Senin, 30 November 2009

EPISTEMIK DEDUKSI


Ketika aku lagi membuat presentasi kualifikasi, pikiranku yang semula mengalir dari satu tahapan ke tahapan lain, tiba-tiba buntu. Tahu-tahu tumpul ketika ada pertanyaan apa itu Epistemik Deduksi ? Kan ketika kita memaparkan kerangka konsep tentang penelitian yang akan kita lakukan, kita mesti harus mampu meresum sesungguhnya apa epistemic deduksinya ? Pertanyaan itu tidak mungkin terjawab manakala kita sendeiri tidak tahu apa itu epistemic deduksi. Ya kan ?


Disimak dari kata yang menyusunnya berasal dari kata ‘epistemik’ dan ‘deduksi’. Epistemik berkait dengan terminologi epistemology yaitu maknanya berkaitan dengan bagaimana pengetahuan dicari, sedangkan deduksi bermakna proses mencari pengetahuan yang dilakukan dengan metode bagaimana cara melihat dan menyimpulkan suatu persoalan yang dimulai dari pernyataan yang bersifat umum menuju kepada pernyataan yang bersifat khusus. Dengan demikian epistemic deduksi adalah ‘bagaimana membuat kesimpulan khusus yang dihasikan dari kasus-kasus yang bersifat umum.


Masih ingat kuliah filsafat ilmu yang lalu, bahwa Untuk mendapatkan pengetahuan baru bisa dilakukan dengan dua cara : pertama dengan metode induksi, yaitu sebuah metode bagaimana cara melihat dan menyimpulkan suatu persoalan yang dimulai dari pernyataan yang bersifat khusus menuju kepada pernyataan yang bersifat umum. Bagaimana membuat kesimpulan umum yang dihasilkan dari kasus-kasus yang bersifat khusus atau individual.


Untuk menajamkan pemahaman tersebut, kita ambil contoh misalnya : besi jika dipanaskan akan memuai, timah jika dipanaskan akan memuai, seng jika dipanaskan akan memuai, emas jika dipanaskan akan memuai, perak jika dipanaskan akan memuai, tembaga jika dipanaskan akan memuai. Dari pemahaman itu maka secara umum bisa disimpulkan bahwa : Semua logam jika dipanaskan akan memuai.


Penyimpulan secara umum dilakukan dengan melihat dan meneliti kasus-kasus khusus dari beberapa sampel yang mempunyai sifat sejenis, baru kemudian dibuat suatu kesimpulan yang umum. Pendekatan proses mendapatkan pengetahuan ini dianggap sebagai metode yang paling praktis, karena untuk menyimpulkan bahwa ‘semua logam jika dipanaskan akan memuai’ kita tidak perlu lagi meneliti semua jenis logam yang ada di alam semesta ini.


Cara kedua untuk mendapatkan pengetahuan adalah dengan metode deduksi, metode ini adalah kebalikan dari metode induksi, yaitu dari memahami pernyataan yang bersifat umum, menuju kesimpulan yang bersifat khusus. Kita ambil contoh tetap dengan kasus logam, bahwa kita sudah memiliki pemahaman umum bahwa ‘logam jika dipanaskan akan memuai’. Maka dengan metode deduktif kita bisa mengkaji bagai mana dengan timbel yang juga logam, bagaimana kondisi timbel jika dipanaskan. Kenyataan membuktikan bahwa timbel memuai setelah dipanaskan, maka timbel benar-benar logam.

Dengan penalaran deduktif maka kita akan mendapatkan pengetahuan baru yang lebih terpercaya lagi, bahwa timbel jika dipanaskan akan memuai, walaupun kesimpulan ini kita dapatkan tidak melalui penelitian terlebih dahulu, tetapi berdasarkan pemahaman sebelumnya yang diperoleh secara induktif. Memang akhirnya kita bisa lihat kelebihan yang kita dapatkan dengan penalaran deduktif, akan lebih hemat biaya dan waktu untuk menyimpulkan suatu masalah.


