Kamis, 24 Juni 2010

BIJAKNYA ANGGREK



Kata orang jaman sekarang hidup menjadi serba susah, dunia tempat kita tinggal bersama kondisinya makin merusak. Hutan-hutan digunduli, bumi digagahi isinya hingga carut marut rupanya. Konon pada mulanya niat dan slogannya untuk atas nama kesejahteraan manusia, tetapi kenyataannya justru sebaliknya, karena etika dan kebijaksanaan tidak dipedulikan. Nyatanya justru tindakan itu membuat kerusakan sistem alam, yang menyebabkan hilangnya keseimbangan, dan keteraturan alam. Dimulai dengan naiknya suhu panas bumi, hilangnya keanekaragaman hayati, berkurangnya sumber energi, terjadinya bencana alam di berbagai belahan bumi, instabilitas ekonomi, instabilitas keamanan dan lain-lain.


Refreksi kondisi yang sulit itu di negeri ini bisa dicermati mulai dari dirasakan terjadinya serentetan bencana, munculnya problem pangan, mundurnya tingkat kesehatan masyarakat dan lingkungan, besarnya angka pengangguran, meningkatnya keresahan masyarakat, maraknya perilaku disharmoni sosial dan lain-lain. Pada kondisi seperti ini upaya untuk hidup dan keluar dari krisis tanpa semangat bersama untuk memperbaiki kerusakan alam akan makin memparah situasi, memperburuk keadaan serta makin mengancam kehidupan manusia.



Rasanya juga harus disadari bahwa membangun semangat bersama bukan merupakan hal yang mudah dilakukan, terlebih menyangkut hal yang dalam jangka pendek belum tentu dapat dirasakan hasilnya, menyangkut hal yang dalam melakukan memerlukan semangat mau berkorban dan berbagi. Kesadaran itu perlu menjadi alasan bagaimana masing-masing orang terdorong untuk mulai melakukan secara individual. Dalam kontek ini, untuk survival hidup pada masa sulit kita bisa belajar pada cara tanaman anggrek menghadapi lingkungan yang membuat stress.



Tanaman anggrek secara umum di alam hidup pada lingkungan yang marginal, miskin air dan hara. Ada beberapa cara tanaman anggrek yang bisa menjadi pelajaran 'bijak' menghadapi kondisi stress lingkungan, misalnya dengan cara anggrek melakukan aktifitas metabolisme minimal, serta ditunjang daya adaptasi morfologi dan fisiologi yang cermelang. Karena lingkungan hidupnya cenderung selalu kekurangan air, tanaman anggrek beradaptasi hingga memiliki kemampuan regulasi air yang bagus, ia membangun 'seperti' kanal air di organ akar yang disebut 'vilamen', yaitu jaringan lapisan terluar akar yang memiliki kemampuan menangkap dan menyimpan air, juga di setiap bagian tanaman ini memiliki jaringan parenkim yang juga beragam fungsi termasuk bisa untuk menimbun air dan makanan yang mudah dimobilisasi sesauai kebutuhan.



Karena itulah kalau ada orang mengatakan tanaman anggrek adalah tanaman yang manja, hal itu salah besar. Tanaman anggrek adalah tanaman yang paling tidak manja sehingga tidak heran keluarga tanaman ini termasuk keluarga tanaman yang memiliki anggota jenis terbesar dibandingkan keluarga tanaman lain, karena paling adaptif. Urutannya adalah orchidaceae, asteraceae dan leguminoceae. Bayangkan saja, misalnya tanaman anggrek dimasukan dalam kemasan lalu dipaketkan selama satu minggu bahkan bisa dua minggu, tanaman tersebut masih mampu hidup ketika ditangani dengan baik oleh yang menerima paket. Pada kondisi sulit air dan hara anggrek masih tetap memberi keindahan pada lingkungannya. Untuk tanaman lain tentu sudah lalu dan kering.



Marilah secara individu kita belajar bijak dengan memulai melakukan hemat air, kurangi suhu bumi dengan ikut berpartisipasi menghijaukan tempat hidup kita ini kembali yaitu dengan memulai menanam tanaman di sekitar rumah kita, kampung kita, kota kita. Lakukan tidakan-tidakan kecil, kebaikan-kebaikan sederhana karena dari hal seperti itu kita bisa mendapat perubahan besar.

