Hal tersebut hampir pasti dapat dikatakan benar. Penduduk belahan bumi manapun secara umum dapat dikatakan telah terpukau dan bahkan tergantung pada sebagaian produk-produk teknologi itu contohnya TV, komputer, telpon, satelit, klon (produk teknologi kloning). Percepatan efektivitas, efisiensi, globalisasi adalah kenyataan yang dirasakan manusia akibat teknologi-teknologi tersebut.


Disamping ketergantungan pada teknologi di atas, sesungguhnya ada ketergantungan lainnya yang kurang diperhatikan manusia tetapi sesungguhnya telah mempengaruhi jauh pada kehidupan manusia bahkan kehidupan di bumi. Ketergantungan apakah itu ? Tidak lain adalah ketergantungan manusia pada apa yang disebut plastik. Plastik lahir dari teknologi kimia. Keluputan atau ketidaksadaran manusia tersirat pada dialog dibawah :
“ Hidup masa kini rasanya akan sukar tanpa kehadiran yang namanya plastik,” celoteh seorang gadis menor yang barangkali sadar bahwa dirinya sangat bergantung pada yang namanya plastik. Betapa tidak, di dalam tasnya yang juga terbuat dari plastik, ia ingat terdapat : sisir, dompet, pulpen, tilpon genggam, kotak bedak; di tubuhnya melekat kain nilon, kancing baju besar-besar, sal rambut, sabuk, jam tangan, bahkan rambut palsunya semua terbuat dari plastik.
“ Tapi saya benci plastik !! “ kata seorang lelaki di samping perempuan menor sambil terus menghisap rokok filternya. Rupanya laki-laki itu adalah perokok berat, hal tersebut terlihat dari cara merokok dan warna bibirnya yang menghitam.
“ Plastik menjadi pencemar berat lingkungan karena tidak terbusukan. “ lanjutnya.
“ Jangan munafik, anda benci plastik tapi tidak semua plastik. “ kata orang bekaca mata tebal turut bicara.
“ Maksud anda ?? “ tanya sang perokok.
“ Coba anda perhatikan rokok yang anda hisap, bukankah filternya terbuat dari plastik ? “ kata si kacamata. Sang perokok agak terperanjat, dan nampak sedikit malu sendiri. Orangnya diam, mungkin hanya hatinya yang membenarkan ucapan orang yang baru dikenalnya di halte bus. Inilah cermin ketidaksadaran manusia.


Memang benar sulit dipungkiri bahwa banyak segi kehidupan manusia yang telah tersentuh plastik tapi manusia tidak menyadarinya secara penuh seperti halnya sang perokok di atas. Mengapa demikian ? Jawabnya secara pasti barangkali belum pernah dicari. Hanya saja teknologi kimia plastik harus diakui memang telah berkembang sangat maju. Kelahirannya pun sudah cukup lama. Plastik paling sederhana pertama dibuat oleh Leo Baekelend di tahun 1907. Plastik tersebut dibuat dari fenol dan formaldehid yang kemudian diberi nama Bakelit untuk menghargai penemunya.

104 tahun waktu bagi perkembangan teknologi kimia plastik secara menakjubkan telah melahirkan berbagai produk, seperti : fenorokarbon, fotokronik, kapton, kulit sintetik, leksan, lusit, melamin, poliakrilik, polipropilina, polivinil dan lain sebagainya. Prosesnya pembuatannya mulai dari memerlukan hitungan waktu jam seperti nilon, menit seperti polietilena, dan detik seperti perekat cepat kering.


Istilah plastik sendiri mulai populer di tahun 1920-an akibat maraknya penelitian dan berkembangnya produk polimer sintetik yang dapat dikatakan lajunya kira-kira satu macam satu hari. Istilah plastik sendiri mempunyai maksud ‘ bahan yang dapat dibentuk’. Tentu saja tidak semua bahan yang dapat dibentuk tergolong plastik.


Ada 2 macam polimer plastik utama. Yang pertama disebut ‘termoplastic’ yang mempunyai maksud bahwa bahannya akan menjadi lunak secara teralihkan (reversible) bila dipanaskan dan segera mengeras bila didinginkan. Plastik ini dibentuk dengan cara ekstruksi (penarikan atau penekanan ke luar), injeksi (penuangan) atau pemampatan, dan biasanya digunakan untuk membuat serat, jas hujan, wadah es, dan beribu-ribu produk lainnya.


