Jumat, 21 Mei 2010

BAHAGIA



Bahagia apakah sama dengan senang ? Begitu pertanyaan seorang teman kepadaku. Menurutku konsep tentang bahagia dan senang jelas berbeda, bahagia memiliki 'value' yang lebih tinggi ketimbang 'senang'. Bahagia adalah sebuah penyikapan menerima terhadap apa yang kita dapatkan, kita alami, baik menyangkut hal menyenangkan atau menyedihkan. Sedangkan 'senang' konotasinya lebih ditekankan pada penyikapan akibat terpenuhi keinginannya kita. Orang yang hartanya melimpah ada bisa jadi merasa senang, ia bisa memenuhi berbagai keinginannya, tetapi ingat bahwa keinginan akan muncul dan muncul, dan harapan selalu datang, jadi belum tentu mereka bisa merasa bahagia. Mereka akan bahagia ketika kesenangan didapatkannya diikuti dengan rasa selalu bersyukur.

Jadi sikap bahagia itu bila kita cermati ia memiliki makna spiritual, suatu penyikapan yang berdimensi transendental, suatu keiklasan bersyukur pada Sang Kholiq yang menggiring pada ketenangan lahir dan batin, sementara senang tidak, ia hanya di pusaran lahir saja. Jadi sesungguhnya berbahagia itu kuncinya bagaimana kita mampu menyeiramakan pengalaman lahir dengan kesadaran batin. Orang merasa susah berbahagia karena ukuran bahagia itu dibingkai dengan rasa ingin terpenuhinya semua keinginan, padahal keinginan itu selalu muncul dan bisa berubah-ubah. Jadi bingkainya merupakan doktrin yang mustahil tercapai. Kondisi ini akan memunculkan sikap rasa tidak puas, tidak percaya diri, rasa kuatir, dan akan makin kuat ketika pengalaman masa lalu menjadi bumbu justifikasi munculnya keragu-raguan dan kebimbangan untuk dapat mencapai kebahagiaan.

Bahagia dan tidak bahagia sesungguhnya kalau kita cermati itu adalah merupakan pilihan. Bahagia dan tidak bahagia adalah sebuah penyikapan kita menyangkut pengalaman hidup yang kita alami, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Karena sebuah pilihan, maka bahagia dan tidak bahagia adalah produk dari 'pelabelan' kita sendiri. Orang senang dan orang sedih bisa sama-sama bahagia ketika mampu menemukan pemaknaannya. Hakekat kausalnya, bahagia datang bukan dari luar diri tetapi datang dari dalam diri, artinya kalau kita berharap kebahagiaan itu harus datang dari luar diri kita maka hal itu adalah keliru.

Untuk itu belajar menyikapi 'pengalaman' yang menyertai kehidupan kita, melahirkan semangat untuk memberi ruh 'spiritual' pada hal-hal itu adalah hal penting yang harus kita lakukan. Sehingga hal negatif yang sebelumnya sering timbul, seperti rasa tidak puas, kekuatiran, kegundahan harus kita konversi menjadi 'energi' untuk menata ulang sikap-sikap, harapan, cara kerja, dan komunikasi spiritual kita. Kalau kita tidak mampu mengkonversinya hal negatif itu maka ia akan menjadi energi perusak yang akan membawa kita mudah menyerah, jatuh sakit, depresi, atau hal-hal lain yang menjauhkan kita dari ranah kebahagiaan.

Setidaknya itulah, sebuah perenungan yang tiba-tiba menyeruak di benak pikiranku yang perlu aku ladeni pasca menyelesaikan beberapa aktivitas di dua kota Surabaya dan Malang yang menyedot pikiran dan tenagaku akhir-akhir ini. Ternyata ketika aku mencoba belajar membangun kesadaran diri, intropeksi terhadap makna 'kemanusiaan' , belajar melabel secara filosofi dan spiritual pengalaman hidup, mengkonstruksi bangunan keluarga, menjaga persahabatan dan membangun komunikasi sosial, lalu juga konsistensi menjaga tubuh agar sehat dengan tetap hash, sesekali juga menghibur diri dan memanjakan diri, adalah hal yang membuat aku 'bahagia'. Bagaimana anda ?

