Selasa, 31 Agustus 2010

BULAN INVESTASI



Sekarang bulan Ramadhan atau popular dengan bulan puasa, menurut keyakinan umat Islam bulan ini adalah bulan baik bulan penuh berkah dan barokah. Bagi kebanyakan orang bulan puasa adalah bulan di mana melakukan rukun islam ke empat, yaitu belajar menahan napsu, terutama makan dan minum serta hal yang bisa membatalkannya, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Bagi yang lain bulan puasa tidak sekedar menjalankan kewajiban berpuasa tetapi juga memperbanyak kegiatan ibadah, seperti melaksanakan sholat-sholat sunah, tadarus, dzikir, itikaf, dan ibadah lainnya.


Guru spiritualku mengatakan bahwa bulan puasa adalah bulan yang tepat untuk investasi laku kebaikan, beliau bilang ‘Goodness is the only investment that never fails’, kebaikan adalah investasi yang tidak pernah gagal. Pada kegiatan di bulan puasa selayaknya kita tidak melulu menekankan ibadah saja, kita perlu aksi nyata setelah memahami rasa lapar, memahami betapa nikmatnya berbuka puasa. Kita harus sadar bahwa dalam keseharian tidak sedikit orang yang selalu kelaparan, rasa lapar sudah menjadi sahabat keseharian tidak saja di bulan puasa. Berbagi rizki , kebahagian, rasa senang, membantu yang kesusahan, yang teraniaya, yang tertindas adalah beberapa kebaikan. Bagi semua orang terutama bagi orang yang tidak mampu memberi senyum, berempati, perhatian, rasa peduli adalah kebaikan yang paling murah.


Puasa kata guru spritualku lagi, semestinya harus difahami tidak sekedar mengandung pesan mengajak kita menempa batin untuk meningkatkan spiritualisas masing-masing, tetapi juga memiliki pesan yang mengajak kita untuk peduli kepada orang lain yang nasibnya kurang menguntungkan disbanding kita. Tidak sedikit pada saat bulan puasa orang-orang justru mengeluarkan belanja lebih dari biasanya untuk alasan mengahargai keluarganya yang berpuasa, survey di beberapa kota besar di Indonesia menggambarkan kenaikan belanja makanan naik hingga 30 persen. Puasa tidak lagi bisa menjadi pembelajaran hidup berkesederhanaan, tetapi justru berlebihan karena lantaran pada saat buka hidangan yang disajikan beragam hingga akan ada makanan yang tidak termakan.


Puasa mestinya bisa lebih diarahkan untuk membangun empati sosial kita, menjadi kritik dan koreksi terhadap nilai-nilai kapitalisme dan materialisme yang kian mengganggu dan merusak kesadaran spiritual masyarakat kita. Bagaimana kita melakukan puasa tanpa kemanjaan yang bertolak belakang dengan makna puasa itu sendiri yang semestinya segalanya termasuk makan dan minum bisa lebih sederhana dari keseharian tetapi tetap produktif dan spiritualistis. Bukan malah sebaliknya hidangan buka dan sahur diada-adakan, tidak hemat, dan cenderung mubajir. Terus produktitas menurun atas alasan lemas, memperbanyak ibadah, bahkan ada yang berasumsi tidur untuk meraih pahala. Sesungguhnya kalau ada dana yang lebih, atau energi yang tersisa sebaiknya di bulan suci ramadhan ini bisa disalurkan untuk investasi kebaikan, sebuah investasi yang pasti, terlebih bila dilakukan di bulan baik seperti ini.


Investasi kebaikan di bulan puasa bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, misalnya dengan menolong orang yang sedang berkesusahan, sekecil bentuk pertolongan kita akan mempunyai nilai di hadapan Allah, berbagi hidangan untuk buka puasa, mengingatkan kelalaian orang, mengajak melakukan tindakan yang jujur, sabar, iklas, selalu ramah, murah senyum dan lai-lain. Bagi yang berkemampuan bisa akan lebih banyak peluang untuk berlaku kebaikan, selain melakukan hal di atas bisa dan memiliki peluang untuk memperbanyak amal, derma, sodakoh, zakat, dan yang lebih bagus lagi bisa memodali usaha sosial untuk mengatasi problem kemiskinan dan memerangi kebodohan. Karena dari problem kemiskinan dan kebodohan segala problem bangsa ini berakar, mengurangi permasalahan pada aspek ini akan mengurangi problem amoralitas, semacam : korupsi, perampokan, madat, prostitusi dan lain-lain. Mari kita mulai investasi dari yang kita bisa.