Menurut pikiranku dalam mengkaji sesuatu, sebagai cara mengembangkan pemikiran sekaligus pengetahuan, rasanya dua pendekatan induktif deduktif tidak bisa jalan sendirian. Dua hal tersebut harus berjalan beriringan, saling topang, saling mengisi dan melengkapi, menguatkan bangunan ketelitian pemikiran dan pengetahuan. Toh, dalam kenyataan keseharian kehidupan manusia pendekatan cara melihat dari hal khusus ke umum dan dari umum ke khusus atau pendekatan verifikasi dan generalisasi adalah merupakan hal yang selalu bersinergi.


Sekarang, aku jadi tahu di mana resum epistemic deduksi dari penelitian yang akan aku lakukan. Hal umum tentang media, kontaminasi yang terjadi, stagnansi pada proses aklimatisasi, perubahan pada kondisi khusus dengan gula dan antibiotic lalu …………….. bla…..bla…. dan …….bla….bla.

Senin, 23 November 2009

GUNDAH


Entah ada reaksi chemikalis, biologis apa yang terjadi di dalam tubuh ini, ada kegundahan yang berjalan sendiri, tidak terkontrol oleh kendali otak yang memilikinya. Kegundahan itu selalu muncul di setiap waktu, tidak mengenal tempat tidak mengenal situasi. Konyolnya dari waktu ke waktu terasa kualitasnya makin meningkat, makin menekan menjajah hasrat-hasrat lain yang semestinya hadir dan tetap mengisi kewajaran hidup. Apakah ini sebuah anomali raga yang wajar lantara deraan kegelisahan pikiran. Apakah sedemikian kuatnya kegelisahan pikiran hingga mampu menguasai kendali otak ?


Kondisi seperti itu hadir tanpa diminta dan diharap, ia muncul begitu saja ketika focus pikiran tertumpu pada pekerjaan yang belum juga selesai, kesiapan yang belum mantap, padahal waktu terus berjalan dan kenyataannya ‘jadwal ujuan kualifikasi’ makin dekat. Malam ini aku merenung, mencoba bercanda dengan kegundahan itu, aku berharap bisa merayunya, mengajaknya bersahabat, kalau perlu mengajaknya kembali menyatu dengan ranah dan kendali otakku. Wahai ‘gundah’ siapa engkau ? Maumu apa ? Bisakah kita bersahabat ?


Kegundahan hati konon adalah suatu puncak kegelisahan yang disebabkan oleh adanya problematika hidup yang penuh dengan konflik, rumit dan tidak kunjung terselesaikan. Kalau wajah gundah itu demikian, aku merasa tidak sepantasnya gundah itu hadir padaku. Problematikaku tidak penuh konflik, tidak juga rumit, dan rasanya ada secercah harapan itu akan terselesaikan. Lalu siapa dan macam apa gundahku ? Ya….. mungkin, gundahku hanya merupakan perasaan tidak nyaman terhadap suatu keadaan saja. Konon, gundah jenis ini akan terasa berkurang ketika kita bersosialisasi dan bercerita pada orang-orang terdekat kita yang dimungkinkan kena nasib yang sama.

Sahabatku, hampir lebih tiga jam aku terdiam melanjutkan kontemplasi ini. Hanya terpekur, mencoba meyakinkan bahwa wajah gundahku adalah perasaan tidak nyaman saja. Tidak nyaman menghadapi sesuatu yang banyak orang menggambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan, menegangkan, penuh ketidakpastian hasil. Ya, orang-orang menganggap demikian pada ‘ujian kualifikasi’ dan aku terlarut mengikutinya. Perasaan itu berkurang, ketika aku sesekali waktu bercerita dengan teman-teman yang juga sama sibuknya, gumuhnya, stresnya mempersiapkan itu. Bisa berkurang ketika mendengar, melihat ada teman yang ternyata permasalahannya lebih rumit dibanding kita.