Kamis, 06 Mei 2010

MARAH BOLEH KOK



Ada orang, atau sekali-kali aku mau gunakan terminologi 'engkau' saja ya. Hmmm.... Engkau bukan pemarah, engkau peramah, sopan dan dengan mudah memberi senyum pada mereka yang dikenalnya. Semua orang merasakan ketika berinteraksi dengan engkau, yang terasakan adalah kesan tipologi wajahmu yang mampu mengelola rasa yang menyejukan dan lebih kooperatif. Itulah kelebihan engkau. Seribu satu teman yang pernah melihat engkau berekspresi marah, apalagi mimiknya seperti di gambar atas.

Kebanyakan orang tentu setuju bahwa wajah yang teralu akrab dengan tipologi tertentu dan jarang mengekspresikan penggambaran emosi lain terutama yang bertentangan dengan emosi biasanya, Misalnya ekspresi marah, sedih, dan lain-lain. Tentu keadaan ini akan menyulitkan orang melihat, memahami dan kemudian membedakan yang bersangkutan sesungguhnya pikiran dan kecamuk batinnya sedang pada ekspresi apa. Bayangkan, jengkel pun masih tersenyum, sakit perut tidak mengeryit, mau pinsanpun masih bisa bergurau, tidak setuju tapi tidak ada mimik menolak, rindu tapi biasa-biasa aja. Bagaimana orang mau menerjemahkan kondisi sebenarnya ekspresi model sosok seperti ini. Dan itu aku jumpai pada 'engkau' .

Menariknya, bahwa sesungguhnya walau engkau lekat dengan ekspresi harmoni tertentu itu, seperti ramah, mudah tersenyum, tapi ada yang lupa teramati orang lain yaitu kadang 'pilihan kata' yang diucapkan, nada dan penekanan serta pola komunikasi yang muncul masih menunjukan kelugasan emosi yang sebenarnya, belum terbiasa mengikuti mimik muka yang sudah mewatak. Tetapi jangan heran bahwa fenomena inipun, kadang ketika dikonfirmasikan ke 'engkau' , maka sering dengan mimik yang sejuk meyakinkan akan menampiknya, bahwa itu tidak benar. Tetapi kalau sabar sedikit dan tekun aku ajak engkau bicara, maka 'emosi' yang sebenarnya akan keluar dari bibir, atau terekspresi dengan sendirinya.

Sesungguhnya 'sosok wajah' dengan harmoni kelembutan, keramahan tentu menjadi dambaan setiap orang normal yang ingin mempunyai 'nilai' secara sosial. Kenapa ada kursus kepribadian yang perlu diikuti oleh pejabat publik ? Ya, alasannya tidak jauh dari diperlukannya perangai yang terjaga untuk 'bernilai' menyenangkan, mengesankan orang lain. Tetapi menata perangai tidak harus mengelabui diri sendiri , mengorbankan perasaan diri sendiri, dan buntutnya juga merugikan diri sendiri. Ekskpresi jujur yang kontra dengan 'perangai lembut' tidak haram untuk ditampilkan, kita diberikan anugerah rasa dan ekspresi 'marah, cemburu, sedih, ' untuk bisa kita kelola menyempurnakan hidup.

Omong-omong, rasanya aku juga cenderung seperti engkau (masa ? ramah nggak, sopan hmmmm, murah senyum wo..., mulai menyembunyikan perasaan ya). Tapi.....He....he...he, itu karena sekarang aku banyak belajar pada kau ! Kemarin aku ketemu guru lakuku ia menasehati aku, mungkin bisa kau adopsi juga mungkin. Beliau berkata: "Berekspresi marahlah ketika engkau sedang marah, bersedihlah engkau saat ingin bersedih, tertawalah engkau kalau ingin tertawa. Yang penting engkau sadar, pada siapa, atas alasan apa serta kapan kau harus marah, harus sedih serta harus tertawa". Menyembunyikan harapan dan keinginan ekspresi tubuh sama saja memendam energi potensial tubuh yang pada saatnya bisa jadi bom waktu.

Senin, 03 Mei 2010

DENGAN SENANG HATI


Aku punya dua orang teman yang perangainya benar-benar bertolak belakang, kalau disitir dari cerita pewayangan barangkali dapat ditelusuri mungkin secara genetis mereka berdua tertirah dari dua trah gen yang berbeda yaitu : trah Astina dan trah Kurawa. Kalau keduanya bertemu selalu terjadi 'perang' yang tentu di landasai akibat perbedaan aktivitas ekspresi gen yang berbeda itu. Walau kelihatan diampun, mereka sesungguhnya sudah berseberangan pikirannya, yang satu cenderung berpikir positif dan yang lainnya berpikir negatif.