Senin, 30 Agustus 2010

BERDAMAI


Sering kita dihadapkan pada suatu kondisi yang tidak tepat, tidak benar, tidak cocok dengan harapan kita. Kita ingin perjalanan lancar ternyata jalanan macet, kita ingin laporan kerja segera terselesaikan tiba-tiba lampu mati hingga kita tidak bisa bekerja. Kita ingin mendapatkan hasil kerja yang maksimal ternyata hasilnya tidak memenuhi standard minimal. Kita ingin berlayar dengan cuaca yang cerah ternyata malah berbadai. Itu sebagian gambaran kondisi yang sering menjadi realita yang yang harus kita hadapi dan acap bisa membuat kita kecewa, marah, frustasi, kalau kita tidak segera mampu mengatasi keadaan.

Pada kondisi demikian kita harus mampu berdamai dengan diri kita sendiri, karena dengan cara demikian kita bisa menhindari atau minimal mengurangi rasa kecewa, marah, frustasi yang muncul, dan bisa berpikir jernih mencari solusinya atau setidaknya mengkondisikan perasaan agar menjadi lebih nyaman. Seorang teman yang tidak mau stress, tidak mau menjadi korban lingkungan yang makin tidak terprediksi, cenderung berkompromi dengan keadaan itu dengan malah ‘mencoba menikmatinya’. Sebab melahirkan kegelisahan, amarah atau apapun kalau memang kita tidak bisa banyak berbuat untuk mengatasi permasalahan yang ada dihadapan kita tersebut menjadi percuma saja, malah menjadi tambah beban. Contohnya ketika kita berada di jalan yang macet, apa yang bisa kita lakukan kecuali mencoba menikmatinya.

Berdamai dengan diri sendiri adalah ibarat menyelaraskan antara injakan rem dan gas dalam mengendarai mobil, merupakan upaya agar bisa mengikuti kondisi jaln. Tetapi jangan salah artikan bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah sebuah kekalahan, sama sekali tidak. Berdamai dengan diri sendiri adalah justru merupakan keberhasilan, tidak mudah menenangkan atau menaklukan diri sendiri. Kecenderungan orang sukses menaklukan puncak-puncak gunung tinggi, menaklukan ganasnya gelombang samudra, menjinakan kuda liar, dan lain-lain tetapi malah sulit menaklukan dirinya sendiri. Bagaimana bisa menaklukan diri sendiri, karena umumnya kita juga banyak lupa memperhatikan diri, mulai tubuh, pikiran, harapan-harapan, cinta, dan segala keterbatasannya.

Untuk itu, agar kita bisa berdamai dengan diri sendiri atau berdamai dengan kondisi apapaun yang mewarnai keadaan lingkungan kita, kita perlu banyak belajar memahami. Pertama dan utama adalah memahami diri kita, siapa kita, bagaimana kondisinya fisik, ekonomi, spiritual, sosial, apa cita dan harapan-harapannya, dan hal-hal lain yang kadang sering disepelekan misalnya kebiasaan. Upaya memahami sejauh mana fenomena diri kita akan menentukan sejauh mana kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Jangan berharap kita bisa berdamai dengan diri kita mana kala kita tidak perduli pada kondisi diri kita sendiri.

Kalau kita bisa berdamai dengan diri kita, maka kita bisa mengatur dan merubah pikiran kita, kita bisa menyemai doktrin-doktrin positif pada pikiran kita, walau ia sedang berada pada kondisi yang kurang menguntungkan. Jika pikiran kita bisa menerimanya dan hati kita mempercayai hal itu maka kita didorong bisa melakukan hal yang kita pikirkan tersebut. Situasi yang kurang menguntungkan minimal tidak akan menguras kembali energi akibat rasa kecewa, marah, frustasi yang bisa muncul, malah sebisa mungkin suasana kurang menguntungkan itu bisa menjadi sumber inspirasi, menghibur atau malah produktif.

Harus disadari bahwa tanpa berdamai dengan diri sendiri kita akan selalu merasa resah, kalah dan bahkan mungkin saja binasa. Modal dasar untuk bisa berdamai mengerti dan memahami diri tentu saja diperlukan sifat dan sikap kejujuran, watak, integritas, iman, cinta dan kesetiaan. Kejujuran, watak dan integritas pada diri akan menjauhkan kita dari sikap dan perilaku munafik, sementara iman akan membimbing kita menjauhi hal-hal buruk dan selalu berjalan di jalan Illahi, lalu cinta dan kesetiaan akan memberi warna hidup di dunia ini menjadi lebih bahagia, indah, dan bermakna.