Golongan yang kedua disebut sebagai ‘thermosetting plastic’ dan bahannya terbuat dari zat yang berpolimerisasi secara tak terbalikan (ireversible) bila dipanaskan serta diberi tekanan, kadangkala dengan katalisator, kadang kala tanpa katalisator; dengan begitu bahan tersebut membentuk massa yang keras, kaku dan tak dapat dilebur. Satuan-satuan pembentuk plastik ini berupa molekul organik kecil yang berujud serbuk, butiran, atau cairan kental. Bahan ini dibentukdengan jalan dipanaskan agar berpolimerisasi hingga mencapai bentuk yang diinginkan. Hasil akhir golongan ini misalnya produk aneka perhiasan, mangkuk, piring, hingga kotak televisi; juga bisa menjadi busa kasur hingga kubah masjid seperti yang sekarang sedang diterapkan pada kubah masjid Agung Surabaya bahkan plasti ini dapat untuk lambung kapal sekalipun.


Disadari atau tidak disadari bahwa plastik memang telah terbukti mewarnai berbagai kehidupan manusia. Buku-buku yang kita baca sampul depannya tidak akan bagus dan mengkilap tanpa kehadiran pelapis polimer plastik. Baju yang kita pakai, resleting, kaca mata, sendal, sepatu, jok kursi yang diduduki, karpet yang tergelar di lantai, televisi yang kita lihat, komputer yang kita pakai, radio, sisir, sikat gigi, aneka barang pecah belah sangat mungkin terbuat dari plastik dan bila disebutkan terus akan menjadi daftar yang sangat panjang.


Plastik telah sukses mengganti bahan-bahan alamiah yang sebelumnya menjadi kebanggaan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan manusia. Mulai dari kain yang dulu dibuat dan dirajut dari kapas, serat tetumbuhan, benag sutra kini diganti oleh sintetiknya yang bisa sangat variatif dari kenampakan, kehalusan, rasa saat dipakai, ketahanan, warna, motif dan lain-lain. Alat-alat perkakas dapur / ruamah tangga , juga banyak yang beralih dari bahan logam atau gelas ke plastik, seperti : piring, gelas, mangkuk, sendok, ember, botol, dan lain-lain. Berbagai pembungkus yang tadinya menggunakan daun, kulit pepohonan sekarang telah tergeser plastik. Meja, kursi, almari, karur dari bahan plastik juga semakin mendominasi rumah tangga.


Teknologi plastik memang tidak terbendung perkembangannya dan menggeser banyak kebiasaan dan kegemaran manusia. Plastik yang mudah dibentuk, dipoles, direkayasa semakin memanjakan manusia. Kecenderungan manusia yang menghendaki kepraktisan, hemat, bersih, tahan banyak terpenuhi oleh kehadiran plastik. Berbagai makanan, minuman instan hampir semuanya menggunakan kemasan dari bahan ini. Cobalah perhatikan apa yang terjadi di kantor- kantor, ruang tamu rumah-rumah di kota bahkan di desa. Tanaman dan bunga-bunga pehias meja atau interiornya telah bergeser dari tanaman dan bunga-bunga alami ke bentuk-bentuk sintesisnya yang nyaris persis.


Fenomena penggunaan bahan plastik dalam kehidupan manusia sudah dapat dikatakan telah memasuki segenap aspek kehidupan. Dari aspek kehidupan sosial hingga aspek kehidupan pribadi misalnya penggunaan kondom dalam kegiatan seksual yang umumnya tertutup. Manfaat dan ketergantungan pada plastik dirasakan di berbagai bidang, misalnya : antariksa, arsitektur, agronomi, oseonografi, rancang komputer, kedokteran, biologi, teknik sipil, bioteknologi, aeronotika, perminyakan dan lain-lain.


Banyak hal yang menjadi kenyataan sekarang, padahal pada tahun 1960-an hanya merupakan ramalan para ahli plastik terhadap produk kecanggihan teknologi fisika- kimia plastik. Beberapa hal yang dulu hanya merupakan gagasan itu, misalnya : rumah plastik yang praktis, organ pengganti tubuh manusia yang rusak (kornea mata, katup jantung, paru-paru, dada sintetik, otot jantung, tulang rawan dan membran selofan untuk mengatasi ginjal yang rusak), pengumpul energi, pengganti dan peringkas buku-buku perpustakaan, halaman dan lapangan rumput plastik, taman dengan tata lingkungan plastik, jalan karet sintetik, bendungan plastik, lambung kapal. Amerika mampu membuat plastik khusus untuk melindungi logam terhadap suhu 2.200 °C untuk jangka waktu pendek sebagai pelapis ruang pembakaran mesin roket, cerobong sembur, dan moncong pesawat antariksa.


Dengan memperhatikan teori-teori, azas dan teknologi yang sekarang telah dikuasai, pa a ahli plastik membangun mimpi p nggunaan plastik di masa yang akan datang. Mungkinkah 10, 20, 50 tahun yang akan datang plastik akan menjadi bahan perumahan yang mudah dibentuk dan aman dari kebakaran, plastik sebagai membran elektrodialisis dan osmosis balik sebagai sarana penyedia air minum bersih dari air laut atau untuk mengatasi pencemaran, plastik sebagai pelindung logam pada mesin apapun bahkan plastik sebagai mesin itu sendiri ( sekarang masih pada arloji), plastik untuk membangun rumah di bulan, plastk untuk bahan utama kerangka dan bodi mobil, kapal, pesawat, kereta api sehingga memungkinkan efisiensi pembuatannya ataupun dalam kebutuhan energi, plastik juga diharapkan mampu mengatasi problem cuci darah, pengendalian penyakit, problem genetik dan bahkan ada gila menggagas tentang sintetik kehidupan.