Gundah ini hadir maunya apa ? Gundah konon kata orang pintar, sesungguhnya merupakan bahasa hati dalam mengungkapkan harapan sebaliknya. Kalau kita tahu gundah kita adalah perasaan tidak nyaman, maka sesungguhnya hati kita tengah memberi signal agar kita cepat bergegas menemukan akar permasalahan, lalu mengurangi, menghindari, menuntaskan apa yang semestinya kita lakukan agar tubuh kita, pikiran kita selanjutnya berada pada situasi yang nyaman. Dalam kasus ini, kegundahanku sepertinya ingin mengajak aku untuk focus, rubah pendekatan, dan disiplin diri. Ya, selama ini jujur tidak fokus, banyak berada pada pikiran dan kerja yang tidak semestinya, pendekatannya asal-asalan dan samben, trus disiplinya payah.


Ketika ranah berpikir positifnya jalan, pemahamanku berubah tentang gundah, kita semestinya sadar bahwa menempatkan kegundahan sebagai musuh adalah salah. Kegundahan adalah sahabat baik kita, dokter pribadi kita, dukun nujum kita yang selalu setia mengingatkan laku kita ketika kita berada pada jalur yang tidak semestinya. Ia adalah bahasa hati yang secepatnya harus kita tanggapi, jangan terlambat sebelum bermetamorfosis menjadi realita yang ‘menggoncang jiwa’.


Aku pernah punya pengalaman gundah dalam perjalanan dengan sebuah bus dari Bogor ke Purwokerto. Awalnya perasaan biasa saja ketika aku naik dan duduk di bangku depan dekat supir, lewat puncak kegundahan muncul dan makin menguat ketika mau memasuki Bandung, intuitifku mengajak duduk ke belakang, mundur satu bangku masih gundah, mundur lagi beberapa bangku, dan lucu kegundahan itu berkurang. Demi Allah, semenjak itu aku menjadi yakin bahwa suara hati adalah suaranya bisa kita panuti. Bayangkan, tak diduga tak dinyana di satu kilometer sebelum Bandung, tepatnya di tol dekat Pasir Kaliki bus yang saya tumpangi menabrak truk yang sarat muatan, bus penyok di bagian depannya, penumpang yang duduk 3-4 di depan menjadi korban meninggal dan luka-luka. Percaya ? Maka jangan takut dengan kegundahan kita, kenali maunya raih hikmahnya.

Senin, 26 Oktober 2009

HIKMAH ‘NIAT’


Ketika seorang kerabat bertanya tentang pendapat saya perihal makna ‘niat’, benar-benar saya menjadi termenung, bibir ini kelu, pertanyaan sederhana tetapi ternyata tidak mudah menjawabnya. Bukankah ‘niat’ adalah sesuatu hal biasa yang mewarnai hidup kita, sehingga pertanyaan makna niat seolah-olah menjadi sesuatu yang tidak lazim dan tidak penting. Tetapi bagi sang kerabat hal itu rupanya tiba-tiba menjadi penting. Mengapa demikian ?

Sikap rasa ingin tahu pada makna niat kerabat itu bermula dari kejadian sederhana yang dialaminya baru-baru ini. Ceritanya diawali ketika dia menukar setengah juta uang miliknya dengan uang baru recehan dan kemudian ‘berniat’ membagikannya kepada saudara, tetangga, dan masyarakat dikampungnya terutama pada anak-anak pada momen lebaran tahun ini. Setelah lewat lebaran dan melakukan pembagian ‘ang pao’, ada hal yang mengusik pikirannya. Dia merasa salah, dan merasa beberapa buntut kesialannya yang belakangan menimpanya adalah berpangkal pada ‘niat’ itu. Ia merasa telah ingkar niat, dengan jujur ia sampaikan apa yang dia niati belum sepenuhnya dia lakukan. Uang yang ditukarkan masih banyak yang belum ia bagi-bagikan.

Perasaan salah makin menjadi ketika ia juga sadar, bahwa ia telah berlaku pilah-pilah dalam memberi uang ang pao itu. Tidak semua anak-anak yang bersilahturahmi padanya diberi ang pao, jumlah yang diberikan juga tidak sama dari satu anak ke anak yang lainnya. Memang dia tidak bisa menghindari untuk melepaskan pertimbangan, misalnya: kedekatan, polah anak, kepatuhan, dan lain-lain. Menurut penalarannya, ia sadar telah melukai harapan beberapa anak-anak kecil yang biasanya saling gethok tular tentang siapa yang pada saat lebaran membagi-bagikan uang. Mungkin ada anak yatim atau yatim piatu atau anak biasa sekalipun yang merasa kecewa dan terbedakan. Padahal mereka tentunya punya hak atas berkah ‘niat’ kita yang sama.