Jumat, 27 Agustus 2010

BAHAGIA TANPA SYARAT



Seorang teman lama tiba-tiba saja muncul di rumahku, rupanya dunia maya memudahkan tempat tinggalku diendus olehnya. Dalam sekejap kami jadi asyik, kami bertutur panjang lebar tentang hidup masing-masing, bayangkan dua puluh lima tahun kami tidak pernah berjumpa, jadi ketika berjumpa rasanya kami asyik melepas kekangenan. Sebagai ekspresi kerinduan, rasa hormat dan empati kami saling bercerita, aku merasa asyik mendengarkan apa saja yang ia katakana, pun kayaknya demikian sebaliknya ketika aku yang cerita, tentu tak lupa sambil makan singkong goreng hasil tanam sendiri. Harap maklum di kampung yang paling mudah disajikan ya makanan seperti itu, dan istriku paling tau bahwa menyajikan ‘singkong dan derivatnya’ itu lebih menarik bagi orang kota dibanding menyajikan kue kalengan yang mungkin sudah membosankan karena biasa mereka santap.



Berbincang dengan teman lama, seperti layaknya memutar film documenter, tiap cerita menjadi kan kita ingat banyak hal yang dulu pernah dialami bersama. Kadang kami jadi tertawa kalau kami ingat hal-hal yang lucu, kadang harus bersyukur karena solidaritas pertemanan kami benar-benar teruji, tapi kadang kami juga menjadi prihatin ketika teringat nasib buruk yang menimpa beberapa teman. Beberapa teman teman kami mati muda karena kecerobohan hidup dan kurang perhatiannya orang tua, ada juga sekarat karena obat-obatan, ada juga yang terpaksa kawin muda karena pacarannya kebablasan hingga hamil duluan. Kilas balik itu akhirnya melahirkan sebuah pertanyaan yang awalnya entah dari mana yang prinsipnya membuat kami diam. Pertanyaannya sederhana ‘ Apakah kamu bahagia ?’



Kami akhirnya diskusi tentang kebahagiaan, aku katakana pada temanku bahwa aku punya blog dan pernah menulis tentang kebahagiaan atau sedikit perenungan tentang bahagia. ‘Saya tertarik pada konsep dalam Islam tentang bagaimana sebaiknya kita selalu berusaha mencari jati diri sebagai hamba (makrifatullah). Memahami ‘kehambaan’ akan banyak membantu kita selalu syukur, tidak sombong dengan perolehan harta, kedudukan, ketenaran, kemolekan dan lain sebagainya. Menyukuri apa yang kita dapatkan setelah upaya kita menghidupi hidup, dan mampu memaknai dan mengevaluasi berbagai peristiwa yang menghiasi hidup kita termasuk yang menyedihkan sekalipun adalah ‘ruh bahagia’. Kataku padanya, ia tersenyum ketika kutunjukan blog cakrawala beningku.



Temanku satu ini adalah salah satu teman yang dari kecil suka pemikiran, aku ingat ia pernah membuat gaduh pengajian ahad pagi ramadhan di masjid besar di kota kelahiranku dengan bertanya hal mendasar tentang ke-Tuhan-an yang jelas-jelas sering menjadi wilayah tabu untuk ditanyakan bagi kebanyakan orang. Pertanyaannya kalau dicermati sudah mengarah ke ranah ‘filosofis’ tentunya. Contoh pertanyaannya rasanya tidak perlu saya sampaikan, yang jelas mempertanyakan keberadaan Tuhan tetapi sesungguhnya dimaksudkan untuk menguatkan keimanan.



‘Bahagia menurutku adalah sesuatu yang hanya bisa kita rasakan bila kita tidak menetapkan syarat apapun untuk itu. Kalau dengan syarat berarti kita masih belum bahagia sepenuhnya, belum iklas, mungkin masih kebahagian pribadi, sesaat, atau semu. Kebahagian tidak bisa dicari, kalau dicari berarti ada gambaran, ada ciri, ada ukuran, ada syarat. Kalau ada ukuran dan syarat tertentu mengenyangkut hal yang membahagiakan maka yang akan terjadi adalah kebahagiaan yang kurang atau kondisi yang kurang bahagia, lantaran ukuran dan syarat akan berubah mengikuti waktu dan rasa ketidakpuasan juga selalu muncul. Bahkan jika kebahagian kita kejar maka kebahagiaan itu akan makin menjauh dari kita. Kita mesti memahami ‘hakekat’ sumber yang menyebabkan perasaan yang demikian. Kebahagiaan sejati adalah anugerah Illahi yang akan datang sendiri manakala kita benar-benar layak dan siap menerimanya, jadi syarat justru bukan di kita, tetapi dari Allah’. Nah benarkan, kata-katanya menjadi sulit kita telaah manakala ia mulai bicara hakekat.



Sang teman kemudian mengibaratkan kebahagiaan seperti kupu-kupu, ada-ada saja pikirku. Sering kita lihat ketika jumpai kupu-kupu lalu kita kejar maka sudah dipastikan kupu-kupu itu akan terbang dan terbang makin menjauh, tetapi manakala kita diam jauh dari rasa ingin merengkuh kupu-kupu, justru kupu-kupu itu akan datang menghampiri kita dan tanpa takut dia hinggap di tubuh kita, mengajak bercanda dengan kita.



