Senin, 05 Desember 2011

TIGA ORANG TERPUJI


Seorang teman bertutur kepada saya, telah mendapat pembelajaran hidup yang sangat berarti tanpa sengaja. Suatu hari ketika ia tengah duduk-duduk di kawasan pujasera di Kota Bandung, menghirup kopi Lembang, memandang lalu lalang moyang Priyangan yang trendy, modis, tidak membosankan untuk dinikmati.  Nah…Ketika ia tengah asyik memandang gerak lenggok orang-orang di sepanjang kawasan itu yaitu jalan Dago, ia melihat seorang ibu muda bersama dua anaknya yang masih kecil baru menyeberang dan berjalan se arah di mana ia duduk. Sesekali ibu muda itu mengikuti jalan anaknya yang menunjuk jajanan yang dijual di jalan itu, sejumput sang ibu menghampiri sang penjual dan terjadi pembicaraan. Awalnya sang penjual nampak  wajahnya gembira, tapi tak lama setelah berbincang wajahnya terlihat tidak ramah dan ibu dan anak-anaknya pun kembali berlalu. Tak jauh dari kejadian itu, sang anak kembali menunjuk salah satu makanan yang dijajakan pedagang lain, terjadi kembali dialog antara ibu dan sang pedagang, lalu kejadian sebelumnya terulang lagi.

Entah berapa kali kejadian serupa terulang kemali, sampai kemudian ibu itu sampai di tenda di mana sang teman duduk,  memang duduknya agak jauh dari etalase tempat kue-kue dan sang penjualnya duduk,  tapi sempat masih bisa mendengar ketika kembali ibu itu melayani anak-anaknya yang menunjuk kue-kue di etalase.

“ Selamat siang, Ibu. Maaf anak-anak saya ingin sekali kue yang Ibu jual, bisakah saya mendapatkannya tapi saya tidak punya uang, “ tutur sang Ibu sopan dengan mengajak sabar anak-anaknya. Sang teman tertegun, semua orang yang sedang santai di kafe tenda itu dan mendengar ucapan kejujuran ibu muda itu juga terenyuh. Sejumput terlihat ada kegamangan, sang ibu dan anak-anaknya rupanya sudah  siap menerima penolakan sang pemilik kafe seperti yang dialami sebelumnya.  

“ Tidak apa, silakan pilih mana yang anak-anak ibu inginkan, “  kata sang pemilik kafe sambil tersenyum ramah. Ibu muda dan anak-anaknya malah terkejut  mendengar, masih ragu akan apa yang dikatakan sang pemilik kafe, tapi anak-anaknya sudah mulai tunjuk-tunjuk kue yang dinginkan.

“Tapi saya tidak punya uang, “ kata ibu muda. Sang pemilik kafe dengan sabar menegaskan sikapnya dengan mengambil kotak kue dan menanyakan anak-anak yang lugu yang kemudian menunjuk beberapa kue-kue lain yang diinginkannya.  Terbersit wajah-wajah ceria anak-anak itu, wajah tak bersalah yang gembira bisa menyudahi kelaparannya. Sang teman yang menyaksikan ‘drama’ kehidupan yang demikian itu, tertegun, kerongkongannya terasa kering.  Ia melihat dua orang yang mulia, ibu yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya dan jujur terhadap keberadaannya, lalu pedagang budiman yang mau berbagi nikmat dan bisa menghargai orang-orang yang  jujur tapi berkekurangan. Betapa cantik pelajaran hidup hari ini pikirnya, sudah terbukti tidak banyak orang yang mau berbagi di zaman seperti ini, sepanjang jalan ibu dengan anaknya ditolak ‘harapan bisa berbagi’ dari beberapa orang, bahkan ada mungkin yang mengumpatnya.

Di tengah memikirkan pelajaran hidup itu, tiba-tiba ia mendapat pembelajaran baru lagi yang lebih mempercantik hidup. Sebut aja ‘seorang eksekutif muda’ yang saya tahu sudah lama duduk dekat dipojok lain kafe  tempat ia lagi menyantaikan diri, bertutur dengan pemilik kafe.

" Ini Ibu, uangnya..........."
“ Bapak, sebentar  uang kembaliannya …” tutur sang pemilik kafe yang menerima uang seratus ribu dari sang eksekutif muda yang terkesan mau buru-buru keluar.
“ Ya, Ibu….. sisa kembaliannya ambil saja untuk mengganti apa yang tadi Ibu berikan gratis kepada Ibu dan  anak-anaknya tadi….. saya berkesan dengan ketulusan semua . Jangan tolak ketulusan saya…. Terima kasih. ” pemilik kafe jadi bengong.
“ Lho…. Ini terlalu banyak, “ kata sang pemilik kafe. Tapi sang eksekutif muda tidak mau menerimanya dan malah berujar bahwa kita sama-sama harus bisa berbagi, sekemampuan kita berbagi. 

Kata temanku, hari itu ia dikenalkan dengan tiga orang terpuji, tiga orang yang patut dicontoh. Ia berpikir kenapa bukan ia yang terstimulasi menjadi ‘sang eksekutif muda’, padahal ia berada di sana. Kenapa tidak ada ide dan gagasan melakukan seperti itu, kenapa tidak ada dorongan ? apa karena ia kikir ? apa ia terlalu bebal dengan situasi sosial yang mengelilingi kehidupannya ? apa memang sudah jadi orang yang tidak perduli ? Dia marah pada dirinya sendiri. Tapi yang jelas, pembelajaran hidup hari itu menyadarkannya betapa manisnya orang bisa berbagi, dan ia berpikir ternyata orang yang bisa berbagi sesungguhnya bukan berarti menjadi kehilangan tetapi justru dengan berbagi orang akan mendapatkan.