Rabu, 23 Juni 2010

PLASTISITAS PIKIRAN



Seorang teman bertutur tentang kegelisahannya yang baru-baru ini muncul. Kegelisahan sederhana, menyangkut komunikasi sosialnya. Ia mengeluh mempunyai sahabat terpercaya yang tiba-tiba berubah sikapnya entah karena sebab apa. Sahabat yang tadinya selalu berpikir positif, tiba-tiba dirasuki oleh semacam kegelisahan dan sikap tidak positif dalam menanggapi sesuatu hal. Komunikasinya jadi tidak harmoni karena sedikit-sedikit respon dan tanggapannya terasa tidak mengenakan. Misalnya ketika ia sedang tidak enak badan, dan cenderung diam karena menahan sakit, hal itu sudah diartikan 'mendiamkan' sang sahabat itu.

Sang teman merasa bahwa ia sepertinya sudah tidak dipercaya oleh sahabatnya, hal yang biasanya dilakukan berdua, sekarang dibutuhkan orang ketiga agar terasa 'aman'. Apa yang dilakukan, apa yang diucapkan respon dan tanggapan dari sahabatnya membuatnya serba salah. Komunikasi jadi berkurang dengan sendirinya, terlebih ditambah kesibukan masing-masing juga memang padat. Sebelumnya sepadat apapun kesibukan 'say hello' masih menjadi komitmen mereka. Jadi suasana sekarang membingungkan bagi sang teman. Mendekat salah dan menjauh juga salah.

Tentu perubahan sikap sahabat itu tanpa pemikiran panjang pasti ada sebabnya. Sayang sang teman tidak tahu pasti dan tidak mampu menemukannya dan juga belum berani menanyakan kepada yang bersangkutan secara langsung. Takut juga malah memperburuk hubungan. Hanya saja, menurutku perubahan sikap sering disebabkan oleh adanya rasa ketersinggungan, dihianati, terhinakan, sakit hati, amarah atau bisa saja cuma salah paham. Semua itu mungkin juga bisa ditunjang oleh suasana yang sedang dialami oleh sang sahabat yang mendukung untuk munculnya sikap demikian, mungkin karena sedang dirundung kejenuhan, rasa capai, gundah gulana, rasa takut, sakit yang diderita, problem keluarga dan lain-lain.

Dilihat dari aspek cara berpikir, maka lahir dan munculnya sikap yang berbeda dari biasanya itu dapat ditelusuri prosesnya. Umumnya dimulai dari ‘signal-signal yang dirasakan sebelumnya’ signal itu kemudian akan merubah pikiran, perubahan pikiran akan merubah kejernihan berpikir, lalu kejernihan berpikir akan merubah suasana perasaan hati, dan lahirlah sikap dan hasil yang senada. Hasilnya negatif kalau dimulai dari kuatnya pikiran negatif dan hasilnya positif kalau dimulai dengan pikiran positif yang kuat. Maka dari itu sikap dan keyakinan diri akan sangat menentukan proses dan produk berpikir.

Buat sang teman, sudahlah jangan resah dan jangan gundah. Tetaplah berpikir, bersikap dan berkeyakinan positif , bersabarlah kalau anda benar tidak merasa bersalah. Tetaplah berintropeksi karena itu tetap penting untuk perbaikan diri kita. Tetaplah bersahabat secara positif sebisanya, semampunya, nikmati saja bianglala hidup yang sedang terjadi. Jangan jauhi sahabat itu karena perbuatan itu tidak disukai Allah. Lagi pula yakinlah bahwa signal positif suatu saat pasti akan datang padanya untuk merubah pikiran menjadi positif, karena pikiran bersifat plastis. Plastisitas pikiran bukan berarti ketidakkonsistenan berpikir, tetapi cebderung sebagai suatu keadaan alamiah 'pikiran manusia' yang lentur dan adaptif dari informasi yang masuk. karena itu manusia bibedakan dari mahluk lainnya, ia diberi kebebasan untuk menilai dan memilih setelah sesuatu mempengaruhi pikirannya.