Berbagi cerita tentang perilaku teman yang jelek dari trah Kurawa saya pikir bukan hal yang utama, tidak baik menggunjingkan kejelekan teman. Maka ijinkan aku mau cerita tentang teman yang satunya saja, yang cenderung memvisualisasikan sosok yang mungkin bisa jadikan 'guru laku'. Konon lebih baik kita belajar dari pengalaman orang lain dari pada kita harus mengawalinya, harus kita akui berjalan di jalan yang sudah terbangun lebih mudah dari pada kita harus mengawali membuat jalan sendiri, kita harus menebas semak belukar, mengikis batu karang dan lain sebagainya.

Sisi baik teman yang ingin aku soroti pada tulisan ini adalah mengapa ia nampak melakukan banyak hal selalu bisa dilandasi dengan rasa 'senang hati' ? Siapapun mengakui bahwa satu teman itu, memiliki banyak sahabat dan bisa berkomunikasi baik dengan siapapun, sekalipun dengan mereka yang berseberangan pemikirannya. Ada hal menarik ketika aku bertandang ke tempatnya, Ada lukisan semi abstrak motif kaligrafi yang awalnya saya pikir itu benar-benar kaligrafi arab, eh... ternyata tulisan biasa. Ketika kita simak benar, akan terbaca: .....don't try to have thing that you love, .....but try to love thing that you have.

Dari kata-kata dalam lukisan itu, aku mulai mengajak tukar pikiran tentang hidup dan kehidupan. Menurut sang teman baik ini, semangat utama yang perlu dikembangakan untuk merengkuh kebahagiaan yang seluas-luasnya adalah ' bersyukur'. Orang sering lupa pada apa yang dimilikinya, apa yang telah dianugerahkan Allah padanya. Benar, ketika kita telah memdapatkan 9 dari 10 hal yang kita inginkan, pikiran kita tidak tercurah pada mensyukuri 9 yang telah kita peroleh tetapi justru terfokus pada 1 hal yang belum kita dapatkan. Dengan membiasakan bersyukur, rasa ketenangan akan terbangun dan hal itu akan membuat kita bisa menjalani hidup dengan hati yang senang.

Sang teman menyitir kata-kata sang bijak Imam Gozali yang intinya mengatakan: "Kebahagiaan yang sebenarnya dan lagi utama terletak pada kemenangan kita dalam memerangi hawa napsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan". Maka dari itu membangun diri harus dilihat dalam kontek 'tidak untuk sendiri'. Pengembangannya perlu dengan semangat intropeksi, cobalah melakukan apapun dengan 'senang hati' agar feedbacknya juga bersenang hati. Upayakan kita sukses dengan melibatkan dan mengajak orang lain juga menjadi sukses. Berbagilah menyangkut hal yang baik, agar kebaikan itu tumbuh seperti virus merambah ke mana-mana, sehingga atmosfir kita makin menyenangkan.

Laku bersenang hati lahir dari semangat mencoba menikmati (baca: mensyukuri) apapun yang harus kita alami. Kalau kita tidak rajin menyuburkan rasa suka hati, siapa lagi yang harus melakukan. Bayangkan kit berada dalam bus tanpa ac lalu terjebak dalam kemacetan, kita diburu waktu untuk suatu acara, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasinya. Kalau kita jengkel, mangkel, marah akan banyak energi positif hilang dan kita akan dikuasai energi negatif yang makin menyesakan dada, sakit hati dan waktu jadi terasa panjang. Tetapi ketika persepsi kita rubah dengan semangat 'nikmati aja', misalnya dengan mengajak diskusi hal yang menarik dengan teman di sebelah kita, atau mengabadikan (memotret, menulis) momen itu atau menelepon teman, maka suasana hati tidak akan begitu gundah, lalu kita belajar bisa menerima kenyataan tak terduga itu. Itulah hidup.