Cerita teman ini, mengingatkanku pada Guru Spiritualku, beliau pernah mengatakan bahwa semangat berbagi harus terus kita kita tumbuhkan. Semestinya kita banyak belajar  pada alam. Alam telah mengajarkan kepada kita bahwa berbagi itu menjamin hidup kita makin hidup. Selapar apapun harimau, tidak akan mampu dan mau melahap semua hasil buruannya, lalu sisanya akan dimakan teman-temannya, predator yang lebih kecil, burung bangkai, bakteri tanah, cacing, serangga hingga gigisan mineralnya untuk tanaman. Tidak akan ada orang yang mampu berbagi berakhir menjadi miskin, andai  itu terjadi berati ada kesalahan dalam cara dan bagaimana berbagi, yang sering karena berbaginya belum tulus belum iklas secara penuh. Ada orang yang berbagi karena gagah-gagahan, karena ingin dihormati, karena kesombongan, karena gengsi, karena terpaksa, semua model berbagi atas alasan seperti itu tidak akan mengayakan batin kita, bisa jadi yang muncul malah kegelisahan, hidup malah menjadi tidak makin hidup.  Belajarlah secara cepat memutuskan ‘iklas berbagi’ ketika ada hasrat untuk  berbagi, jangan tunda, sebelum muncul berbagai alasan yang menggoda kita untuk tidak perlu berbagi. Salam berbagi.

Kamis, 17 November 2011

BELAJAR DARI MIMPI




Suasana lingkungan gelap gulita, tidak ada cahaya, mataku tak berguna karena tidak mampu menangkap wujud, Tanganku, dan telingaku yang membimbingku, dari suara gemericik air bercucuran aku sepertinya mengenal tempatku berada, dari kursi kayu yang aku tiduri aku makin yakin kini aku sedang di beranda belakang rumahku. Tapi kenapa gelap ? Walau malam hari, tempat di mana aku senang menghabiskan waktu tidak pernah menjadi gulita. Gambar harimau dan bunga anggrek biasanya masih bisa terlihat, tangga menuju laboratorium kultur jaringan tempat istriku sering berkutat menghabiskan waktu juga tak tampak. Kenapa ? Mengapa malam ini begitu kelam ?  Aku tidak melihat wujud, aku kehilangan keindahan warna, apa aku buta ? Aku kehilangan cahaya, aku merasa gundah, ketakutan tiba-tiba menguasai jantungku, ia berdegup keras, memacu aliran darah lebih kencang,  sekeliling masih saja gulita.

Lama dalam gelap, mataku makin nanar merindukan cahaya. “ Ayo, cepatlah waktu berlalu, segeralah pagi, aku ingin segera melihat pijar matahari !!! “.   Cukup keras  suara teriakannku, entah pada siapa aku berteriak. Rasa kehilangan itu mengapa baru terasa belakangan, Hmmm.., aku mungkin juga sebagian orang lain sering mengabaikan hal-hal kecil yang sesungguhnya sesuatu yang sangat berguna dan tak ternilai harganya. Dalam kegelapan aku baru merasakan betapa berharganya mata, betapa pentingnya telinga, pikiran, mulut, tangan kaki dan lain sebagainya. Aku mengapa egois jarang mensyukuri dilahirkan dengan kesempurnaan. Bagaimana seandainya kau lahir dengan kekurangan ? Tiba-tiba aku menangis dalam gulita, air mata tak terbendung deras mengucur di pipi. Entah mengapa makin lama makin menjadi rasa kesedihan itu, dan tubuhku tiba-tiba malah gemetar tak terkendali. Aku menggapai-nggapai apa saja yang bisa aku raih, sia-sia saja, peluh bercucuran, waktu terasa menjadi panjang, penderitaan merasuk ke seluruh sendi.

Ketika gemetaran tubuh mencapai puncaknya, dan juga hasrat telah disematkan dalam jiwa yang pasrah penuh penyesalan dan pengharapan. Tiba-tiba aku mulai merasakan ada pijar yang menjadikan sedikit benderang di sekelilingku. Walau tubuh penat tak berdaya, aku tegakkan tubuhku. Dari mata nanar, sedikit demi sedikit sekelilingku mulai mewujud, ternyata keliru, aku bukan berada di beranda belakang rumahku. Aku merasa berada di sebuah lorong, di ujung lorong sekuat mata melihat terlihat berkas cahaya. Jantungku kembali berdegup, mataku tak henti mencermati segenap arah mata angin lorong tempatku berada, cuma ada cahaya satu di depan. Atas kesadaran, hasrat hati terbebas dari gulita, lalu aku putuskan bergegas mengejarnya. Langkahku pasti, itu barangkali pijar matahari, matahariku yang selalu setia memberi panorama dan kehangatan, aku ingin menatap berawalnya hidup, barokah kesempurnaan, sebagai siluet subuh yang agung esok. Kakiku seperti melangkah ringan, menjejak sesekali di dasar lorong yang makin terang. Subhanallah, akhirnya kutemukan binar cahaya matahari yang melembayung, siluet pepohonan, suara kokok ayam terdengar. Sejenak kemudian kulihat rerumputan, kulihat pepohonan, burung-burung berkicau, bunga-bunga aneka warna menyempurnakan pandanganku yang sebelumnya gulita. Aku sujud syukur, menangis bahagia.