Senin, 14 Juni 2010

LUKA HATI



Pada suatu kesempatan ketika aku baru saja selesai diskusi kelas dan mencoba duduk-duduk di bangku serambi pasca, seorang sahabat datang dengan wajah gelisah, lalu duduk di bangku sebelahku. “Suamiku masih di kantor, bakalan lama aku harus menunggu.” Gumamnya pendek. “ Eh…kamu kelihatan tidak sehat ?!” Sambungnya lagi sambil menatapku. Ketika aku sedang mengangguk kecil bermaksud mengiyakan pertanyaannya, mulutnya nyerocos lagi. “Ok, jangan pulang dulu, kamu temani aku makan malam sambil nunggu jemputan suamiku. Bagaimana ?!”. Akupun tanpa pikir panjang menyetujuinya, dengan syarat cari makan yang sejalur dengan arah tempat kostku, dan sahabatkupun setuju.

Pilihan akhirnya jatuh pada ‘soto djayus’ dekat kebon bibit Bratang, yang rupanya juga untuk memudahkan suami sahabatku menemukannya. Sejurus ketika aku menikmati menu special di warung itu yaitu ‘soto telur ayam muda’, tiba-tiba sms masuk. Tetap sambil makan aku buka sms itu, ternyata dari temanku yang rodho ‘istimewa’. Bunyi smsnya: ‘……… dinner kok di soto Djayus, ……….’. Aku tertegun, nada smsnya tidak mengenakan. Aku sengaja diam, tidak menunjukkan pada sahabatku yang mengajak ‘makan’, takut itu akan membuat tersinggung dan luka hatinya. Aku sendiri menerima sms ‘darinya’ yang bernada merendahkan tidak cuma sekali ini. Jadi bagiku sudah tidak heran.

Pada satu sisi menyangkut sms dinner di soto djayus, aku ingin sampaikan bahwa tempat makan memang bisa memberi citra, insyaallah saya bisa dan pernah makan di tempat yang lebih istimewa dari yang 'nyelatu', tetapi saya punya asumsi sendiri bahwa boleh jadi makan di manapun sama yang penting bagaimana kita mampu tidak menciptakan suasana hati menerima dan menikmati pilihan kita. Pada sisi yang lain yang lebih penting, kita harus berani belajar untuk tidak ngurusi pilihan orang lain, harus mau belajar menghormati pilihan orang lain. Belakangan aku baru tahu ternyata sang teman ini tidak sekedar sms ke aku, tetapi juga memberitahukan ke orang-orang lain, dengan bumbu yang sedaaap. Apa maksudnya ?

Aku jadi ingat kata guru spiritualku, bahwa ‘cara bertutur kata, cara berpikir, cara bersikap adalah cermin dari kepribadian seseorang’. Pribadi santun akan ditunjukan oleh tutur dan cara berpikir dan sikap yang juga santun, pribadi yang sabar akan tergambarkan oleh tutur kata, raut wajah yang sabar dan cara berpikir juga yang sabar pula. Berkepribadian adalah proses, pilihan yang harus ditata, ditempa melalui sederatan pengalaman yang kemudian mengkristalkan pancaran kekuatan pribadi.

Seorang yang berkepribadian, tabu untuk usil dan mengurusi apa yang dilakukan orang lain. Tidak asal bicara, bahasa jawa gaulnya ‘ora asal njeplak’, tetapi tertata dan mampu memilih kata-kata yang proporsional. Bicarapun ‘umpan paran’ dan ‘umpan papan’ artinya bagi orang yang berupaya berkualitas ia faham pada dirinya, dan juga faham harus bagaimana bicara dengan siapa dan kapan harus bicara. Untuk itu bicara butuh asupan nilai ‘art, teposliro, tatakrama’, agar orang yang kita ajak bicara tetap meramahi - menghormati kita.