Kata orang bijak niat termasuk perbuatan hati. Sehingga inti niat terletak pada lubuk hati bukan pada ucapan atau perkataan. Sehingga ketika seseorang ‘berniat’ maka sesungguhnya yang terjadi adalah sebuah kontrak ‘seuatu hal’ antara pelakunya yang mencetuskan niat dengan Allah SWT. Di sini butuh kejujuran dan konsistensi kontrak tersebut karena hanya ia dan Allah SWT yang tahu. Dalam kontek lebih lanjut memang semestinya nilai niat menjadi lebih bermakna mana kala ada keselarasan antara kata hati, lesan dan amal perbuatannya. Karena bisa terjadi niat yang baik, ketika kemudian sampai pada tataran praktisnya berevolusi menjadi niat kosong, atau menjadi niat jelek atau juga bisa sebaliknya ada ucapan, perbuatan yang baik tetapi sesungguhnya didorong oleh niat yang jelek.

Niat adalah sesuatu hal yang menentukan nilai suatu perbuatan. Baik dan buruknya nilai suatu perbuatan tergantung pada niat pelakunya. Bahkan, dalam kontek ibadah sering kita diingatkan bahwa tanpa niat, bisa jadi amal perbuatan atau ibadah kita bisa tidak bernilai sama sekali. Hemat penulis niat baik atau suci itu selangkah lebih maju dari pada tanpa niat. Kalaupun niat baik itu kemudian sebagian tidak terlaksanakan atau bahkan tidak terlaksana sama sekali, itu bukan seperti ‘hutang’ yang harus dibayar dengan rentetan resiko bunga-bunganya, bukan pula kemudian beresiko melahirkan buntut kesialan seperti yang dirasakan kerabat di atas.

Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah SAW menegaskan, ''Sesungguhnya Allah telah menentukan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Maka barang siapa yang berniat melakukan kebaikan tetapi tidak melaksanakannya, Allah akan menetapkan baginya kebaikan yang sempurna. Dan jika ia melaksanakannya, Allah akan menetapkan baginya sepuluh kebaikan sampai dengan tujuh ratus kali lipat. Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan tetapi tidak melaksanakannya, Allah akan menetapkan baginya kebaikan yang sempurna. Dan jika ia melaksanakannya, Allah akan menetapkan baginya satu keburukan.'' (HR Bukhari).

Jadi bagi kerabat yang telah digundahkan oleh ‘niat’ baiknya itu, sesungguhnya tidak perlu resah dan tidak perlu gundah, waktu belum habis untuk meneruskan semangat berbagi. Uang yang belum terbagi ya bagikan saja. Adalah hal biasa ketika sedang berbagi kemudian kita berlaku pilah-pilah dalam memberi besaran nominal ang pao, itu positif saja, karena hal seperti itu bisa menjadi edukasi sederhana pada anak-anak agar ia harus tumbuh baik, sopan, penurut pada orang tua dan lain-lain. Tetapi mengkaitkan segala musibah dengan permasalahan belum sempurnanya menjalankan niat yang telah dikontrakan rasanya juga bukan merupakan hal yang salah. Terlebih kalau itu kemudian melahirkan niat baru untuk perbaikan kekurangan yang lalu. Jadi, teruslah berniat baik, teruslah berintropeksi.