Dalam era krisis ekonomi, banyak barang dan bahan kebutuhan pokok masyarakat harganya naik secara tak terduga. Barang yang naik umumnya adalah barang yang banyak diperlukan masyarakat. Barang tersebut bisa bahan pangan yang setiap hari harus dikomsumsi, bahan bakar, bahan bangunan dan bahan-bahan lain yang sangat diperlukan masyarakat dan sudah sulit digantikan alternatif penggantinya. Kenaikan harga biasanya dipicu oleh langkanya barang, permintaan pasar yang sangat besar atau karena terjadi kenaikan biaya produksi.


Bersama-sama dengan kenaikan harga beras, minyak goreng, susu, minyak tanah, telur, daging, semen, besi beton ternyata plastik harganya juga ikut-ikutan naik. Bahkan kenaikan harganya ini sempat menjadi alasan untuk kenaikan barang dan bahan lain terutama yang menggunakan plastik sebagai bahan kemasannya. Alasannya bahwa harga bahan bakunya naik. Saya pernah mbaca (lama sekali) polyfinylchloride harganya Rp.72.000 per kg, sekarang tentu sudah jauh berbeda.


Kenaikan harga plastik sangat dirasakan para pedagang dipasar, toko-toko, ibu-ibu rumah tangga yang terbiasa menggunakan plastik sebagai sarana pembungkus. Tas plastik umumnya harganya naik dua kali lipat, demikian pula kertas pembungkus berplastik, plastik es, plastik untuk menaman (polybag), mulsa plastik dan lain-lain. Keadaan sulit demikian ternyata tidak menyurutkan penggunaan plastik bagai mereka. Bukankah ini semakin meyakinkan bahwa manusia sudah sangat bergantung pada plastik.


Pada sisi lain kehadiran plastik, selesai pakai dibuang dan bila terakumulasi di alam akan menjadi pencemar lingkungan yang tidak dapat didaur ulang bakteri. Hal ini akan mengganggu proses-proses alamiah yang semestinya terjadi di alam, seperti proses pembusukan, penguraian, peresapan air, dan lain sebagainya. Padahal proses-proses tersebut adalah merupakan kunci terjadinya daur energi dan daur biogeokimia yang memungkinkan terjaganya kelangsungan kehidupan organisme yang ada di muka bumi ini.


Lebih buruk lagi, mana kala manusia semakin merasa lebih baik memelihara tanaman-tanaman plastik, bunga-bunga plastik, hiasan-hiasan plastik, ornamen plastik karena dianggap lebih praktis, tidak repot pemeliharaannya, resiko kecil, dan lebih-lebih lagi sifat yang tidak mudah rusak sehingga dianggap kekal. Tidak seperti bila memelihara tanaman atau bunga-bunga alami , maka harus dirawat, dipupuk, disiram dan dikendalikan hama dan penyakit yang mungkin muncul. Hal ini tidak mustahil akan melahirkan penyakit syirik baru, yaitu orang tidak lagi mencintai mahluk Allah dan sistem alamiahnya yang fana dan tergila-gila pada apa yang seolah-olah kekal.


Akankah teknologi menjadi bumerang bagai kehidupan manusia ? Harus bagaimanakah manusia ? Marilah kita coba renungkan ! Jangan tanya pada rumput yang bergoyang saja, tapi bertanyalah dan kembalilah pada titah Dzat yang menjadikan rumput dan alam ini.

Rabu, 22 Juni 2011

PROF. GOYANG BOKONG



Ada terminologi menarik yang aku dapat ketika aku mengikuti ujian terbuka program doktor di lantai tiga gedung Pascasarjana Universitas Airlangga. Promovendus yang berasal dari Batam mencoba menggambarkan tingkat kepuasan kerja dosen di Propinsi Kepulauan Riau akibat faktor komitmen dan budaya organisasi PTS tempat mereka kerja. Terus terang tulisan ini jelas tidak akan mengupas hasil penelitian temanku ini, tetapi mencoba menggelitiki terminologi yang muncul sebagai respon penyimpulan sang promovendus. Terminologi itu adalah kata ‘profesor’ dan ‘goyang bokong’, yang kritis keluar dari salah satu profesor penguji ketika ada kecenderungan penyimpulan bahwa profesi dosen belum menjadi profesi yang memuaskan dan prestisius.