Rabu, 14 April 2010

LOGIKA CEMERLANG


Pada halaman 40 buku kecil berjudul ‘Menjelajah Angkasa Luar’ karya Kh. Bahaudin Mudhary terbitan Pustaka Kreatif tahun 1989 (cetakan ke-5, pertama tahun 1966), tertulis kalimat: “ Jika tenaga atom yang berasal dari benda mati dapat menggerakan benda-benda yang besar sekalipun, maka tenaga atom yang berasal dari benda hidup, yakni ‘rohani manusia’ tentu lebih mampu, dari tenaga atom untuk menggerakan benda-benda”. Menurutku kalimat tersebut menggambarkan daya logika yang cemerlang dari penulisnya. Sebetulnya masih banyak kalimat dalam buku tersebut yang pasti akan menguatkan pendapatku tentang kecermerlangan logika sang penulis.
Logika di atas sesungguhnya merupakan sebuah logika sederhana tetapi mendalam, mengajak pembaca untuk merenungi sekaligus menyadari bahwa setiap manusia sebagai mahluk hidup memiliki energi potential yang lebih besar dari benda mati, sayangnya energi itu banyak tetap sebagai energi potensial yang tidak atau belum tergunakan. Manusia umumnya masih hanya menggunakan energi yang 'kasad indra' saja, padahal manusia mempunyai 'energi lain' yang bisa dikelola untuk mengatasi problematika hidupnya secara lebih bermakna.
Aku jadi ingat guru spiritualku waktu aku masih kecil dulu almarhum Ustadz Maulana serta kakekku Muhammad Ikhsan, beliau bukan orang keluaran pendidikan formal tetapi ‘laku hidupnya’ mencerminkan kekayaan ‘ilmu’ dan ‘ngelmu’ yang dimilikinya. Almarhum Ustadz Maulana selalu mengajarkan kepada jamaahnya termasuk aku bagaimana beriman dengan iklas, merengkuh ‘energi’ hidup dengan dzikir, dan bagaimana mengelola rahmat. Sementara kakekku yang paling membekas bagaimana beliau acap kali memberikan pengalaman-pengalaman supranatural berupa kemampuan mengobati orang-orang tercintanya dengan laku sederhana berupa doa dan usapan ibu jari ke kening atau cara lain yang sekarang sepertinya lebih dikenal dengan terapi metafisik.
Kedua guru spiritualku dulu sepertinya mungkin ingin menyampaikan apa yang sekarang aku baca dari pikiran KH. Bahaudin Mudhary, bahwa manusia dikaruniai dua jenis tubuh, yaitu tubuh kasar dan tubuh halus. Jasmani dan rohani, yang masing-masing memiliki indera sendiri-sendiri yaitu indera lahir dan indera batin. Indera lahir mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan alam kecil (mikrokosmos) yang cenderung nyata, sedangkan indera batin mempunyai kemampuan untuk menghubungkan ide dengan dunia luar atau jagat besar (makrokosmos) yang cenderung abstrak atau transendental, sesungguhnya manusia adalah mahluk paling sempurna. Kita semestinya mampu mengoptimalkan penggunaan ke dua karunia tersebut, sehingga kita akan memiliki kesadaran lahir dan kesadaran batin yang akan membimbing kita memahami permasalahan hidup kita yang jelas-jelas menyangkut hal-hal yang nyata dan abstrak atau tidak masuk akal.
Jadi membaca buku metafisis ini perlu menjadi momentum untuk perbaikan diri, kayaknya aku menjadi diingatkan kembali untuk mulai lagi menyadari, mengenal, merasakan, mengelola totalitas kepemilikan indra lahir dan indra batin. Rasa syukur selalu aku panjatkan kepada Sang Akbar yang memberi kelengkapan indra lahir, aku sadari kehilangan satu indra saja sudah menjukkan kepincangan hidup yang cukup menyusahkan. Alhamdulillah, rasanya aku juga tidak memiliki gangguan rohani yang merepresentasikan adanya kebebalan indra batin. Indra batinku rasanya masih potensial aku bisa kelola dan fungsikan. Belakangan tanpa sadar, aku lebih inten terdorong mulai lagi menggunakan indra batinku dalam aktivitas ‘kontemplatif’, gerak hati, ibadah, bersahabat, walau itu jelas masih kurang.
Aku merasa sang penulis buku yang konon mempunyai kemampuan berbahasa Arab, Inggris, Belanda , Jerman dan Prancis ini, telah berhasil menggabungkan kemampuan indra lahir dan indra batin yang dimilikinya. Ini contoh ‘orang berilmu’ yang sebenarnya yang mampu membangun logika emas atau logika cermelang yang menjembatani tidak sekedar menyangku pemahaman pengetahuan dunia nyata saja tetapi juga menyangkut pengetahuan dunia abstrak.
Selama ini kita sangat didominasi oleh cara berpikir rasional yang hanya toleransif pada hal nyata tidak termasuk yang abstak. Sehingga sering kita menyepelekan hal-hal yang abstak dan tidak rasional. Padahal kalau kita sadar bahwa sumber pengetahuan adalah satu yaitu dari Allah SWT, maka dikotomis dominasi pemikiran itu semestinya tidak perlu ada. Untuk itu mari kita sadar, siapa sih tidak ingin memiliki ketajaman indra lahir dan indra batin, kesadaran lahir dan kesadaran batin, karena kepemilikan itu yang akan berimplikasi melahirkan kebahagian lahir dan kebahagiaan batin.
(Terima Kasih Buat Bu Dian Atas Pinjaman Bukunya).