Minggu, 11 Oktober 2009

ORANG YANG BERBAHAGIA


Berbahagiakah kamu ? Begitu tanya seorang sahabat kepada saya di suatu pertemuan semacam ‘reuni’ kecil dari teman-teman sekampung ketika sama-sama mudik lebaran. Saya jadi tercenung mendapat pertanyaan yang tiba-tiba, bukan tidak bisa menjawab, tetapi memang dalam hati kecil kemudian jadi bertanya-tanya. Berbahagiakah saya ? Ya, berbahagiakah saya ? Cukup lama kami diam, baru ketika sang teman kembali mengulang pertanyaan itu, dengan spontan saya jawab: Ya, saya bahagia. Untung saja teman itu tidak bertanya lagi, seperti yang saya takutkan sebelumnya. Rupanya pertanyaan itu cuma berhenti sampai di situ, dan hanya beralih pada teman-teman yang lainnya.
Sepulang reuni kecil itu, pikiran saya justru tidak bisa bergeser dari pertanyaan sederhana teman tentang ‘bahagia’ itu ? Bagi saya spontan menjawab ‘ya bahagia’ sebetulnya hanya untuk menghindari rasa sungkan atau mungkin malu dianggap tidak bisa menjawab lebih nggak enak lagi kalau dianggap ‘nggak bahagia’. Kenyataannya justru hal itu malah melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul dan muncul seperti ‘reaksi berantai’. Bahagia itu apa ? Apa ukuran bahagia ? Bahagia untuk apa ? Bahagia untuk siapa ? dan masih banyak lagi pertanyaan.
Bahagia, merupakan kata yang sering menjadi bahan perbincangan kita. Sepertinya itu menjadi termilologi yang setiap orang merasa tahu. Barangkali seperti terminologi ‘cinta’, gampang diucapkan, diungkapkan, divisualisasikan, seolah-olah dimengerti tetapi sulit didifinisikan kebanyakan orang. Yang jelas difinisi bahagia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahagia dimaknai sebagai keadaan atau perasaan senang dan tenteram lahir dan batin (lepas dari segala yang menyusahkan). Dalam pemahaman Islam dalam surat Al-Ahzab: 71 ditegaskan orang yang berbahagia adalah mereka yang mentaati Allah dan Rasul-Nya.
Dua makna bahagia di atas jelas berbeda, tetapi kalau disimak sesungguhnya memiliki singgungan benang merah yang tidak perlu dipermasalahkan. Bayangkan saja, bahagia kadang juga bisa lahir atau mewakili suatu kondisi yang sederhana, singkat, tanpa landasan ‘ketauhidan’ dan sesungguhnya juga beraroma kesusahan. Seorang anak keluarga fakir miskin dapat makan setiap harinya dia merasa sudah bahagia; seorang bapak merasa bahagia ketika ia mendapat kabar anaknya yang merantau di Padang terhindar dari gempa padahal ia tahu rumah anaknya luluh lantak; seorang kakek katanya merasa bahagia ketika ia bisa melihat matahari pagi diberanda sambil minum kopi. Nah, kalau begitu. Makna bahagia menjadi sangat personal dan kondisional bukan ?
Bahagia sering dikaitkan dengan aspek materi, pangkat, jabatan, popularitas, kecantikan, kebugaran dan lain sebagainya. Ketika seseorang mengatakan saya bahagia karena saya bisa mendapat yang saya inginkan atau seseorang lain mengatakan saya sedang sakit hati kekasih saya ingkar janji, saya orang paling tidak bahagia di dunia ini. Semua menggambarkan suasana ‘kebahagiaan atau ketidak kebahagiaan’ sesaat. Padahal pertanyaan awal ‘apakah anda bahagia ?’ adalah mestinya bermakna kebahagiaan dalam hidup. Sebuah resum apa yang kita dapatkan dan rasakan selama ini, selama hidup.
Sebagai penutup, perenungan tentang bahagia. Saya tertarik pada konsep dalam Islam tentang bagaimana sebaiknya kita selalu berusaha mencari jati diri sebagai hamba (makrifatullah). Memahami ‘kehambaan’ akan banyak membantu kita selalu syukur, tidak sombong dengan perolehan harta, kedudukan, ketenaran, kemolekan dan lain sebagainya. Menyukuri apa yang kita dapatkan setelah upaya kita menghidupi hidup, dan mampu memaknai dan mengevaluasi berbagai peristiwa yang menghiasi hidup kita termasuk yang menyedihkan sekalipun adalah ‘ruh bahagia’.
Bahagia akan bermakna holistik tidak akan bernilai sekedar sesaat, parsial mana kala dihiasi rasa syukur, tidak sombong, positif, ada semangat berbagi dan korektif. Seorang pengkotbah Jum’at mengatakan orang yang ‘bahagia’ adalah orang yang dalam hidupnya bisa dengan iklas memberi nasehat, mampu memlahirkan ide-ide dan member solusi. Nah, pertanyaan saya: apakah anda bahagia ?