Aku terbangun dari sujudku. Sejenak setelah sapaan istriku dan sentuhan di bahuku, aku menjadi sadar bahwa barusan aku terbuai mimpi. Pengalaman dalam gulita dan mengejar pijar matahari adalah mimpi. Tiduran di kursi malas di beranda belakang rumah sering menjadikan siapapun untuk terlelap  tidur., karena tenang dan teduh suasanya. Mimpi kata orang adalah bunga tidur, bukan apa-apa. Tapi untuk mimpi yang satu ini, aku merasa bisa merupakan pesan atau pembelajaran hidup. Aku baru saja mendapat sapaan teman karib, anggap dia adalah guruku hari ini. Dia berkata: “ …bersahabatlah dengan kesalahan agar kita mengetahui hakekat kebenaran….”.  Wuihhh…., aku terkesima, walau bukan hal baru tapi mampu menyentil kembali kesadaranku. Mimpi sekejap itu menyadarkan kesombongan kita yang sesungguhnya tidak perlu terjadi, apa kehebatan kita sih ? Merenungkan itu, aku jadi ingat kata Guru Spiritualku:

"Ketika kita lupa bersyukur, kita ingin hidup kaya ... padahal kalau direnungkan hidup ini adalah sebuah kekayaan yang tak ternilai " 

" Ketika kita selalu takut memberi ... padahal kalau kita renungkan semua yang kita miliki adalah sebuah pemberian " 

" Ketika kita ingin jadi yang terkuat .... padahal kalau kita renungkan musuh terkuat  kita adalah diri kita sendiri " 

" Ketika kita ingin jadi nomor satu ... padahal kalau kita renungkan kita dekat dengan ketiadaan " 

" Ketika kita selalu takut rugi ... padahal kalau kita renungkan bahwa  hidup kita juga merupakan sebuah keberuntungan, perolehan dari anugerahNYA" 

Karena itu kita mesti  selalu bersyukurlah dalam segala keadaan, baik suka maupun duka.   Mari terus dan tetap berkarya, dengan semangat, berusahalah untuk berbagi  Mulai jalani hidup dengan menjaga kesehatan, kejujuran, ketulusan serta keikhlasan.  Hidupilah hidup agar hidup makin hidup. Bagiku …. Tersenyum itu penting, memanjakan diri itu perlu, lalu berhenti sebentar atas suguhan keindahan yang kita jumpai di mana dan kapanpun juga merupakan ungkapan rasa syukur, karena kesempatan seperti itu belum tentu akan kita jumpai lagi di lain waktu. (HB2U).

Senin, 14 November 2011

SEBELAS-SEBELAS-SEBELAS


Aku baru sadar bahwa tiga hari yang lalu aku berada pada sebuah momentum yang sangat berbeda atau buat sebagian orang dianggap momen istimewa. Kesadaran itu muncul ketika aku hendak pergi ke Jakarta untuk suatu acara yang tidak mungkin aku tunda dan terkendala urusan tiket penerbangan yang ‘sold all’ untuk semua penerbangan, baru ada tiket tersedia untuk penerbangan besok paginya. Kalau aku pilih terbang pagi jelas waktu tidak akan cukup sampai di acara tepat waktu, karena tempat acara jauh dari bandara Sukarno Hatta. Trus waktu itu aku posisi sudah di Surabaya, nunggu hingga pagi besok jelas merupakan problem tersendiri.  Akhirnya aku putuskan nyoba naik kereta, ternyata kondisinya sama ‘semua tiket sudah terjual habis’ untuk semua kereta’, waktu itu sudah jam setengah sebelas siang menjelang jum’atan. Ketika dalam kebingungan, sang penjaga tiket bertutur, “Kalau bapak mau berspekulasi tunggu jam satu, siapa tahu ada tambahan gerbong untuk kapasitas 60 orang, kami belum bisa pastikan karena itu putusan manager’. Aku berpikir masih ada peluang, aku bisa kembali setelah sholat jum’at.

Sekembali ke stasiun dari menunaikan sholat Jum’at , antrian di loket sudah mengekor panjang, aku pesimistis, tapi tetap mencoba antri juga. Pikir-pikir toh yang antri tidak untuk satu jenis kereta, informasi tambahan gerbong ternyata juga tidak hanya yang ke Jakarta tapi untuk jurusan ke Jogja dan Bandung. Di belakangku, seorang ibu yang ikut mengantri berceloteh kesal, nasibnya hampir sama telah banyak berupaya untuk mendapatkan tiket  dan kondisinya sama dengan yang aku alami. Hal senada juga dikeluhkan oleh yang lain, bahkan ada yang telah berupaya mencari informasi ke stasiun lain dan kondisinya sama.  Seorang anak muda di antrian sampingku berkata: “ Semua ini gara-gara hari ini dianggap hari yang sangat istimewa bagi sebagian orang, sebelas-sebelas-sebelas, bahkan tadi baru saja telah kita lewati momentum ‘empat sebelas’ yaitu jam sebelas di tanggal sebelas, bulan sebelas (nopember) dan di tahun sebelas (2011).  Aku tersadarkan, benar juga pendapat anak muda ini, bisa jadi ‘high setion’ di jagat transportasi disebabkan oleh faktor itu. Sekarang banyak orang tergila-gila pada momentum istimewa, entah apa dasar alasan istimewanya  tidak begitu jelas.