‘ Itulah kehidupan, untuk mendapat kebahagiaan sejati seseorang harus banyak bersyukur, berupaya membangun kesolehan diri dan keluarga, mencari dan berbagi rejeki dan harta yang halal, hidup dan menghidupi lingkungan yang agamis dan humanis, serta memanfaatkan barokah umur untuk selalu menempuh jalan yang diridhoi Allah. Kebahagiaan akan menghampiri siapapun yang mampu memahami bahwa segala sesuatu terjadi karena Allah, dari kesadaran itu akan melapangkan dada dan hati kita untuk selalu bisa menerima rejeki, nikmat, cobaan, godaan, dan tetap selalu bersyukur serta iklas memelihara kewajiban ibadah kita kepada Allah. Tidak perlu kita buat kriteria bahagia, yang perlu kita lakukan adalah memenuhi syarat agar kita bahagia seperti yang dijanjikan Allah ‘.

Rabu, 18 Agustus 2010

CERITA 2 SUFI


Genap seminggu menalani ibadah puasa, siang ini aku kedatangan dua orang sahabat yang akhir-akhir ini jarang bisa ketemu karena kami masing-masing mempunyai kesibukan sendiri-sendiri yang sulit untuk mempertemukan. Jadi kumpulnya kami apalagi di bulan penuh berkah ini benar-benar mencairkan kerinduan. Asyiknya lagi, ketika mereka berada di antara tanaman anggrekku yang banyak berbunga, satu di antara mereka melontarkan ide yang cantik yaitu mengisi momentum pertemuan itu dengan acara tartil Al Qur’an bersama untuk meraih barokah pahala di bulan ramadhan ini.

Kami setuju dan akupun mengambil tiga Al Qur’an untuk memenuhi niat itu. Lalu setelah berwudlu dan berdoa agar dijernihkan hati dan pikiran, diberi kemudahan belajar, kemudian mengawali dengan membaca suarat Al Fatehah, maka selanjutnya kami membaca surat dan ayat-ayat lainya yang disepakati bersama. Walau terbata-bata aku berusaha mengikutinya, aku bersyukur, kekuranganku ini setidaknya sekarang terbayar pada kemampuan anak-anakku yang tiap sore ada jam untuk les mengaji.

Pasca membaca dan saling koreksi, kami mencoba mengupas pemaknaannya. Dan entah bagaimana jalan ceritanya, setelah diskusi panjang tiba-tiba diskursus yang mencoba menjawab pertanyaan: bagaimana cara kita mendekatkan diri pada Allah, di tengah nikmat hidup keduniawian ?
“ Bicara tentang itu, “ kata satu temanku. “Aku punya cerita menarik tentang dua orang sufi yang saling bersahabat sejak kecil, dan memang mulai beranjak dewasa keduanya mempunyai cita-cita sama yaitu pingin menjadi sufi. “ lanjutnya. Aku tersenyum dan tertarik untuk mendengar cerita selanjutnya, sementara satu sahabatku yang lainnya, meletakkan Al Qur’an di atas meja, sebelumnya selama diskusi berada dalam dekapannya.

“ Dua sufi bersahabat ini menjalani laku kesufiannya dengan jalan yang berbeda. Satu sufi, sebut bernama Al Ruki, memilih menjalani hidup kesufiannya dengan jalan menjauhi dunia keramaian, mengasingkan diri ke daerah terpencil, hidup bersahaja, tinggal di rumah sangat sederhana, makan dan pakaian juga seadanya. Sang Ruki lebih mengutamakan komunikasi dengan Allah, dan selama ini ia telah merasa mampu mencapainya dan mampu menjauhi nikmat dunia,” tutur temanku, aku tambah tertarik mendengarnya.

“ Sufi kedua, sebut saja bernama Al Runi, berbeda dengan sahabatnya ia memilih mencoba menjalani proses menjadi sufi tetapi tetap hidup seperti layaknya masyarakat biasa. Bahkan Sang Runi yang memang tekun akhirnya mampu menjalani kesufiannya dalam kehidupan yang bergelimang harta dan kenikmatan dunia. Tak ayal namanya menjadi buah bibir masyarakat sekitarnya, dan akhirnya berita itu terdengar oleh sufi sahabat lamanya, Al Ruki, “ lanjut cerita temanku. Mendengar berita sahabatnya Al Runi mampu menjalani kesufiannya di digelimang kenikmatan dunia, Ruki tidak percaya dan mendorong keinginan untuk melihat sendiri ke kota. Sebab dalam pemahaman dan keyakinannya kesufian tidak mungkin dicapai bila orang masih cinta dunia, atau tergantung pada hal dunia. Dan untuk memenuhi kepenasarannya itu, iapun bergegas ke kota untuk mencoba menemui sahabatnya.