Sabtu, 26 September 2009

Hari Fitri dan Semangat Berbagi




Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, menahan lapar-haus-dahaga, datanglah hari di mana matahari tenggelam digantikan rona bulan tersebul di cakrawala sebagai pertanda hadirnya bulan Syawal 1430 H. Takbir tahlil dan tasmid terdengar di mana-mana, suaranya menggetarkan hati, Esok adalah Hari Raya Idhul Fitri, Hari Lebaran, hari kemenangan bagi mereka yang menjalani puasa dengan iklas, sabar, banyak amal, serta menyempurnakan dengan zakat fitrah.




Lelaku puasa tentu saja diharapkan tidak saja hadir cuma pada bulan ramadhan saja, kegiatan puasa bisa dilanjutkan dengan puasa-puasa sunah sesuai waktunya. Lebih penting lagi semestinya 'ruh puasa' mampu merubah, memperbaiki, membimbing laku kita di hari-hari kehidupan kita selanjutnya. Hakekat puasa terpenting menurut saya adalah : ketakwaan, pengendalian diri, dan semangat berbagi.




Dimensi ketakwaan pasca puasa tentu harus berbeda dengan sebelum puasa, melalui puasa tubuh, pikiran, laku dituntun pada kondisi yang positif, maka diharapkan ketakwaan kita juga berubah ke arah makin positif. Semestinya kesadaran akan 'kemahlukan' kita harus makin mempertajam keyakinan kita akan ke-mahaan-Nya. Sungguh kita miskin tanpa rejekiNya, sungguh kita bodoh tanpa ilmuNya, kita tak berdaya tanpa kekuatanNya, kita tersesat tanpa petunjukNya, kita.............




Pasca puasa juga harus memperbaiki pengendalian diri kita, kita mesti harus seimbangkan antara harapan dan kenyataan, kita harus menyadari power tubuh kita, kapasitas pikir kita, kekuatan hati kita dalam setiap aktualisasi hidup. Mengesampingkan salah satu dari ketiganya bisa mengakibatkan sakit tubuh, sakit pikir ataupun sakit hati. Kalau sesakit itu tidak mengenai kita juga bisa mengenai keluarga terdekat kita, tetangga kita atau masyarakat bangsa kita, yang akhirnya juga berdampak pada kita juga.




Untuk itu, karena kita berada pada suatu sistem hidup, ada kita, keluarga kita, saudara kita, masyarakat bahkan alam semesta ini. Kita sesungguhnya berapa pada interdependensi atau saling berketergantungan 'mahluk' dengan 'mahluk' pada penciptaNya dan kita tidak bisa hidup sendiri. Sehingga sesungguhnya semangat berbagi di dalam kehidupan ini adalah penting.




Masyarakat Indonesia jika dilihat dari konsep kemiskinan di mana masyarakat yang tingkat pendapatan perkapitanya kurang dari 1 US dolar, jumlahnya kurang lebih 40 juta orang. Tetapi jika berdasarkan ketentuan PBB di mana orang dianggap miskin jika berpenghasilan kurang dari 2 US dolar maka jumlah masyarakat miskin di Indonesia membengkak menjadi kurang lebih 100 juta orang. Kondisi yang sangat memprihatinkan bila melihat kenyataan bahwa negara kita dikenal memiliki kekayaan alam yang sangat besar.




Kenyataan di atas, tentu ada sebabnya mengapa bisa terjadi. Hal tersebut salah satunya adalah minimnya semangat berbagi. Kekayaan alam hanya dimonopoli segelintir orang, yang mengatas namakan kepentingan rakyat, wakil rakyat, pemimpin rakyat. Hak rakyat dikorupsi melalui tipu muslihat, tipu daya yang akar ujungnya demi mementingkan diri dan keluarga atau kelompoknya. Sudah saatnya semangat berbagi yang telah dicanangkan pendiri negeri ini lewat UUD 1945 diaktualisasikan. Mendukung pemperantasan korupsi, nepotisme dan monopoli adalah sudah sinal positif 'untuk berbagi'.