Seorang Ibu muda yang mengaku mau pulang ke Jogja di antrian tidak jauh dari anak muda mengakui  bahwa ia bersama teman-teman sekelas SMAnya baru saja reuni di momentum itu, ia keburu pulang selepas  jam sebelas karena malam harus sudah ada di Jogja untuk kumpul dengan keluarganya di jam 11 malam. Wow….aku tertegun, kenapa bisa begitu ? Demikian istimewanyakah momentum serba sebelas itu ? Sehingga orang mau bersusah payah memanfaatkannya, tidak mau kehilangan karena hanya terjadi sekali dalam kehidupan ini ? Apa iya ? Kalau itu alasannya, aku berpendapat pikiran mereka harus dikoreksi, bukankah setiap waktu selalu hanya terjadi sekali dalam kehidupan, tidak ada duanya. Hanya kalau momentum itu dianggap unik aku setuju aja, karena momennya serba sebelas. Tapi kalau dipikir panjang, momen itu juga bisa terjadi di serba angka lainya misalnya di serba dua (2/2/2/22), serba tiga (3/3/3/33), serba delapan (8/8/8/88), serba sembilan (9/9/9/99), dan sebangsanya   Jadi tidak terlalu istimewa karena banyak kemungkinannya.

Guru spiritualku berpendapat bahwa seiring makin menuanya zaman maka tantangan manusia makin bertambah, manusia makin kehilangan oreintasi dalam menjalani hidupnya, mereka akan terdesak dan dijajah oleh  produk-produk manusia sendiri . Keinginan manusia yang berharap segala sesuatu sebisa mungkin bisa ‘serba mudah, instan’ berbuntut melahirkan kemanjaan, rasa malas,  tidak peduli, dan tidak mau berbagi. Kondisi ini bisa  berbuntut pada lahirnya generasi yang lemah. Bagi mereka yang berekonomi kuat mereka asyik dengan dirinya sendiri dan kelompoknya, memenuhi keinginan-keinginan yang beraroma ‘beda dan selalu ingin beda’, hal itu selalu bisa dilakukana karena kekuatan ekonomi sangat memungkinkan untuk itu.  Mereka ini kelompok yang suka pada momen khusus seperti tahun baru, valentin day, tanggal khusus yang bisa melahirkan sensassi-sensasi  dan citarasa tersendiri bagi mereka. Pada sebagian kelompok mapan ini ada yang telah mulai tercerahkan dengan mengarahkan aktifitas sensasi mereka ke bidang sosial semacam beraktifitas bakti sosial di daerah pedalaman, daerah bencana, dan lain sebagainya.   

Mereka yang mempunyai kondisi ekonominya kuat bila dilebihkan kondisi pikirannya, disadarkan bahwa ada banyak peran yang bisa ia ambil, bukan harus melakukan yang sensasional,  sesungguhnya banyak pekerjaan, cinta, dan kesempatan untuk member dan berbagi, untuk mendukung harapan-harapan semua orang. Seorang guru yang lain berkata bahwa orang yang berkemampuan atau berkelimpahan tidak punya arti tanpa rasa memiliki nilai, berkemampuan atau berkelimpahan bernilai akan memampukan orang untuk mengikuti kata hatinya dan senang berbagi kesuksesan dengan orang lain. Orang yang paling kaya dan sukses adalah orang yang paling bermurah hati. Bermurah hati bukan cuma  dengan cara memberi materi, tetapi juga meliputi berbagi waktu, informasi, ilmu, teknologi, sumberdaya, pengalaman, cinta dan kasih sayang. Nah….nah, secara tidak langsung sesungguhnya kalau kita mau berbagi….berarti kita lagi belajar berbuat untuk kaya dan sukses.  Berbagi tidak harus menunggu momentum istimewa, jangan mengekor pada tradisi yang tidak jelas. Sebenarnya mementum serba sebelas yang baru lalu merupakan pergeseran waktu yang biasa, tidak ada yang istimewanya.

Minggu, 06 November 2011

TEMPAT BASAH



Ada yang menarik ketemu dengan guruku yang cantik, bukan cuma kesenangan pribadi sebagai penggemar berat kerinduannya terobati tetapi juga lantaran kata-katanya yang tercetus sungguh menyentak kesadaran.  Ternyata pengalaman hidup, kerja, pergaulan benar-benar telah mampu merubah sikap dan pandangan seseorang termasuk guru cantikku.
“ Bayangkan…., “ ucapnya dengan antusias, bibirnya yang mungil nampak merona, indah saat bergerak-gerak menyesuikan irama bicaranya.
“ Masyarakat kita sudah salah kaprah, sering salah menilai dan menyelaraskan pandangan, sikap pada sesuatu hal. Misalnya, banyak orang tahu bahwa sebagian anggota dewan kita yang minta dihormati atau gila hormat, banyak yang memiliki perangai buruk, kinerjanya jelek, serakah, manipulatif. Tetapi pada mereka yang demikian itu kepercayaan masih kita berikan, mereka masih kita pilih ? “. Aku payah, konsentrasi menjadi terbelah untuk mendengar kata-kata yang diucapkannya dan melihat bibirnya  yang titis seksi. Salahnya aku termasuk pengikut paham kakekku yang tidak pernah menyia-nyiakan keindahan, karena keindahan belum tentu mau datang untuk yang kedua kalinya.  Keindahan adalah barokah yang perlu disyukuri.