Sang profesor yang rambutnya sudah memutih berujar, bahwa membandingkan ‘nilai’ tingkat kepuasan suatu profesi tidak bisa diukur hanya dengan melihat dan mengukur dari satu sisi saja, terlebih lagi ditekankan pada aspek perolehan materi. Bayangkan saja kalau kita menilai atau membandingkan ‘nilai’ tingkat kepuasan dan prestasi kerja antara seorang ‘profesor’ dengan seseorang yang mempunyai kerja ‘goyang bokong’. Dua profesi yang akan kita bandingkan keduanya sama-sama bekerja professional dan mampu memberi kepuasan dan prestasi kerja yang bagus. Bagi sang professor, ia merasa telah ‘memiliki nilai’ kepuasan dan prestasi yang jelas berbeda dan membanggakan.


Gelar professor dapat diraih seseorang mana kala yang bersangkutan sudah Doktor, artinya sekarang ini untuk menjadi professor maka seseorang harus melalui jenjang pendidikan yang lengkap mulai dari TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, S3. Tidak itu saja disyaratkan juga harus punya prestasi , karya yang terukur, dan memenuhi ketentuan menyangkut tiga darma, yaitu: pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, dan terakhir presiden berkenan mengangkatnya. Jelas untuk menjadi seorang professor prosesnya tidak mudah, harus melalui proses yang panjang , dan makin hari persyaratan makin bertambah sulit. Kinerja professor insentif gajinya berkisar antara 11 – 15 jutaan rupiah per bulan, itu sudah akumulatif gaji dan tunjangan profesornya. Harus diakui jumlah itu masih kalah jauh dengan gaji orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan yang harus presiden yang menentukan, seperti menteri, jaksa agung, hakim agung, kapolri, direktur BI dan lain sebagainya.


Seorang pekerja ‘goyang bokong’ tidak perlu belajar berjenjang, kadang bisa juga SD saja tidak lulus, tidak perlu melakukan aktivitas kegiatan yang terukur dari berbagai aspek, hanya dituntut mampu menjaga penampilan diri, gaya komunikasi, servis, dan ‘gaya binal’ nya. Siapapun dapat meraih pekerjaan ini dengan mudah, tidak perlu waktu berlama-lama, hanya kalau mau professional tentu untuk kerja apapun belajar menyangkut lika-liku kerja itu penting, tidak sesulit untuk menjadi professor. Gaji seorang pekerja ‘goyang bokong’ yang professional akan mudah melampaui gaji seorang professor, dalam hitungan perbulan jumlahnya bisa berlipat-lipat dari jumlah yang diterima professor, bahkan bukan hal yang aneh bila ada yang menerima ratusan juta untuk tampil sekali goyang.


Pada pekerjaan ‘goyang bokong’ bisa jadi merupakan sebuah ‘ambiguitas’ profesi, satu sisi banyak kemudahan, gaji besar dan sisi lainnya bukan menjadi kehormatan untuk menjalani profesi demikian. Untuk itu ‘nilai’ kepuasan dan prestasi kerja tidak bisa dinilai dari satu sisi, terlebih hanya dinilai dari sisi material saja. Seorang professor yang pendapatannya lebih kecil dari dari penghasilan seorang ‘pegoyang bokong’ bukan berarti dia ‘nilainya’ lebih rendah. Ada aspek capaian lain yang harus dipertimbangkan, misalnya: aspek kehormatan, aspek status socsal, aspek moral, kenyamanan kerja, ketenangan hidup, pengetahuan. Banyak uang tetapi tidak memiliki kehormatan, dianggap amoral, hidup dalam situasi was-was apakah layak kita nilai ‘kepuasan dan prestasi kerja’nya tinggi ? Sementara sebagai professor dengan uang cukup dan aspek kehormatan, aspek status socsal, aspek moral, kenyamanan kerja, ketenangan hidup, pengetahuan melengkapi atribut hidupnya layakah dianggap merupakan profesi ‘ kurang memuaskan’ ?


Guru spiritualku berkomentar, banyak capaian hidup yang ujudnya bukan material yang sering tidak diperhatikan karena manusia sudah berkecenderungan bersikap sangat materialistik, jadi yang diukur hanya yang serba materi. Pada kondisi demikian orang cenderung ‘buta mata’ nya dan tidak mampu memperhatikan dan membangun kebijakan soalial, spiritual dan moralnya, sebagai representasi sebagai manusia si mahluk yang beradab. Maraknya orang-orang yang tidak malu dan tidak merasa bersalah melakukan tindakan korupsi, penipuan, bohong, merupakan gambaran masyarakat kita yang makin tercerabut dari kepositifan dan kearifan hidup. Untuk itu evaluasi menyangkut kecenderungan kita yang relatif ‘materialistik’ harus kembali disuarakan, perjuangan harus dilakukan untuk menguatkan aspek spiritualitas, kebajikan sosial, dan moralitas agar bangsa ini tidak menjadi bangsa yang ternistakan.