Sabtu, 12 September 2009

Malam Lailatul Qodar


Malam ini, ramadlan telah beringsut ke hari yang ke 21. Aku sengaja beranjak dari rumah, ingin ke mesjid AR. Fahruddin di jalan menuju kota Batu, tempat di mana aku sering mendapat hikmah. Aku berkendara, berjalan seirama dengan kumandang orang mengeja ayat Al Qur'an. Di sepanjang perjalanan, walau waktu sudah di puncak malam kulihat orang-orang mulai berbondong-bondong mendatangi masjid, bergegas dengan niat yang kukuh, tidak peduli pada hawa dingin yang selalu membalut kota Malang. Masjid milik kampus Universitas Muhammadiyah Malang ini menjadi berbeda dari hari biasanya, mobil-mobil berjajar di parkiran. Di dalam orang-orang mengisi beberapa sudut-sudut masjid, mereka kebanyakan berzikir, ada juga yang sembahyang,....... tapi ada juga yang sekedar tiduran. Sepertinya semua berharap mendapat berkah 'malam lailatul qodar'.


Aku lihat di seberang masjid, ada orang tua berumur 60 tahunan mendorong gerobag angsle yang disinari lampu teplok. Wajahnya penuh keteduhan, nampak iklas menjalani lakon hidup sebagai penjual minuman khas jawa timuran itu. Kopiah hitam yang sudah mulai kumal adalah piranti yang melengkapi kekhasan tukang angsle yang akhirnya aku kenal bernama ' Zaenal'. Menurut ceritanya ia telah berjualan angsle selama 30 tahun, bekerja untuk menghidupi istri dan 4 anaknya. Kala bulan puasa, mulai berjualan sore menjelang magrib dan sering terpaksa harus berjualan hingga larut malam, seperti halnya malam ini. Pak Zaenal tidak sempat beritifkah atau bertadzabur di masjid, ia hanya iklas menjalani hidup berjualan angsle untuk keluarganya. Sholat tarawih ia lakukan setelah selesai berjualan dan ia lakukan sendiri di rumahnya, sangat jarang dan kecil kemungkinan ia dapatkan nikmat tarawih berjamaah, tapi ia selalu pasrah dan iklas.


Bertemu dengan pak Zaenal si tukang Angsle, berkecamuk dalam benak pikirku. Muncul pertanyaan-pertanyaan. Apakah orang seperti Zaenal masih bisa mendapatkan anugerah dan berkah malam lailatul qodar ? Apakah berkah malam seribu bintang hanya diperuntukan bagi mereka yang berkutat di masjid pada malam-malam dimungkinkan datangnya malam lailatul qodar ? Apakah tidak mungkin orang biasa-biasa saja, yang tidak terang-terangan memburu malam lailatul qodar, beribadah di sela perjuangan hidup yang sulit, tetapi ia selalu tawaqdu menjalani hidup.


Apakah tidak mungkin malam lailatul qodar bersinar di rumah pak Karto si tukang becak yang selalu memuliakanNya di biliknya yang sempit ? Bukankah Islam adalah agama yang manfaatnya berdimensi 'rahmatan lil alamin'. Tentu dengan melihat ranah 'rahmat bagi seluruh alam' itu, saya punya keyakinan bahwa barokah malam lailatul qodar itu dimensi barokahnya juga bersifat 'lil alamin', artinya siapapun yang ada di alam ini sebagai mahluk Allah SWT yang iman dan islam memiliki kesempatan bisa mendapatkannya. Lagi pula hanya Allah SWT yang mengetahui kepada siapa dan kapan barokah malam lailatul qodar akan diturunkan. Rizki memiliki kaki seribu, kalau itu hak kita di manapun ia akan menghampiri kita, pun demikian kalau itu bukan hak kita sedekat apapun ia akan menjauhi kita. Allahu Akbar.