Tidak itu saja, kita lihat bersama bahwa pimpinan negeri ini telah terang-terangan sesumbar memerangi korupsi. Untuk dan karena itu mereka kita pilih, tetapi ketika mereka jelas-jelas menghianati apa yang telah dijanjikan saat kampanye, mereka tidak berbuat banyak memerangi korupsi dan malah terkesan terlibat pada beberapa pusaran korupsi, toh demikian ternyata  masyarakat kita tidak banyak berbuat apa-apa. Tidak memberi sangsi atau hukuman, malah sebagian orang ikut ambil bagian dan membela  yang semestinya tidak perlu dibela. Kondisi masyarakat menjadi terbiasa menjumpai dan sekaligus berada pada hal yang buruk, lalu satu-satu ikut membahasakan hal yang tidak patut tersebut menjadi sesuatu yang wajar-wajar saja sifatnya.

Guru cantik lebih tegas mencontohkan adanya kebiasaan masyarakat ‘mewajari’ tetangganya atau temannya memiliki penghasilan yang lebih karena ia ditempatkan di ‘tempat yang basah’, padahal mestinya kalau ‘pegawai negeri’ sudah jelas penggolongan gajinya tidak berbeda, kalaupun ada tidak mungkin bedanya seperti bumi dan langit. Lalu kenapa kita harus anggap wajar mereka ? Bukankah itu tidak wajar ? Bagaimana tidak, kalau kita sama-sama umur, kepangkatan, golongan gaji, bukankah tidak wajar atau tepatnya ‘salah’ kalau perbedaan penghasilannya sangat berbeda. Untuk yang wajar dan tidak kerja di tempat basah, tidak mampu beli apa-apa, di sisi lain yang kerja di tempat basah bisa beli segala-galanya. Tetapi karena hal tersebut sudah dianggap wajar masyarakat maka hal itu seolah-olah bukan merupakan suatu kesalahan, bukan merupakan sesuatu yang perlu melahirkan rasa malu, bukan sesuatu yang perlu kita cela,bukan sesuatu yang perlu kita anggap criminal. Padahal hal itu sdah merupakan hal yang mencurigakan dan bisa jadi mengandung tindakan criminal. Mestinya masyarakat tidak demikian, masyarakat harusnya membangun budaya menolak kecenderungan itu, kalau perlu mengembangkan ‘budaya malu’ berperilaku demikian.

Mengembangkan budaya malu di masyarakat memang bukan hal mudah, karena kondisi ‘bebal muka’ sudah sedemikian kronisnya. Terbukti kasus Gayus yang pegawai golongan tiga tapi kepemilikan kekayaannya melebihi kekayaan seorang professor yang memiliki kinerja dan prestasi sebagus-bagusnya. Seorang polisi dengan pangkat ‘rendahan’ memiliki kehidupan yang mewah di atas rata-rata aparat pemerintah segolongannya. Seorang yang kerja di bea cukai memiliki kehidupan yang lebih makmur dibanding sesama rekannya seangkatan yang bekerja di kantor pos misalnya. Padahal mereka sama-sama ‘abdi negara’ yang pengaturan kerja, kedisiplinan, pengaturan gajinya sama, kalau toh ada perbedaan tentu tidak harus menyolok sedemikian rupa. Peroleh yang tidak wajar, mestinya harus memberi ‘rasa takut, rasa salah’ pada sang pelakunya, bukan melahirkan sikap ‘tidak salah, wajar-wajar saja’. Kata Guru spiritualku semua kuncinya pada bagaimana upaya penegakan aturan dan hukum.  Sesungguhnya aturan dan hukum sudah bagus, yang belum bagus adalah ‘sikap dan perangai pelaksananya’.  Selama upaya membersihkan ‘hal yang kotor’ dilakukan dengan pelaksana (baca: sapu) yang kotor dan masyarakat kita membiarkan - mentolerirnya, maka kebersihan tidak akan tercapai. Mengaktualisasikan harapan memang butuh perjuangan, komitmen, pengorbanan dan keberanian bersama,  tidak bisa tidak.  

Rabu, 02 November 2011

ALTERNATIF



Umumnya ungkapan ‘alternatif’ sering digunakan untuk menggambarkan suatu pilihan, jalan, rencana, pendekatan dan lain-lainnya yang bersifat bukan yang utama. Kalau nggak ada pilihan A maka pilihan alternatifnya adalah B atau C, kalau jalan utama tidak dapat dilewati maka kita cari jalan lainnya, kalau rencana sat gagal kita jalankan rencana alternatif, kalau pendekatan satu tidak bisa menyelesaikan maka kita bisa coba pendekatan alternatif. Alternatif biasanya tidak akan dipilih mana kala yang utama tersedia atau bisa menyelesaikan.