Mari kita coba memulai untuk tidak melukai hati orang lain, jaga kata-kata kita, jaga hati kita. Luka hati diterapi, diobati dengan cara apapun akan masih tetap meninggalkan goresan yang susah untuk dilupakan. Maka perlu sekiranya kita simak kata orang bijak yang menurut saya bisa menjauhkan kita dari ‘melukai hati’ orang. Minimal mulailah hiasi perkataan, pemikiran, dan laku empati kita dengan keramahan. Karena ‘keramahan dalam perkataan akan mampu menciptakan keyakinan dan kepercayaan, keramahan dalam pemikiran akan mampu menciptakan kedamaian, dan keramahan dalam kita memberi akan mampu memunculkan kasih sayang’. Begitu jeng !!!!

Selasa, 08 Juni 2010

PERLUKAH BERSEDIH ?



Lantaran mendapat informasi dari seorang teman yang tahu kalau aku punya blog yang sering mengulas tentang masalah sederhana kehidupan, seseorang yang merasa gagap teknologi bertanya padaku: Perlukah bersedih bila kita titinggalkan kekasih hati ? Ya, benar-benar pertanyaan sederhana yang sangat umum problemnya dijumpai di masyarakat, tetapi tidak pernah dipertanyakan secara kritis seperti ini.

Bersedih adalah sebuah ekspresi tubuh dan pikiran akibat adanya disorientasi harapan, dalam kontek pertanyaan di atas berarti ekspresi tubuh dan pikiran karena hilangnnya seorang kekasih hati padahal ia masih memerlukan belahan hati itu. Kata tanya ‘perlukah’ memiliki peran menekankan seberapa nilai ‘kebutuhan’ untuk menyikapi keadaan ‘sedih’ tersebut yang bila kita telusuri hal itu akan sangat berkait dengan status emosi masing-masing orang.

Sesungguhnya ekspresi bersedih atau berduka adalah hak setiap orang untuk mengekpresikaqn, bahkan mungkin tidak ada aturan yang melarangnya. Tetapi ketika diawali pertanyaan ‘perlukah’, maka ini tidak lagi merupakan pertanyaan sederhana karena pertanyaan tersebut masuk ranah yang jawabannya butuh cara pandang, cara berpikir yang lebih dalam menyangkut masalah itu.

Ketika aku didesak untuk segera menjawab, pengetahuan bawah sadarku, yang mungkin juga lantaran diwarnai status maskulinitas dan terhidupinya kesadaran intuitif spontan menjawab: ‘Tidak Perlu Bersedih !’. Alasannya apa ? Aku jawab belum tahu. Untuk alasan jawaban itu aku tulis di blog ini dan maaf agak sedikit terlambat postingnya.

Menurut ‘Guru’ metafisisku jawaban aku sudah benar. Kesedihan tidak perlu dan tidak tepat untuk alas an hilangnya seorang kekasih hati, terlebih bila kesedihan itu terjadi berlarut-larut hingga mengganggu anugerah kehidupan yang selayaknya kita jaga.

Sang Guru bertutur lebih lanjut: ‘bahwa ketika seseorang meratapi, menangisi hilangnya seorang kekasih hati, pada tahapan tertentu akan dapat membawa pada situasi bahwa ia merasa ia tidak bisa hidup tanpa kekasih itu, hidup akan tidak punya arti tanpa belahan hati itu. Maka pada tahapan ini secara tidak langsung yang bersangkutan telah menafikan keberadaan yang mengatur hidup.

Kelemahan kita yang setiap waktu disuguhi dan dilingkungi pengalaman fisik, nyata, terlihat, terasakan maka dengan susah akan mengakui yang ‘metafisis, tidak nyata, tidak terlihat, tidak terasakan’. Kekasih hati yang memberi pengalaman fisik, nyata, terlihat, terasa sesungguhnya tidak ada artinya, karena kalau kita cermati ‘hal fisik’ sering mengecewakan. Harus dibangun kesadaran bagi mereka yang sedang kehilangan ‘kekasih’, bahwa di luar kekasih fisik ada kekasih metafisis yaitu Allah. Bahwa hidup kita tentu masih punya arti mana kala kita punya keyakinan ‘percaya kepada Allah’, dengan ikhtiar, doa yang di bantarkan pada kesabaran maka permasalahan hidup menjadi ringan dan kita tidak perlu bersedih.