Al Runi yang barangkali benar pupuler di antero kota raja maka dengan mudah bisa ditemuinya, Al Ruki sangat gembira karena ia disambut sahabat masa kecilnya dengan penuh suka cita dan pelayanan bak di istana. Ia terkagum-kagum dan tidak berhenti melihat dan menikmati gelimang harta dunia sahabatnya, namun dari balik hatinya ia selalu berkata: “jangan larut…..jangan larut pada nikmat dunia, itu nikmat semu.” Berhari-hari ia jalani hidup dikota, ia merasa kesufiannya tidak begitu terganggu. Dalam pikirnya sekarang ia ingin mengajak sahabatnya untuk sebaliknya bertandang atau ikut ke tempat kediamannya tempat kehidupan kesufiannya di pinggiran kota.

Dengan senang Sang Runi mengiyakan dengan wajah yang senang ketika diajak sahabatnya untuk bertandang balik ke rumahnya di pinggiran kota, bahkan tanpa persiapan apapun, hanya dengan pakaian yang sedang ia kenakan dan beberapa bekal sekedarnya ia mengikuti kepulangan sahabatnya saat itu juga.

Perjalanan dua sufi bersahabat itu mengasyikan bagi mereka, jalan yang mendaki dan berliku tidak terasa penuh dengan canda dan tawa. Sesampai di rumah sufi Ruki yang teramat sederhana, lalu juga makan seadanya ternyata bagi sufi Runi sahabatnya yang biasa hidup bergelimang harta dunia ternyata tidak menjadi masalah. Runi tetap nampak kesufiannya. Suasana agak berubah ketika hari mulai malam, Al Ruki Nampak gelisah, hal tersebut membuat temannya dari kota bertanya.
“ Kenapa gelisah sahabatku ? ”
“ Rasanya tasbihku ketinggalan di kota,” jawab Ruki.
“ Kenapa harus gelisah ? “
“ Aku sangat menyukai tasbihku, “ jawab Ruki makin gelisah. Dia mengatakan bahwa tasbih itu telah menemaninya selama lebih dari 40 tahun selama proses kesufiannya. Kegelisahan itu bertahan hingga matahari terbit, wajahnya makin kusut, ia merasa komunikasinya dengan Allah terganggu tanpa tasbih kesayangannya. Temannya Sang Runi prihatin mendengar itu, bahkan sangat prihatin pada sahabatnya, ia membatin bahwa ternyata temannya yang merasa dan mengaku menjalani kesufiannya dengan jalan menjauhi nikmat dunia, agar ia lebih leluasa bercumbu dengan sang Kholiq, tetapi justru ia malah terjebak oleh sebuah ‘tasbih’ yang nilainya tidak seberapa. Alhamdulillah, walau aku bergelimang harta dunia aku tidak dijajah oleh hartaku, kata Runi bersyukur.

Apa hikmah yang bisa diambil dari cerita dua sufi itu ? Menurutku cerita itu minimal memberi pemahaman dan sekaligus mengingatkan kita, bahwa tidak ada jalan tunggal untuk dekat dengan Allah, ada banyak jalan. Kehidupan dunia adalah sebuah realita yang harus kita jalani, nikmat dunia yang sedikit, sedang-sedang atau berlimpah bukan ukuran seseorang bisa dekat dengan Allah. Ukurannya adalah bagaimana kita menyikapi terhadap nikmat dunia itu, bagaimana kita bisa tidak mendesain keduniawian kita untuk meraih barokah hidup agar makin kuat iman dan islam kita.

Sabtu, 31 Juli 2010

KIAT MELAYANI


Aku baca tulisan perdana pada blog temanku yang baru dipublis, aku tertarik, ternyata temanku satu ini tidak saja cantik ternyata juga punya bakat menulis. Sesuai kerjanya, tema tulisan teman berkaitan dengan kegundahan dia pada cara kolega dia dalam ‘melayani’ tamu-tamu dari luar negeri (baca: turis) yang sering kurang menyenangkan. Teman saya ini memiliki usaha sebuah jasa ‘rencar, tour & trevel’ di Jogjakarta dan dalam kerjanya tidak mungkin sendiri tetapi selalu bekerja sama dengan pihak lain terutama hotel, pengelola obyek wisata, atau sesama pengusaha lingkup jasa wisata.