Sabtu, 10 April 2010

GOLDEN MOMENT



Ini seperti cerita dunia 1001 malam, kalau aku diminta komentar tentang cerita itu, rasanya aku akan menganggap juga ini sebuah cerita pepesan, cerita bohongan yang keluar dari seorang teman yang rupanya pikirannya lagi krodit alias stress lantaran tugas-tugas belajar di S3. Sebutlah nama temanku Mat Yudha, ia bercerita tentang bagaimana ia bertaruh dengan sahabat karibnya. Botokan gaya mahasiswa kawakan kalau yang kalah harus mbayari makan dan nonton film. Lalu bertaruh apa ?

Nah, begini ceritanya. Mat Yudha dengan sahabatnya yang 'dia rahasiakan namanya' sudah lama berbeda pendapat tentang 'poligami'. Bagi Mat Yudha walau dia mengakui suka melirik wanita cantik tetapi ia orang yang konsisten pada kelebihan ikatan hidup monogami, ia berpendapat poligami itu 'menyakiti dan menyakitkan', tidak ada kebahagian bersama dalam poligami. Sementara temannya yang memang dari keluarga poligami, ia mengatakan ada kebahagiaan bersama dalam poligami. Mat Yudha bertaruh, kalau temennya dalam satu bulan bisa menunjukkan bapaknya bisa mengajak ke 4 istrinya bersama dalam suatu momen di luar rumahnya. Maka temannya dianggap menang taruhan dan berhak menentukan makan dan monton film apa dan di mana.

Kamis sore di awal bulan April yang baru lalu, handpone Mat Yudha berdering cuma sebentar lalu mati. Miss call dari temannya. Ketika dinyalakan hpnya ada sms masuk yang belum dibuka, rupanya miss call itu cuma memberi tanda agar Mat Yudha segera membacanya SMS tersebut. ' Yud, sore ini loe gue ajak nglencer ke SUTOS, mbuktiin babe gue 'poligaminye' beda, ok ?'. Hm.... sms bergaya tutur Betawi itu membuat penasaran, dan ia pertanyaakan kepastiannya pada temannya yang memang ada darah betawinya. Ia jadi tambah penasaran dan mengharap waktu berjalan lebih cepat ketika sahabatnya memastikan: ya.

Jam 5 sore Mat Yudha sudah dijemput temannya dan meluncur ke SUTOS, sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya Barat Daya yang belum begitu ramai namun megah. Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak saling bicara, mereka saling penasaran sendiri-sendiri. Sempat di kepala Mat Yudha terbersit pikiran ia jangan-jangan cuma diakali oleh teman satu ini, hanya diajak nglencer lalu buntut akhirnya ia yang disuruh mbayari segalanya setelah nongkrong di cafe, seperti biasanya.

+ " Kamu gak boongi aku kan ? " Mat Yudha buka suara ketika masuk parkiran SUTOS.
- " Percayalah, hari ini gua mau tunjukkin lu 'golden moment', biar mata lu kebuka lebar ".
+ " Oke, mari kita lihat !"