Jumat, 21 Mei 2010

BAHAGIA



Bahagia apakah sama dengan senang ? Begitu pertanyaan seorang teman kepadaku. Menurutku konsep tentang bahagia dan senang jelas berbeda, bahagia memiliki 'value' yang lebih tinggi ketimbang 'senang'. Bahagia adalah sebuah penyikapan menerima terhadap apa yang kita dapatkan, kita alami, baik menyangkut hal menyenangkan atau menyedihkan. Sedangkan 'senang' konotasinya lebih ditekankan pada penyikapan akibat terpenuhi keinginannya kita. Orang yang hartanya melimpah ada bisa jadi merasa senang, ia bisa memenuhi berbagai keinginannya, tetapi ingat bahwa keinginan akan muncul dan muncul, dan harapan selalu datang, jadi belum tentu mereka bisa merasa bahagia. Mereka akan bahagia ketika kesenangan didapatkannya diikuti dengan rasa selalu bersyukur.

Jadi sikap bahagia itu bila kita cermati ia memiliki makna spiritual, suatu penyikapan yang berdimensi transendental, suatu keiklasan bersyukur pada Sang Kholiq yang menggiring pada ketenangan lahir dan batin, sementara senang tidak, ia hanya di pusaran lahir saja. Jadi sesungguhnya berbahagia itu kuncinya bagaimana kita mampu menyeiramakan pengalaman lahir dengan kesadaran batin. Orang merasa susah berbahagia karena ukuran bahagia itu dibingkai dengan rasa ingin terpenuhinya semua keinginan, padahal keinginan itu selalu muncul dan bisa berubah-ubah. Jadi bingkainya merupakan doktrin yang mustahil tercapai. Kondisi ini akan memunculkan sikap rasa tidak puas, tidak percaya diri, rasa kuatir, dan akan makin kuat ketika pengalaman masa lalu menjadi bumbu justifikasi munculnya keragu-raguan dan kebimbangan untuk dapat mencapai kebahagiaan.

Bahagia dan tidak bahagia sesungguhnya kalau kita cermati itu adalah merupakan pilihan. Bahagia dan tidak bahagia adalah sebuah penyikapan kita menyangkut pengalaman hidup yang kita alami, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Karena sebuah pilihan, maka bahagia dan tidak bahagia adalah produk dari 'pelabelan' kita sendiri. Orang senang dan orang sedih bisa sama-sama bahagia ketika mampu menemukan pemaknaannya. Hakekat kausalnya, bahagia datang bukan dari luar diri tetapi datang dari dalam diri, artinya kalau kita berharap kebahagiaan itu harus datang dari luar diri kita maka hal itu adalah keliru.

Untuk itu belajar menyikapi 'pengalaman' yang menyertai kehidupan kita, melahirkan semangat untuk memberi ruh 'spiritual' pada hal-hal itu adalah hal penting yang harus kita lakukan. Sehingga hal negatif yang sebelumnya sering timbul, seperti rasa tidak puas, kekuatiran, kegundahan harus kita konversi menjadi 'energi' untuk menata ulang sikap-sikap, harapan, cara kerja, dan komunikasi spiritual kita. Kalau kita tidak mampu mengkonversinya hal negatif itu maka ia akan menjadi energi perusak yang akan membawa kita mudah menyerah, jatuh sakit, depresi, atau hal-hal lain yang menjauhkan kita dari ranah kebahagiaan.

Setidaknya itulah, sebuah perenungan yang tiba-tiba menyeruak di benak pikiranku yang perlu aku ladeni pasca menyelesaikan beberapa aktivitas di dua kota Surabaya dan Malang yang menyedot pikiran dan tenagaku akhir-akhir ini. Ternyata ketika aku mencoba belajar membangun kesadaran diri, intropeksi terhadap makna 'kemanusiaan' , belajar melabel secara filosofi dan spiritual pengalaman hidup, mengkonstruksi bangunan keluarga, menjaga persahabatan dan membangun komunikasi sosial, lalu juga konsistensi menjaga tubuh agar sehat dengan tetap hash, sesekali juga menghibur diri dan memanjakan diri, adalah hal yang membuat aku 'bahagia'. Bagaimana anda ?