Seperti yang ia ceritakan, keluhan terbanyak adalah menyangkut pelayanan yang tidak enak yang dilaporkan oleh pengguna jasa baik secara langsung maupun saat mereka sudah balik dan berada di negara asalnya, dan biasanya mereka berkomunikasi melalui email. Teman saya berharap kejadian tersebut bisa menjadi pembelajaran dan menjadi cambuk untuk niat berubah. Pariwisata Indonesia akan maju dan berkembang bila cara kita ‘melayani’ tamu-tamu wisata mampu memberi kesan yang menyenangkan hati mereka.

Memikirkan problem temanku, aku teringat pada cerita saudaraku yang jadi dokter yang selalu membanggakan pelayanan di tempat kerjannya ’sebuah rumah sakit’ di Jawa Timur yang sangat bagus pelayanannya dan masyarakatpun mengakuinya. Saya kira masyarakat atau insan pariwisata bisa mengadopsi prinsip-prinsip pelayanan yang diterapkannya. Rumah sakit itu menerapkan enam prinsip melayani, yaitu: charity, competence, care, commitment, continuous, dan consistent. Bagaimana sih jabarannya.

Dalam melayani kita harus ‘charity’ atau murah hati. Caranya dimulai dengan memahamkan diri, menanamkan pengertian dalam hati untuk mencintai pekerjaannya. Hanya dengan cara ini kita bisa bekerja dengan rasa tulus dan iklas, ketika melayanipun kita bisa dengan mudah tersenyum dan gembira. Energi murah hati akan menyenangkan yang dilayani, dan itu akan secara otomatis menjadi ‘bola salju’ promosi untuk kita secara gratis, karena mereka akan bercerita bagaimana indahnya negeri kita dan ramah serta murah hatinya kita.

Untuk pelayanan yang bagus dibutuhkan juga prinsip ‘competence’ atau penguasaan pada pekerjaan kita. Artinya penguasaan pekerjaan bidang kepariwisataan tentu tidak mungkin dipercayakan kepada sembarang orang yang tidak mengetahui hal itu, dan harus diberikan pada mereka yang kompeten di bidangnya. Bidang wisata tentu memiliki standart pengetahuan, standard skill, aturan main, atau prasarat. Pendek kata profesionalisme bidang pariwisata harus tercermin dan menjadi motivasi yang kuat untuk mematuhi dan menjalankan sebagaimana mestinya hal-hal itu.

Untuk melayani dengan baik harus juga dibangun sikap ‘care’ atau peduli dan penuh perhatian. Kepedulian dan penuh perhatian akan tercermin pada sifat kita yang mudah ‘empati’ pada persoalan yang ada, kita selalu siaga dan selalu siap untuk memenuhi harapan dan kebutuhan tamu-tamu kita. Untuk itu memahami siapa mereka, kebiasaan mereka, kebutuhan mereka, pantangan mereka serta hal lain yang mukin tidak begitu penting untuk kita pribadi tetapi menjadi kunci seberapa jauh kita berlaku ‘care’ pada mereka.

Tidak kalah penting dalam melayani dibutuhkan sikap ‘comitmment’ atau tekad, kemauan yang kuat untuk merealisasikan janji. Harus diakui kebanyakan turis yang ‘gondok’ dan berkelu kesah karena problem menyangkut hal ini. Tidak sedikit cerita, bahkan penulis baru saja merasakannya beberapa hari yang lalu ketika tour ke Singapure, biro jasa tour & trevel tidak menepati janji sesuai kesepakatan awal, jadwal tidak ditepati, hak turis tidak dipenuhi, informasi sangat5 terbatas. Komitmen yang kuat tercermin pada kita yang jujur, terpercaya karena tepat janji dan selalu berupaya bekerja dengan tuntas dan memuaskan.

Mencitrakan baiknya ‘pelayanan’ kita harus pula dibarengi dengan prinsip ‘continous’, yaitu menjadikan proses koreksi, perbaikan dan menjaga kualitas layanan menjadi hal yang tidak pernah berhenti. Hal itu harus tetap terus terevaluasi, terus melahirkan semangat kerja, melahirkan harapan. Untuk itu semua yang terlibat harus sadar, harus mau menyediakan waktu untuk kerjasama, memiliki semangat berbagi yang besar dan selalu mengembangkan hubungan yang positif.

Terakhir untuk ‘melayani’ perlu juga dijaga dengan semangat ‘consistent’ atau menjaga tekad sepanjang waktu . Tercermin dari sifat penuh motivasi yang kuat untuk menggapai dan merengkuh cita-cita. Melayani bukan pekerjaan hina, tetapi justru merupakan pekerjaan mulia dan bermartabat, mereka yang bekerja pada bidang ini harus sabar dan tidak mudah putus asa. Ada pepatah Zen Jepang, bunyinya: ‘ Dunia ini seperti cermin. Lihat saja. Tersenyumlah dan teman anda akan tersenyum balik ! ‘. Nah, jadi ketika kita dengan tulus melayani orangt-or4ang yang harus kita layani, maka sebaliknya nanti akan banyak orang yang juga akan melayani kita.