Tetapi sekarang pemahaman itu telah bergeser, alternatif bukan lagi alternatif, bukan nomer dua atau tiga tapi sudah menjadi pilihan pertama, bahkan alternatif malah telah menjadi trend cara berpikir. Yaitu sebuah cara berpikir di mana orang diajak menggunakan pola pikir baru, untuk berani meninggalkan pilihan, jalan, rencana, pendekatan yang utama, yang umum. Pilihan alternatif adalah pilihan menantang, prestise, bercita rasa dan terbukti telah banyak merubah hidup orang. Terutama alternatif yang terlahir dari  inovasi cerdas, bukan sekedar alternatif-alternatifan atau keterpaksaan. Inovasi cerdas justru sering melahirkan hal baru yang sebelumnya ‘dianggap alternatif’ menjadi hal prioritas di kemudian hari.  Air kemasan misalnya, sebelumnya tidak terbayangkan bisa diterima masyarakat sebagai konsumsi hariannya terlebih terbilang mahal bisa dikatakan harganya separuh harga bensin perliternya.   

Sekarang produk-produk terbaru berbau  alternatif telah berkembang sedemikian banyak, termasuk yang paling gencar promosinya dan menarik banyak media adalah produk ‘pengobatan alternatif’. Mulai dari pengobatan alternatif yang bersifat rasional maupun pengobatan yang tidak rasional. Mulai dari pengobatnya seorang anak kecil yang masih bau kencur hingga kakek-kakek dukun yang menjelang dikubur, pengobatannya mulai dari penggunaan jamu alternatif hingga syarat maupun alat terapi alternatif berupa gelang, kalung, dan lain-lain. Yang mengherankan banyak ‘terapist’ yang mengiklankan mampu mengobati dan menyembuhkan penyakit-penyakit yang mematikan seperti: kangker, tumor, gagal ginjal, dan lain-lain. Yang lebih mengherankan lagi banyak juga yang laris manis hingga untuk berobat ke therapist tersebut harus antri bahkan mendaftar beberapa hari sebelumnya.

Gejala apa itu ? Ketidak percayaan masyarakat pada dunia kedokteran modern atau karena biaya pengobatan di rumah sakit dan dokter yang tinggi ? Atau memang pengobatan alternatif lebih memberi solusi yang lebih mujarab ? Sulit kita jawab dengan pasti.  Saya yakin anda pernah dengar ada dokter yang justru untuk pengobatan sesakitnya sendiri lebih memilih yang alternatef bukan pengobatan modern, juga mungkin pernah dengar dan menjumpai para terapis yang mengalami sakit dan berakhir pada rujukan menginap di rumah sakit. Tapi juga tidak salah sepenuhnya karena orang toh tidak bisa mengobatinya dirinya sendiri. Yang paling umum yang sering kita baca di berita televisi ataupun koran yang terberitakan bahwa problem utama masyarakat adalah menyangkut dengan biaya pengobatan di rumah sakit.

Kata guru spiritualku,  bahwa alam kita sesungguhnya adalah teladan hidup yang sangat baik ketika mau bicara tentang alternatif. Dalam kontek menjaga keseimbangan, di alam tersedia banyak keragaman yang interaktif untuk menjamin berjalannya proses kehidupan. Satu elemen memiliki peran beragam terhadap lainnya, bisa mengontrol atau dikontrol, semua saling interdependensi atau saling berketergantungan satu sama lainnya, saling melengkapi dan saling mengendalikan. Karena saling dikontrol dan mengontrol maka di alam setiap ada kekuatan dominansi yang muncul, maka secara otomatis  akan lahir kekuatan ‘anti dominansi’ sebagai jalan alternatif agar terjadi keseimbangan lagi. Manusia harusnya makin sadar, mana kala kita telah begitu dominan di alam dan terhadap alam,  ketika kita seenaknya merusak alam, maka pukulan balik ‘anti dominasi’ manusia akan muncul dari alam sebagai upaya ‘alternatif’ mengurangi dominasi, bisa berupa bencana, wabah penyakit  peperangan dan lain sebagainya. Berpikir alternatif, atau usaha pelahiran karya alternatif adalah upaya pengayaan ‘proses’ dalam hidup untuk mengurangi dominansi.   

Sabtu, 29 Oktober 2011

30-10




Thirty Ten, bagiku bukan angka biasa, angka itu seperti sebuah angka purba yang telah tinggal begitu lama di lubuk memoriku. Dari dulu setiap mengingat angka itu darahku seperti mengalir lebih deras, kegairahan seperti dinyalakan, sejarah seperti dipertontonkan kembali, ada wajah yang dulu begitu aku miliki, ada aroma yang aku tak bisa melupakan, ada lagu yang sering aku dengar, ada keterpisahan  dan kerinduan yang terpaksa terjadi. Tetapi angka itu tidak pernah terhapus dan tidak akan terhapuskan rasanya. Angka itu yang pasti dari dulu telah menjadi momentum tersendiri, pemberi makna, pemberi cita rasa hidup.  Memang sih sekian waktu pernah ada jeda akibat tak tahu ke mana aku bisa ikut berbagi memaknainya.  Tetapi aku telah mencoba menghidupinya dengan selalu merenunginya ketika stimulasinya dassyat.