Minggu, 19 Juni 2011

CERITA KITA


di remang malam
tak kusangka
kembali aku dengar tawamu
lepas seperti tak ada kendali………..
mata dan rona pipimu membisukan kata-kataku
bicaramu seperti kicau burung pagi hari
memecah kerinduan yang lama tak pernah terobati
setelah masing-masing memilih jalan yang terpisah
karena tidak bisa menyatu

aku bisikan pada sang malam
kau sempurna seperti purnama
makin berbinar mempesona
kemolekanmu
menggoda hasrat purba yang lama tersimpan
tetapi kesadaran dan rasa hormat
lebih berkuasa

aku teringat......
sering aku katakan pada rumput-rumput ilalang
celoteh anak-anak kampung
terbanyang tempat dulu kita sering bertemu
merenda harap yang tak terselesaikan
yang tak disuburi oleh keyakinan kita
perlu kau tahu.....
bahwa harum lembar suratmu yang pertama dulu
di alam bawah sadarku ia masih terpateri
sering mendebarkan jantungku
ketika membauinya……
sampai kini

kini waktu telah mendewasakan kita
tak perlu mengurai kegundahan yang lalu
aku dan kau tak lagi sendiri
ada cerita kenangan masa lalu sebagai hikmah
ada kesadaran masa kini sebagai realita
aku dan kau seperti anak wayang
yang DIA lakonkan sebagai sepenggal cerita
: cerita kita

jenggala malam, 1306
ada kita bertiga

Selasa, 31 Mei 2011

TAK TAHU DIRI




Kembali bangsa ini didera permasalahan yang memalukan, menggemaskan, membuat jengkel banyak orang yang masih memiliki hati nurani. Lagi-lagi kasus korupsi mendera, tapi naga-naganya jalan ceritanya akan kembali sama. Hingar binger pada awalnya sunyi senyap dan dingin-dingin saja pada akhirnya, tidak ada juntrung penyelesaiannya. Setelah kasus Century, rekening gendut POLRI, cek perjalanan BI, Gayus Tambunan, dan sekarang kasus wisma atlit yang menyeret nama petinggi partai Demokrat Mohammad Nazaruddin gejala penangannya sama. Lambat laun masyarakat bisa saja akan frustasi bila pemerintah terus demikian, tidak merubah keseriusannya menangani kasus korupsi, masyarakat sewaktu-waktu bisa muncul mandiri berontak tidak mau diwakili lalu meradang bersama bersuara dan bertindak untuk mencari keadilan yang semestinya.


Kita semua sedang menyaksikan pementasan akbar sebuah sandiwara berjudul ‘elit bangsa yang tidak tahu diri’, memang harus diakui masih ada elit yang tahu diri, punya nyali dan hati nurani, tapi segelintir elit ini tidak mampu meredam kekuatan elit yang tidak tahu diri. Ketika pers demikian terbuka dan sering mempertontonkan tindak penyimpangan-penyimpangan, perilaku yang melanggar aturan, saling serang dan buka-bukaan. Para elit saling salah menyalahkan, saling serang dan membela diri, mereka juga saling menunjukan bukti dan saksi, kita semua menyaksikan dengan berbagai pertanyaan siapa dan mana yang benar. Satu hal yang memprihatinkan adalah, tidak lahirnya kesadaran mawas dan tahu diri, semestinya yang merasa salah harus seleh, harus malu dan minta maaf, bukan membela diri dengan menyalahkan orang lain atau mengorbankan orang lain.


Sayang, semestinya ini bisa menjadi titik intropeksi dan menjadi momentum kebangkitan bangsa ini untuk menunjukkan bahwa bangsa ini bukan bangsa yang bebal, bukan bangsa yang tidak tahu rasa dan tidak tahu diri. Selama bangsa ini terus menerus berkelit dari kesalahan dan membiarkan kesalahan dan kebusukan bersarang pada ‘jantung’ yang mendenyutkan hidup bangsa ini, maka jangan harap kita bisa membangun dan menjadi bangsa yang besar. Kenapa bangsa ini menjadi seperti tidak berdaya dan diam saja melihat pembusukan di atas kemerdekaan dan demokrasi yang kita bangun bersama. Sudah loyokah bangsa ini, sudah pasrahkan bangsa ini ? Kemana semangat merah putihnya ? Semangat berani karena benar. Kita rasakan bersama, apa yang terjadi sekarang justru sering kita dipertontonkan tindak laku mereka yang salah justru yang berani, mereka yang korupsi besar justru berteriak ‘berantas korupsi’, yang kasihan pencuri kecil ‘coklat, jagung, ayam’ yang mencuri karena anak-anaknya yang kelaparan di rumahnya.