Tiba-tiba tangan Mat Yudha diremas keras oleh temannya, ia nyengir ke temannya, perhatiannya ke cafe-cafe yang belum ramai dan biasa ramai cuma di akhir pekan oleh anak-anak muda yang mendominasinya, buyar. Matanya dibimbing telunjuk temannya ke bawah balkon Cinema yang berjejer maniken-maniken dengan baju yang trend-trend, didekatnya kulihat sang bapaknya yang beinitial BS bersama ke 4 istrinya. Satu istri yang paling muda menunjuk pada daster cantik motif lembut, istri yang lain mengomentari dan BS tersenyum-senyum. Kerongkongan Mat Yudha kering, tidak bisa bicara, tertegun pada hal yang tidak terbayangkan sebelumnya. Benar, dia dipertontoni adegan kebahagiaan bersama, ke 4 istri itu fusif, tidak ada batas dan kecanggungan di antara mereka, mereka kadang saling bisik-bisik sesamanya, tidak beda istri tua atau muda.

Kalau momen itu dibilang momen istimewa (baca: golden moment) menurut teman taruhannya, tanpa berdebat Mat Yudha akhirnya mengakuinya benar. Sangat sulit dijumpai peristiwa keakraban seperti itu. Dalam memori pikirannya perempuan menurutnya tidah mudah menerima untuk diduakan, dianggap bukan yang utama, ternyata dihadapan matanya hal itu bisa terjadi, seolah mereka sanggup berbagi. Tapi itu kan gambaran fisik, jangan-jangan di masing-masing wanita itu masih ada gejolak membara kecemburuan, rasa iri dengki, cuma mereka mampu menutupinya dengan perangai fisiknya. Pikiran seperti itu cuma berkecamuk di dalam pikirannya.

Dalam kondisi keterheranan yang masih belum terjawab, Mat Yudha tambah terheran ketika ia diajak membuntuti mereka yang ternyata menaiki tangga dan masuk ke Cinema. Dari balik kaca mereka terlihat saling berkomentar tentang film yang hendak ditonton, dan ternyata dengan mudah mereka memutuskan pilihan untuk bersama menonton ' My Name is Khan' di teater 4. Sebuah film yang bicara tentang umat Islam di Amerika yang berjuang untuk tidak ikut dicap dan dianggap sebagai teroris pasca peledakan WTC 11 September dulu. Padahal alternatif film lainnya juga bagus-bagus. Akhirnya Mat Yudha mengaku kalah dan menerima resikonya, temannya ngajak makan di cafe Toraja dan malam minggu depan mau nonton 'Dragon' sebuah film 3 dimensi baru.

Bagi aku, cerita Mat Yudha masih 'not logic', bisa saja itu imaji ideal atau guyonan. Tapi tidak usah diperdebatkan, mari kita lihat hikmahnya saja, aku kira kita memang tidak boleh 'nggebah uyah' kalau menurut bahasa jawanya. Pukul rata, menganggap sama pada semua atau sesuatu hal. Sang pencipta akan selalu bisa menunjukan kelemahan kita, kecongkakan kita, dengan menunjukan realita yang tak terbayangkan sebelumnya bahwa hal itu mungkin saja terjadi. Kenyataan sesuatu pasti ada kekhususan dan perkecualian atau tepatnya anomalisnya, tapi apapun itu juga realita yang juga harus bisa diterima. Mungkin, yang terpenting bagaimana kesadaran bisa kita bangun , sehinga kita mampu berpikir, berbuat, bila kita berada pada komunitas sosial kita semestinya berendosimbion untuk tidak saling menyakiti, tetapi menjadi energi sehingga kepenatan, kebosanan, rasa frustasi yang acap kali hadir menyengsarakan kita malah kemudian menjadi gairah baru, semangat baru. Kata teman yang telah mampu merasakannya, 'waktu terasa berlalu cepat', karena tidak membosankan dan hidup menjadi berwarna.