Wajarkah itu ? Aku kira itu sangat wajar dan manusiawi. Angka telah banyak mempengaruhi hidup manusia, memang sebagian besar sekedar menjadi penanda saja, menjadi symbol, menjadi nilai, tetapi jangan salah ada juga yang mampu menjadi harapan, menjadi cinta, kebencian, ketakutan dan sejenisnya. Karena menurut ilmu tentang angka (numerology) setiap angka memiliki arti dan makna. Seorang teman pernah iseng membantu nelusuri ternyata bahwa angka 3010 secara prinsip hanya terdiri dua unsur angka yaitu 1 dan 3, karena 0 dimaknai sebagai 1 (mistik).  Angka 1 maknanya membawa sifat matahari, ego, bijaksana, memimpin, pionir, penuh ide, sedangkan angka 3 maknanya membawa sifat venus, cinta, artistic, romantic dan pengertian. Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa orang Cina sangat menyenangi angka 8 ? Ternyata menurut numerology angka ini memiliki sifat Saturnus dan bermakna bisa hemat dan pandai berstrategi. Bagi yang percaya memiliki angka 8 akan membawa mereka ke jalan kesuksesan dan kejayaan.  

Malam ini kembali tiba-tiba angka itu melintas di benak pikiranku, suasana sekelilingku begitu tenang cuma ada suara gemericik air kolam di belakang rumahku, di langit bulan tak kelihatan hanya sesekali terlihat kelelawar berterbangan mengajak pikiranku tuk merangkai kata-kata.  Ada bayang-bayang di ujung angka itu yang kemudian tak mau pergi, seperti ditemali oleh kesadaran masa lalu. Momen khusus mesti menjadi terminal perenungan, guliran waktu pertambahan umur harus bermakna makin mendewasakan kita, bukan sebaliknya makin tua makin kekanakkan. Bersyukur adalah hal yang layak mesti kita lakukan atas semua pengalaman, kenikmatan, anugerah kesehatan dan kebugaran yang selama ini kita rasakan. Tanpa masa lalu kita bukan apa-apa. Juga mesti kita optimis, melihat ke masa depan kehidupan kita, kita layak untuk selalu berdoa agar Tuhan tetap menganugerahi kesehatan, rejeki, dan kebahagiaan untuk  orang-orang tercinta kita. Masa depan adalah harapan yang mesti kita perjuangkan.

Pada saat terkesima baying-bayang , juga sekaligus melayani hasrat merangkai kata-kata, seorang teman bijak kebetulan bertutur lewat sms padaku, ia sampaikan bahwa karena dalam hidup tidaklah semua yang kita inginkan bisa terpenuhi maka kita harus banyak belajar menikmati dan mensyukuri yang kita miliki sekarang. Memang sih, menurutku dalam menjalani hidup 'proses' sepertinya lebih bernilai dari pada hasilnya. Karena proses lebih 'personal' mengekspresikan peran dan perjuangan kita sendiri, sedangkan hasil itu sudah ada campur tangan Yang Kuasa. Jadi ketika kita tidak bisa memiliki apa yang ingin kita miliki , tidak perlu ada sesal dan kecewa, nikmati 'usaha' yang telah kita lakukan, syukuri bahwa kita telah diberi kesempatan, pengalaman adalah guru yang baik Perenungan ini untukku sendiri ...., tapi sebagai mangayubagyo maka ….. lewat angin malam aku tulis sejumput keikutsertaan kebahagiaan …….
………………………
aku bersyukur kembali menemukanmu
seperti tetes embuh menyejukan kegelisahan purba
seperti kutemukan kembali anggrekku yang lama hilang
seperti aku temukan kembali jalan bermimpi
meraih keindahan sisa waktu

aku pesan pada cakrabala
tuk hadirkan hangat mentari
aku titip bisikan pada angin pagi
tuk nyanyikan tembang kebahgiaan
rangkaikan pelangi yang paling indah
semoga……..
esok anggrekku mekar mempesona
makin bermakna

Tidak itu saja….
Semoga
Masih ada hari tuk menyelesaikan harapan …..
Masih ada waktu tuk lebih baik
HB2U ! wish u the best.........

Kamis, 13 Oktober 2011

TOPENG-TOPENG



Aku pernah menulis puisi yang judulnya ‘hidup adalah topeng-topeng’, intinya dulu aku pernah berpikir bahwa adalah sebuah kewajaran kalau manusia hidup sering menggunakan topeng. Ketika ia merasa takut tapi malu untuk dikatakan takut maka ia berpura-pura menjadi sosok yang berani, ketika ia merasa sedih tapi tidak ingin kelihatan sedih maka ia menjelma menjadi sosok yang tegar dan gembira, ketika ia merasa malu termasuk miskin maka ia menutupinya dengan bergaya sebagai orang kaya, ketika ia merasa kurang tinggi maka ia memanipulasi dirinya agar tampak tinggi. Semua bukan sekedar kepura-puraan, tapi lebih mengarah pada kebutuhan untuk hidup, hal tersebut terbukti telah menenangkan dan ada pula yang menyenangkan serta bisa diterima, perilaku kamuflase tersebut terjadi di mana-mana, kapan saja, dilakukan oleh siapa saja, contoh kongkrit adalah hal yang dilakukan perempuan yang kita cintai, bibir mereka sesungguhnya tidak merah, lalu dipoles merah menantang, pundak mereka tidak datar mereka sumpal dengan spon di bajunya.  Tapi semua kamuflase itu kita terima dan bahkan menjadi menyukainya.