‘Tidak tahu diri’ sebagai penyakit kronis yang mendera bangsa ini, entah dari mana dan dengan apa kita harus mengobatinya. Sebagai penyakit ia sudah menyerang organ-organ penting bangsa dan negara ini, ia seperti kangker stadium tiga yang sudah menyebar ke mana-mana. DPR yang menjadi lembaga representatif mewakili suara rakyat, dirasa terasa bebal dan tidak mendengar tangisan dan keluhan masyarakat. Kritikan pada lembaga ini yang mengorek kinerja, etika, keterwakilan terasa tidak diakomodir, terbukti produktivitas lembaga masih rendah, teriakan masyarakat terhadap pembangunan gedung baru DPR sepertinya dianggap angin lalu saja, etika anggota dewan juga sering kita tonton sering di luar norma.


Guru spritualku pernah bicara bahwa memang merubah orang yang memiliki sikap yang tidak tahu diri adalah tidak mudah. Tidak tahu diri adalah sikap, umumnya dimiliki oleh orang yang memiliki pemikiran lebih atau orang pandai dan bukan orang bodoh. Mereka tahu akan kesalahan atau kekeliruannya tetapi cuek saja dan menempatkan diri seolah-olah mereka tidak salah atau tidak keliru, bahkan yang kronis mereka malah berani memutar balikkan fakta, dan cenderung membela diri dengan berbagai cara. Mengatasi orang yang tidak tahu diri harus dilakukan secara ‘militan kultural’, artinya harus ada ketegasan berdasar budaya. Harus ada upaya ‘menjerakan’ mereka agar menjadi pembelajaran pada masyarakat lainnya, hukum harus menjadi panglima yang berkeadilan dan tegas menyalahkan yang salah dan merehabilitasi yang benar termasuk pada oknum aparat hukum juga. Sehingga orang mesti berpikir ulang dan hati-hati untuk bersikap melanggar hukum, bersikap tidak tahu diri menginjak-nginjak hak kehidupan orang lain.

Kamis, 26 Mei 2011

INVESTASI DUSTA



Dalam pelajaran biologi modern kita mengenal sebuah reaksi yang banyak terjadi dalam jaringan tubuh mahluk hidup yang disebut ‘reaksi caskad atau cascade reaction’. Reaksi ini adalah reaksi berantai yang terjadi pada level biokimia tubuh, reaksi ini digambarkan dimulai dari satu hal yang menyebabkan rentetan kejadian yang saling sambung secara amat cepat. Reaksi ini juga disebut reaksi domino karena kejadiannya terus menerus bersambung dari satu titik reaksi ke titik reaksi yang lain. Reaksi satu memaksa terjadinya reaksi yang lain, produk reaksi satu menjadi substrak atau stimulasi terjadinya reaksi selanjutnya. Secara sederhana dapat digambarkan seperti sederetan sepeda yang diparkir berjajar lalu satu diujung roboh dan mengenai sepeda di sampingnya yang juga kemudian roboh, kejadian itu sambung menyambung hingga semua sepeda roboh. Inti yang peristiwa satu kejadian berdampak memaksa kejadian yang lain harus terjadi juga.


Demikian pula kalau kita dusta, bagaikan reaksi caskad dusta itu akan memaksa kita untuk berdusta dan terus berdusta lagi. Sekali kita berinvestasi dusta akan secara otomatis memberi bunga berbunga dusta kepada kita. Ambil contoh sederhana percakapan sederhana di bawah ini:


“ Kamu baru dari mana kawan ? ” tanga Si Jujur kepada sahabat karibnya Si Dusta yang tiba-tiba muncul bertandang ke rumahnya. Si Dusta yang sebenarnya hanya dari rumah, mendapat pertanyaan demikian merasa perlu berdusta untuk menjaga gengsi dan sedikit gaya di depan sahabatnya.


“ Baru dari Grand City(1), lihat pameran otomotif(2), “ jawab si Dusta mengarang seenaknya. Padahal ia hanya tahu dari berita di koran memang di mall yang relatif baru itu ada pameran otomotif, setidaknya jadi masih nyambung.


“ Ya opo pamerannya ? Banyak pengunjungnya ? “ tanya si Jujur polos.


“ Pameran Bagus(3), pengunjung juga ramai(4), “ Jawab di Dusta, jelas-jelas ngarang aja, mungkin untuk jawaban bagus ia masih mengandalkan komentar koran, sedangkan persoalan pengunjung ia terpaksa memilih ‘dusta’ beneran.


“ Kamu parkir mobil di area mana ? Aku benci parkir di atas karena tanjakannya bikin miris, terlalu panjang dan nanjak. “ Tanya si Jujur lagi mencoba nyambung percakapan dengan tamunya. Untuk menjawab si Dusta dipaksa berdusta lagi agar kebohongannya tidaklah terbongkar.


“ Iya, aku nggak mau parkir di atas(5), bener miris(6), pas aku masuk di parkir depan kebetulan ada mobil mau ke luar(7), jadi mendingan bisa parkir dibawah(8), ada di bawah pohon lagi(9), jadi lumayan tidak panas (10) “ jawab si Dusta.