Rabu, 28 Juli 2010

SAYANGILAH TUBUH


Tubuh kata teman baik saya di Batam harus disayangi . Rasa sayang harus terus dibangun dan ditumbuhkan, rasa sayang bukan berarti berujung pada memanjakan tubuh berlebihan hingga malah tidak fungsional, atau memberi ‘budget’ yang besar untuk perawatannya, bukan begitu maksudnya. Prinsipnya coba jangan paksa tubuh untuk melakukan apa yang kita inginkan di luar kemampuan tubuh, karena tanpa disadari kita sering melakukan hal yang berlebihan kepada tubuh, misalnya dalam laku : makan, minum, kerja, tidur, melebihi kewajaran lantaran faktor gengsi sosial, tuntutan, atau ketidakfahaman tentang hidup.

Dalam kontek biologi tubuh kita sesungguhnya adalah paduan organisasi dari materi kehidupan berupa protein, karbohidrat, lemak, asam amino dan lain-lain yang kemudian membentuk sel-sel tubuh, jaringan, organ, hingga menjadi individu (in devide : tak terbagi). Paduan organisasi itu bersifat kompleks, interdependensi, berkeseimbangan, dan berketerbatasan. Tidak itu saja sifatnya, masih banyak sifat yang lain yang menggambarkan ciri sebuah kehidupan. Dalam kontek tulisan ini saya ingin memfokuskan empat sifat di atas.

Memahami bahwa tubuh kita kompleks, baik dari struktur yang membangun, proses metabolisme yang menopangnya, mekanisme tumbuh dan berkembangnya, perilaku, dan lain-lain diharapkan menyadarkan kita bahwa tubuh kita rawan. Sesuatu yang komplek lebih rumit untuk kita benahi ketika rusak dibandingkan sesuatu yang sederhana. Kesadaran ini mudahan membuat kita hati-hati memperlakukan tubuh, jangan sampai ‘kekomplekan’ yang terjaga oleh ‘kesempurnaan penciptaan’ Sang Kholiq menjadi rusak dan menjelma menjadi ‘kompleksiatas’ tak terkendali.

Tubuh itu bersifat interdependensi, saling berkait dan bergantung antara bagian satu dengan bagian lainnya. Hal inilah yang memberi kekuatan tubuh yang komplek menjadi terorganisasi dengan baik, kesalingterkaitan itu meredusif satu sama lain sel-sel, jaringan-jaringan, dan organ-organ . Semua jadi bisa jadi saling koordinatif kapan, apa, di mana hal yang prioritas oleh tubuh didahulukan prosesnya, sementara proses yang lain menunggu. Pada kondisi normal semua patuh, tidak ada yang berontak berproses semaunya sendiri, tetapi juga ada yang memang terdoktrin untuk kerja dan kerja walau pada kondisi apapun, ada juga yang terpola hanya kerja kalau tubuh berada pada kondisi tertentu.

Tubuh itu berkeseimbangan, artinya tubuh memiliki kemampuan mengatur dirinya untuk selalu berada pada tingkat tertentu yang nyaman untuk tubuh. Ketika tubuh dipaksa kerja dan kerja, maka tubuh akan memberi sinyal kecapaian, rasa ngantuk, lemas yang semua mendorong tubuh untuk diistirahatkan. Ketika tubuh kurang asupan energi, dia akan memberi tanda rasa lapar, ketika tubuh diberi makan berlebihan tubuh akan menolaknya bahkan bisa sampai memuntahkannya. Karunia tubuh yang selalu menghendaki berada pada status berkeseimbangan menolong tubuh sendiri agar tidak mengalami kerusakan dan disorganisasi.

Sifat kompleksitas yang terkendali, saling terkait satu sama lain, serta berkeseimbangan pada tubuh tersebut tetap bukan hal mengekalkan. Seperti halnya mahluk Allah yang lain tubuh juga memiliki ‘keterbatasan’ yang harus dimaklumi dan difahami. Organisasi tubuh yang rapi, terkendali, mantap tetap tidak akan mampu bertahan jika berada atau ditempatkan pada keadaan ‘tingkatan’ di luar kapasitasnya. Daya adaptasinya akan hilang dan tubuh akan merusak, organisasinya akan kacau balau bisa mulai pada tataran sel, kemudian ke jaringan organ maupun akhirnya tubuh.

Untuk itu menyayangi tubuh menjadi penting, agar organisasi tubuh kita tetap baik, mantap dan terkendali. Beri waktu tubuh untuk terjaga kompleksitasnya, interdependesinya, keseimbangannya dengan jalan ‘memberi porsi’ fungsi dan hak istirahatnya secara proporsional. Secara sadar harus kita beri layanan pada tubuh untuk ‘refress’ secara sadar kepada tubuh. Konon dengan cara demikian tubuh akan memberi imbalan balik berupa kenikmatan hidup yang lebih indah dari kenikmatan seksual.