Anggapan wajar terhadap kebiasaan hidup manusia untuk menyembunyikan realita yang dialami dan dirasakan dalam hidupnya atau menggunakan kamuflase (baca: bertopeng) untuk menutupi kelemahan dirinya justru sekarang menjadi sebaliknya. Menurutku bangsa ini justru makin terpuruk karena makin maraknya mentalitas dan sikap tidak punya rasa malu, munafik dan tidak takut berbohong dan bersumpah palsu. Topeng manis tetap terpancar walau sudah terang benderang keburukan terungkap menyangkut dirinya, misalnya saja kasus pada beberapa petinggi negeri ini walau jejak korupsi telah terkuak, bukti-bukti terpaparkan, saksi-saksi bernyanyi tidak cuma satu orang, mereka masih bisa menampiknya dan berkelit menyatakan tidak atau ‘beraksi menyatakan ‘lupa’’ terhadap hal-hal yang disangkakan padanya. Dan sepertinya sudah menjadi ‘orkestra’ yang baku akan menyuarakan kekompakan nada dan irama baik polisi, jaksa, pengacara, dan hakim ikut mengalunkan tetabuhan yang jauh dari harapan masyarakat untuk memerangi penyelewengan.

Kehidupan berbangsa dan bernegara  menjadi seperti penuh dengan sandiwara, penuh kepalsuan, penuh topeng-topeng yang menutup wajah yang sebenarnya. Hukum dan perundang-undangan bisa dipelintir-pelintir, bisa diatur sesuai negosiasi dan kesepakatan yang dicapai atas prinsip ‘saling berbagi’.  Tidak heran ‘mereka yang punya uang’, walau sumbernya tidak berasal dari gaji halalnya, tetap saja uang itu yang bicara dan menentukan. Bisa juga karena keburukan sudah meranah ke mana-mana mereka yang tersangkut bisa saling takut menakuti, saling ancam mengancam untuk membuka semuanya. Sehingga semestinya mereka yang harus menegakan hukum dan aturan di negeri ini, justru sebagian besar berperan sebaliknya yaitu mengerogotinya dan merusaknya. Alhasil kondisi carut marut ini sepertinya akan sulit berubah, korupsi akan terus berjalan mungkin cuma bermetamorfosis menyesuaikan keadaan, benar kata kata banyak demonstran bahwa membersihkan kotoran tidak bisa menggunakan sapu yang kotor, harus menggunakan sapu yang bersih.

Mencari sapu yang bersih, atau mencari orang-orang yang bersih sesungguhnya tidak susah. Saya termasuk orang yang yakin masih banyak orang yang bisa memerangi ‘korupsi’. Tetapi kalau dalam proses pecariannya selalu saja melibatkan orang-orang yang tidak bersih maka proses ‘kontaminasi’ akan selalu terjadi. Masuknya ‘orang bertopeng’ akan menyuburkan proses tawar-menawar, proses pengotoran dan intimidasi. Setidaknya yang paling halus dengan memasukan lebih banyak orang-orang mereka yang ‘bertopeng’ kesantunan tetapi sesungguhnya bermental serigala, sehingga  ketika terjadi identifikasi, konfirmasi, musyawarah mencari bukti-bukti merekalah yang dominan. Sepuluh orang baik dengan 7 orang berkebaikan semu atau cuma bertopeng moralis dan anti korupsi, bisa menegaskan kenyataan ‘merah’ untuk disepakati menjadi berwarna ‘hijau’, mana kala tiga orang yang benar-benar baik tetap pada pendirian berwarna ‘merah’ sesuai realita maka pada akhir penyimpulan akan kalah karena skornya 7 lawan 3. 

Guru spiritualku pernah bertutur, bangsa ini harus mampu melahirkan generasi yang memiliki kekuatan cinta, ketekunan, kesabaran dan penguasaan diri agar bisa terhindar dari malapetaka kehancuran sebagai bangsa. Bangsa ini adalah bangsa yang tidak mencintai negerinya yang elok, luas, kaya raya, subur makmur, rukun sentosa. Hutan dibabati, tambang dieksplorasi gila-gilaan, pencemaran lingkungan di mana-mana semua untuk keinginan instan dan kemakmuran segelintir orang. Kita telah lama terbiasa tidak tekun dan sabar menjaga dan mengelola alam, negara tidak bertanggung jawab menjalankan amanat undang-undang dasar memerintahkan pengelolaan sumberdaya alam untuk sepenuhnya demi kemakmuran rakyat. Jujur harus diakui eksekusinya adalah dikelola untuk segelintir atau sekelompok orang, bahkan justru dampak negatifnya yang untuk masyarakat seperti: banjir, tanah longsor, pencemaran, pemiskinan, dan lain-lain.

Kita merindukan lahirnya generasi yang   memiliki kecintaan pada negeri dan sanggup memberikan cinta untuk kejayaan pertiwi, generasi yang ditandai kemampuan mengalahkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri; mereka adalah generasi yang berketekunan yang akan memberi kekuatan memecahkan kesulitan dan pantang putus asa; merupakan juga generasi berkesabaran yang akan memberi kekuatan untuk menanggung segala sesuatu dan tidak pernah merasa disakiti karena apapun keadaannya tetap ada usaha dan ikhtiar; semua juga merupakan generasi yang mampu menguasai diri dengan tanda-tanda mampu menguasai napsu keduniawian sehingga mereka selalu mau berbagi untuk sesame dan selalu bersyukur kepada Yang Kuasa. Generasi tanpa ‘topeng’ ini suatu saat pasti akan lahir, karena hidup dalam kepalsuan, kebohongan, kepura-puraan, omong kosong bukan tawaran hidup yang menggembirakan dan menentramkan. Kegelisahan pasti akan melahirkan peruba