Nah ! Sekarang dari sepenggal percakapan di atas bisa kita kalkulasi berapa banyak dusta yang harus terjadi lantaran tuntutan gengsi atau atas alasan apapun untuk harus berdusta, dari percakapan tadi ada 10 dusta terjadi, dan itu kalau percakapan hanya berhenti sampai di situ. Kalau terus bersambung, kebetulan ada pihak ke tiga dan ke empat yang nimbrung bagaimana ? Sudah bisa dipastikan dusta itu akan terus sambung menyambung, beranak pinak, menjadi bertambah dan bertambah disadari atau tidak disadari. Itulah yang menjadikan ‘pendusta’ dibenci Allah karena dusta akan menuntun seseorang pada kekejian.


Orang bijak bicara bahwa dusta adalah kemaksiatan lisan dan tindakan yang sangat merugikan. Ketika orang berdusta, lambat tapi pasti hal tersebut akan menyebabkan: 1), melahirkan keraguan, keresahan bagi orang lain maupun dirinya sendiri, 2), memantapkan kemunafikan, artinya orang yang dusta akan berkecenderungan tidak mampu menyelaraskan antara omongan dan tindakan, 3), menghilangkan kepercayaan, karena omongan dan tidakan tidak bisa diikuti, 4), memutarbalikkan kebenaran dan fakta, hal ini bisa membuat keadilan susah ditegakkan, 5), merusak anggota badan lainnya, karena pada dasarnya hidup adalah kesatuan organik, 6), menjadi pintu keburukan lainnya.


Guru spiritualku pernah menasehati, ‘janganlah kamu memulai dusta’, sebab dusta adalah penyakit paling merusak kehidupan bermasyarakat. Dusta akan menyulut kebencian dan permusuhan, menyulut rasa tidak suka orang lain kepada kita. Jika kita membiarkan sikap ini tumbuh subur pada diri kita dan orang-orang di sekitar kita maka hal tersebut akan sangat berbahaya, akan membuat komunikasi dan nilai kehidupan sosial di sekitar kita menjadi buruk. Menanam satu dusta saja, secara otomatis dalam hitungan waktu yang singkat dapat berbuah dusta-dusta baru dan selanjutnya tiap dusta baru akan beranak pinak sehingga membelenggu kejujuran kita, merusak kebeningan hati kita. Orang yang terbiasa berdusta akan cenderung bebal, mati rasa, tidak malu dan takut, sulit mendengar kata hati yang sesungguhnya cenderung ingin menyelamatkan kita dari keburukan.


Janganlah berinvestasi dusta, karena itu sama saja investasi kemaksiatan, investasi yang merusak moralitas dan kebaikan kita. Berusahalah menghargai hidup dengan cara memelihara sikap jujur dan selalu berusaha untuk tidak dusta. Orang bijak bernasehat agar kita bisa berlaku demikian maka kita harus belajar untuk tidak munafik, menjaga diri agar dapat dipercaya, tidak mengada-ada, tidak gila hormat, dan menjauhkan diri dari rasa sombong. Tidak kalah penting kita mesti rajin intropeksi dan selalu berupaya menselaraskan antara omongan kita dan laku kita, juga selalu bersyukur atas segala rahmat yang telah dilimpahkan Allah SWT kepada kita dan istighfar atas keteledoran yang kita lakukan.

Senin, 16 Mei 2011

CINTAI EMOSI KITA




Ada hal yang sering muncul sebagai respon balik ketika kita mendapat suatu informasi khusus atau berada pada situasi yang tidak wajar yaitu emosi. Emosi dari kacamata biologi semua muncul karena kita meniliki sebuah system di otak yang disebut ‘sistem limbik’, terletak di batang otak berupa benjolan sebesar biji kacang. Ketika sistim limbik ini relative tidak aktif maka kita berada pada situasi yang cenderung tenang, damai dan bahagia, tetapi ketika kita mendapatkan rasa tidak tenang, ancaman, informasi negatif yang menyebabkan depresi maka system limbik menjadi lebih aktif. Responsibilitas sistim limbik antara satu orang dengan orang lainnya tidaklah sama, hal itu tergantung pembelajaran pengalaman hidup, cara pandang dan kepribadian masing-masing.


Secara umum orang yang berada pada kondisi emosional bisa dicirikan dengan beberapa perilaku, misalnya: intonasi bicara yang keras dan kasar, marah dengan hasrat merusak atau melempar barang-barang di sekitarnya, ringan tangan, bertindak kriminal, merusak diri dengan narkoba, minuman, menjalani pergaulan bebas, dendam dan melakukan tindak kejahatan, atau menangis dan menyalahkan diri sendiri yang tiada henti. Emosi yang dibiarkan terus menerus menguasai kita akan merusak kehidupan kita dan bahkan bisa merusak kehidupan orang lain yang tidak salah apa-apa, karena emosi yang membabi buta akan membuat orang tidak malu, tidak sungkan, tidak takut kepada apa dan siapapun.