Senin, 29 Maret 2010

SELF AWARENESS




Ini namanya gayung bersambut. Betapa tidak ! Tulisanku berjudul 'bercermin' ternyata kebaca teman lamaku yang terbilang dulu 'istimewa' buatku. Dia merasa disinggung. Lebih tepat nada bicaranya sesungguhnya bangga, dia mengatakan 'hai kamu masih ingat aku rupanya ?'. Prinsip aku happy, dia beralasan karena memang dia benar-benar takut cermin. Dari 'bercermin' munculah 'cermin diri', dan kali ini beberapa temanku memberondongkan amunisi pertanyaan menyangkut hal sekitar itu. Salah satunya bertanya bagaimana kita bisa menemukan gambaran 'jati diri' yang jelas, bisakah kita merubahnya sesuai dengan yang kita inginkan ?
Aku ingat, ada seorang teman memiliki permasalahan dengan keacuhan diri pada kondisi fisik dirinya yang mulai mengembang ke samping dan kondisi perut menggelembung. Dan ia akan gerah, ketika sahabat-sahabat mengingatkan pola hidupnya, teman ini dengan pandainya akan menerangkan berbagai kesibukannya yang seolah-olah menjadi penyebab 'sedikit obesitas' dirinya, ia akan mendebat kalau ada yang mendesaknya, bahkan kalau perlu balas menyerang. Cara mengelak tersebut tidak disadari menjadi pilihan ia 'menjauhi kesadaran' akan kekurangan dirinya.
Padahal jika direnungkan, sapaan orang lain menyangkut kondisi fisik kita sesungguhnya menggambarkan harapan orang lain terhadap diri kita yang positif dan hal itu kalau diakui secara jujur sesungguhnya sama dengan harapan kita. Sesungguhnya hal itu hanya menyangkut permasalahan kesadaran berpikir dan kesadaran berbuat saja. Menyadari kelemahan sesungguhnya bukan hal buruk, tetapi harus diyakini justru merupakan kelebihan kita. Pada posisi seperti itu kita bisa mendorong energi kita untuk berupaya bagaimana menyeimbangkan antara harapan dan kenyataan, sehingga kita melakukan perubahan diri.

Ruh bercermin untuk menggali kejelasan jati diri adalah 'kesadaran dari ketidaksadaran'. Kosa kata modern menyebutnya 'self awarness' yaitu suatu kemampuan bagaimana kita bisa melihat pola pikir, perilaku kita yang berada di fenomena 'ketidaksadaran' dan mengangkatnya serta menempatkannya dalam alam kesadaran. Karena dengan cara menyadari barulah kita bisa 'mengatur'nya sesuai keinginan dan harapan kita. Untuk bisa sadar dan menyadari dibutuhkan ketajaman persepsi dan observasi terhadap diri sendiri, baik pada aspek fisik maupun mental serta psikologis yang mewarnai dalam diri kita.

Untuk teman yang memiliki permasalah kondisi fisik di atas tentu harus diawali dengan kesadaran akan harapan dan kemampuan diri yang realistis, ini akan membantu melahirkan keputusan dan sikap yang pas, melakukan perubahan kegiatan dengan skala prioritas, tentu jangan lupa untuk mengembalikan sosok ideal anda 'seperti kondisi dulu sebelum menikah' perlu ada program 'diet' dan olah raga terprogram yang dilakukan secara konsisten, 'dinikmati', sehingga terasa enteng dan happi. Konon kata yang sudah menjalaninya, tantangannya cuma di awal ketika seseorang baru akan memulainya.

Selanjutnya, ringankan perasaan dengan meyakini yang bermasalah bukan kita saja bahwa tiap orang dilahirkan dan hidup di dunia memiliki permasalah sendiri-sendiri, ada yang memiliki kemampuan komunikasi yang jelek, ada yang memiliki permasalahan cinta, ada yang memiliki permasalahan kesehatan, ada yang memiliki permasalahan seksual, ada yang memiliki permasalahan penghasilan, ada yang memiliki permasalahan rupa, ada yang memiliki permasalahan kebiasaan dan lain-lain. Bila permasalahan itu tetap dibiarkan menjadi misteri, kesadaran diri tidak akan lahir, maka hal itu akan merugikan kita sendiri lantaran keadaan akan menjadi sulit berubah.

Kata orang bijak, bahwa self awarness akan mudah digapai dengan jalan kontemplatif, suatu upaya 'mengosongkan' pemikiran, pandangan dan pendapat mengenai diri sendiri, sehingga kita bisa lebih transparan menelanjangi diri kita yang sebenarnya. Janganlah kita mengembangkan harapan yang tidak terselesaikan, jangan kita membangun selubung yang menutupi kelemahan dan kekurangan kita, jangan kita lupakan kesadaran, jangan kita lupakan teman yang mengkritisi kita dengan perhatian dan keiklasan , jangan nafikan kecintaan dan harapan orang-orang terkasih kita, selalu sadar bahwa kita manusia biasa, mahluk yang memiliki segudang kekurangan (-) dan kelebihan (+). Maka Ayo Bercerminlah.