Sabtu, 17 Juli 2010

RASA MALU

Bila kita simak kondisi masyarakat kita saat ini tergambar situasi perbincangan atau pemikiran yang kurang menguntungkan berupa sederetan hal-hal yang kejadian buruk pada beberapa sisi aspek kehidupan bangsa ini, coba ingat kembali peristiwa-peristiwa, misalnya: skandal suap Artalita dan jaksa Urip, kasus bank Century, skandal Ketua KPK Antasari Ashar, perseteruan Polisi dan KPK yang popular dengan ‘cecak vs buaya’, korupsi Gayus Tambunan, video syur Ariel-Lunamaya, rekening petinggi Polri dan beberapa hal yang senada yang tidak terblouw up media. Semua itu menggambarkan hal negatif yang mendera bangsa dan negara ini.

Semua itu menggambarkan betapa memprihatinkan moralitas bangsa ini, orang-orang yang jelas-jelas salah masih mampu mengumbar senyum, terang-terang di hadapan media bermain kata-kata dan emosi membela diri. Ada yang dengan dalih terfitnah, menggunakan hak warga negara, pengembangan demokrasi, pengembangan wacana, sebagai korban politik, atau alasan lainnya, mereka membela diri dengan menyewa pengacara mahal dengan biaya hasil laku buruknya. Mereka tanpa ragu secara terbuka dan bangga berani menunjukkan sikap yang jauh dari rasa malu.

Hilangnya rasa malu mereka yang berlaku keliru, salah, jahat, kriminal di negeri ini sangat memprihatinkan karena bisa menggambarkan betapa toleransinya masyarakat pada kekeliruan, kesalahan, kejahatan, kriminalitas dan itu bisa juga merefleksikan kebenaran kecurigaan bahwa masyarakat tak berdaya atau masa bodoh pada penyelenggara negara dan sistem hukum yang lemah dan kotor. Masyarakat sudah apatis terhadap perubahan, apa yang sering muncul sebagai polemik di media lama-lama terasa sebagai ‘komoditas baru’ yang menjual pepesan retorika yang maaf ‘hangat-hangat tahi ayam’. Skandal suap Artalita berakhir dengan sel penjara yang mewah untuk sang pelaku, kasus Century yang dramatis di DPR ternyata tidak jelas penyelesaiannya, dan Mr. Blower Susno yang mengungkap korupsi ternyata juga kena imbas masuk penjara.

Semua itu, kata guru spriritualku bertumpu pada hilangnya ‘rasa malu’ kita atau tidak terhidupinya tradisi pembelajaran rasa malu kita. Rasa malu sebenarnya seperti tabir, kelambu, atau pagar yang melindungi diri kita untuk tidak atau minimal mengerem tindakan tercela. Orang yang kehilangan rasa malu akan berada pada kondisi tanpa beban, ringan untuk melakukan keburukan dan akan terus berada dalam keadaan gembira dengan keadaan seperti itu. Jika orang sudah tidak punya perasaan malu, maka segala perbuatan yang memalukan sudah tidak menjadi sesuatu yang memalukan dan mengaibkan.

Mending orang gila atau kurang waras, kita semua bisa memaklumi karena pemikirannya sudah terganggu. Tetapi untuk orang yang waras tapi melakukan tindakan tak waras yaitu dengan melakukakan perbuatan yang melanggar norma-norma tata hidup, sesungguhnya orang itu telah menjadi lebih gila dari orang gila. Keduanya, baik orang gila dan orang waras yang kehilangan rasa malu sama-sama telah kehilangan nurani kemanusiaannya yang selalu bicara dan membimbingnya melakukan hal-hal baik dan menghindari perbuatan yang buruk. Sedangkan bedanya orang gila akan diam dan tidak peduli dipersalahkan, orang waras yang sengaja salah akan menolak dipersalahkan.

Rasa malu harus dan perlu dikontruksi, dibangun dan ditata melalui pembelajaran dari masa kecil hingga dewasa. Orang harus diarahkan untuk bagaimana memiliki rasa malu untuk berbuat yang negatif, tetapi jangan malu untuk melakukan hal baik. Proses pembelajarannya tidak dengan oral saja tapi dengan pendekatan teladan. Beri contoh pada generasi muda perilaku yang baik, pengakuan dan penghargaan atas perilaku baik dan benar. Kepada yang salah dan melakukan tindakan tercela, kriminal harus diberi hukuman yang setimpal tanpa kompromi, yang akan menjadi pembelajaran untuk orang lain tentang 'rasa malu' .