Emosi tidak bisa dipisahkan dari perjalanan sejarah kehidupan manusia, karena hal itu bersifat genetis, bahwa setiap otak manusia selalu dilengkapi sistim limbik. Emosi berkembang bersamaan umur, makin dewasa orang emosinya relative makin stabil. emosi sesungguhnya merupakan sistem yang membantu manusia untuk memecahkan masalah. Dengan emosi orang dipacu pikiran dan tindakannya untuk segera lepas dari rasa ketidak tenangan, ancaman, depresi sehingga ada jaminan bertahan hidup. Emosi biasanya berkait dengan gangguan yang pada hal-hal prinsip menyangkut pemenuhan hidup misalnya makanan, tempat berlindung, pasangan, keturunan, pekerjaan dan lain-lainnya. Kemunculannya sering sebagai produk dari proses interaksi dan komunikasi seseorang terhadap komunitasnya,


Emosi sebagai produk yang menyertai kehidupan sosial kita, interaksi kita, kerelasian kita, bila dicermati dari aspek fungsinya maka dapat kita pilah menjadi 2, yaitu: emosi destruktif dan emosi konstruktif. Emosi destruktif adalah emosi yang bertumpu pada alasan yang lemah, atau pijakan emosinya salah sehingga efek dari emosi ini akan berakibat pada putusan yang salah. Selain orang lain yang dirugikan maka orang yang emosi juga dirugikan, cenderung merusak hal yang sebenarnya sudah baik, memperburuk komunikasi, melahirkan sakit hati, dendam, rasa ketertindasan, dan ketakutan. Sedangkan emosi konstruktif adalah emosi yang bertumpu dan dilandasi alasan dan informasi yang kuat dan valid. Emosi ini bisa menolong keadaan tidak menjadi makin buruk dan hancur menyeluruh. Emosi seperti ini akan berdampak pada sikap menyadarkan, penyesalan berbuat salah, serta bisa melahirkan semangat baru bekerja lebih baik.


Orang bijaksana bicara bahwa emosi adalah cerminan ketidakmatangan sikap dan jiwa seseorang. Orang yang matang sikap dan jiwanya akan mampu mengelola emosi dengan baik, sistem limbic di otaknya bisa ‘jinak dan terkendali’ hingga dapat dikelola on off nya dengan baik. Sebelum emosinya menguasai dirinya, pikirannya telah terbiasa mampu memberi input berupa informasi positif yang sebaiknya digunakan untuk landasan memutuskan yang lebih konstruktif. Sehingga emosi bisa kemudian diekspresikan dengan lebih menggunakan pilihan bahasa yang lebih santun, manusiawi, dan bahkan bisa lebih memotivasi tanpa mengurangi koreksi terhadap masalah yang menyebabkan munculnya emosi. Kemarahan, hukuman dan sangsi bisa lebih dilokalisir dan ditelaah dengan seksama sehingga akan tepat kepada yang layak mendapatkannya, tidak lagi gebyah uyah yang umum terjadi, hanya satu yang salah karena emosi menguasai kita semua bisa jadi kena getahnya.


Guru spiritualku pernah bertutur tentang bagaimana mengelola emosi, ada empat langkah penting agar kita tidak diperbudak emosi. Pertama, sebelum emosi menguasai kita cobalah belajar mengenalinya, terutama menyangkut emosi specifik yang seringkali datang mengganggu ketenangan kita. Kenali penyebabnya, tanda-tandanya yang mengawalinya sehingga kita dapat mengantisipasi letupan-letupannya dengan seperangkat alasan untuk bisa tidak meladeninya. Kedua, coba lebih jauh memperhatikan dan memahami harapan orang lain, kelemahan orang lain, kesalahan orang lain dengan lebih seksama, dengan demikian kita mesti akan dapat belajar sabar untuk menjadi pendengar dan penganalisis yang baik. Ketiga, coba perbaiki pola komunikasi kita dengan mengoreksi penggunaan kata yang cenderung destruktif, menjadikan orang lain bosan, tidak simpati dan bahkan sakit hati. Kata-kata seperti bodoh, salah, kurang ajar, selayaknya tidak perlu digunakan karena akan merusak komunikasi. Berpikirlah melahirkan capaian alternatif, bersikaplah santun dan cobalah berupaya selalu tersenyum karena itu sering bisa menjadi jalan penyelesaian yang baik. Keempat, tetaplah berupaqya berani mengambil putusan yang tegas dengan penuh kehati-hatian dan rasional. Tidak ada salahnya untuk mencari saran dan masukan dari orang lain untuk menelurkan solusi terbaik atas masalah yang membuat emosi kita muncul. Cintai emosi kita karena ia bagian dari kita dan agar ia mau memberi hal terbaik darinya untuk hidup kita,