Selasa, 23 Maret 2010

CERMIN DIRI



Ketika aku tulis tentang 'bercermin' beberapa waktu yang lalu, beberapa hari setelah itu aku mendapat senyuman manis dari sahabatku yang merasa tergelitik, ia senang dan berterima kasih dapat sapaan atau kritikan atau apalah, yang jelas ia merasa mendapat hal positif dari aku, katanya disela senyumnya. Aku jadi tertegun, dalam hati aku bertanya, apakah sikap ' senyum menerima, bahkan tutur berterima kasih' bisa menjadi 'cermin diri' atau perlambang kematangan, kedewasaan dan sikap bijak diri pada sahabatku ini. Konon kata orang bijak salah satu ciri orang yang matang dan dewasa pemikirannya ditandai dengan mau menerima dan cenderung berterima kasih ketika ada saran dan kritik yang ditujukan pada dirinya.

Menurut kiai kondang AA. Gim, sahabatku ini termasuk sebagai orang yang telah bisa memahami tutur dan perasaan orang lain. Atau jelasnya sahabatku tahu maksudku, tahu tutur dan buah pikiranku yang aku tuliskan sebagai 'ketakutannya bercermin' di blog ini. Aku yakin sahabatku yang suka berdiam diri, cenderung mau mendengarkan, telah mencerna maksud terdalam dari tulisanku. Artinya sahabatku memang 'diam tapi aktif', walau diam tapi pikirannya berjalan. Kata orang tua ciri demikian juga menunjukan ciri orang dewasa dan bijaksana. Orang yang tidak dewasa dan tidak bijaksana bisa saja akan menganggap hal itu tindakan 'mencela atau membuka aib dirinya', sehingga mendorong lahirnya rasa tidak suka dan tindakan kritik balik atau balas mencela.

Ada cerita lain tentang seorang temanku lain, yang katanya sering mengaku dewasa, tetapi kalau dilihat dari perilakunya sebagai 'cermin diri', kebanyakan teman-teman beranggapan justru tidak menunjukan tanda-tanda kedewasaan dan kebijaksanaan. Misalnya omongannya seperti anak kecil, kata-katanya tidak merupakan kata yang terpilih, sehingga minus kesantunan, kurang bermakna, sering mengandung makna negatif, mudah marah dan tersinggung. Ada kecenderungan misalnya ketika seseorang menasehatinya atas suatu kesalahan yang jelas diperbuatnya, ia tidak bisa menerima dengan iklas, bahkan sering jawabnya cenderung 'mengaburkan permasalahan' malah bahkan balik menasehati bahkan sering 'menyudutkan' pada yang menasehatinya.

Ternyata untuk menjadi dewasa dan bijaksana memang tidak mudah. Ada pepatah bahwa 'setiap orang sudah pasti akan tua, tetapi tidak semua orang akan dewasa, karena dewasa adalah pilihan'. Bagaimana kita bisa menjadi dewasa ? Kata sang bijak, bahwa orang akan menjadi dewasa manakala orang itu bisa mengendalikan pikiran, perasaan dan tidakannya. Sehinga akan tercermin dari sikap yang kemudian menyertainya yaitu : 'hati-hati, tidak ceroboh atau sembrono, diam tapi aktif , sabar, tenang, mantap, stabil, amanah dan bertanggung jawab'.

Sikap lain yang menjadi cermin dewasa dan bijaksananya orang adalah seberapa besar 'empati' dan 'mau berbagi'-nya seseorang. Semakin orang mementingkan diri sendiri berarti semakin tidak dewasanya orang tersebut. Untuk mengasah kemampuan ini orang harus belajar memahami perasaan dan harapan orang lain, artinya kita perlu 'energi sosial' yang harus kita sisihkan, kita bagi dengan iklas. Sikap kekanakan yang mau menang sendiri, tidak mau tahu, cuek yang cenderung melekat pada diri anak kecil harus kita hilangkan seirama dengan usia dewasa kita. Kita mesti harus berani membuka hati kita agar dapat memahami hikmah di balik yang nampak, hikmah di balik kejadian apapun dengan sikap terbaik kita. Itulah cermin dewasa dan bijaksananya kita.