Kamis, 06 Mei 2010

MARAH BOLEH KOK



Ada orang, atau sekali-kali aku mau gunakan terminologi 'engkau' saja ya. Hmmm.... Engkau bukan pemarah, engkau peramah, sopan dan dengan mudah memberi senyum pada mereka yang dikenalnya. Semua orang merasakan ketika berinteraksi dengan engkau, yang terasakan adalah kesan tipologi wajahmu yang mampu mengelola rasa yang menyejukan dan lebih kooperatif. Itulah kelebihan engkau. Seribu satu teman yang pernah melihat engkau berekspresi marah, apalagi mimiknya seperti di gambar atas.

Kebanyakan orang tentu setuju bahwa wajah yang teralu akrab dengan tipologi tertentu dan jarang mengekspresikan penggambaran emosi lain terutama yang bertentangan dengan emosi biasanya, Misalnya ekspresi marah, sedih, dan lain-lain. Tentu keadaan ini akan menyulitkan orang melihat, memahami dan kemudian membedakan yang bersangkutan sesungguhnya pikiran dan kecamuk batinnya sedang pada ekspresi apa. Bayangkan, jengkel pun masih tersenyum, sakit perut tidak mengeryit, mau pinsanpun masih bisa bergurau, tidak setuju tapi tidak ada mimik menolak, rindu tapi biasa-biasa aja. Bagaimana orang mau menerjemahkan kondisi sebenarnya ekspresi model sosok seperti ini. Dan itu aku jumpai pada 'engkau' .

Menariknya, bahwa sesungguhnya walau engkau lekat dengan ekspresi harmoni tertentu itu, seperti ramah, mudah tersenyum, tapi ada yang lupa teramati orang lain yaitu kadang 'pilihan kata' yang diucapkan, nada dan penekanan serta pola komunikasi yang muncul masih menunjukan kelugasan emosi yang sebenarnya, belum terbiasa mengikuti mimik muka yang sudah mewatak. Tetapi jangan heran bahwa fenomena inipun, kadang ketika dikonfirmasikan ke 'engkau' , maka sering dengan mimik yang sejuk meyakinkan akan menampiknya, bahwa itu tidak benar. Tetapi kalau sabar sedikit dan tekun aku ajak engkau bicara, maka 'emosi' yang sebenarnya akan keluar dari bibir, atau terekspresi dengan sendirinya.

Sesungguhnya 'sosok wajah' dengan harmoni kelembutan, keramahan tentu menjadi dambaan setiap orang normal yang ingin mempunyai 'nilai' secara sosial. Kenapa ada kursus kepribadian yang perlu diikuti oleh pejabat publik ? Ya, alasannya tidak jauh dari diperlukannya perangai yang terjaga untuk 'bernilai' menyenangkan, mengesankan orang lain. Tetapi menata perangai tidak harus mengelabui diri sendiri , mengorbankan perasaan diri sendiri, dan buntutnya juga merugikan diri sendiri. Ekskpresi jujur yang kontra dengan 'perangai lembut' tidak haram untuk ditampilkan, kita diberikan anugerah rasa dan ekspresi 'marah, cemburu, sedih, ' untuk bisa kita kelola menyempurnakan hidup.

Omong-omong, rasanya aku juga cenderung seperti engkau (masa ? ramah nggak, sopan hmmmm, murah senyum wo..., mulai menyembunyikan perasaan ya). Tapi.....He....he...he, itu karena sekarang aku banyak belajar pada kau ! Kemarin aku ketemu guru lakuku ia menasehati aku, mungkin bisa kau adopsi juga mungkin. Beliau berkata: "Berekspresi marahlah ketika engkau sedang marah, bersedihlah engkau saat ingin bersedih, tertawalah engkau kalau ingin tertawa. Yang penting engkau sadar, pada siapa, atas alasan apa serta kapan kau harus marah, harus sedih serta harus tertawa". Menyembunyikan harapan dan keinginan ekspresi tubuh sama saja memendam energi potensial tubuh yang pada saatnya bisa jadi bom waktu.

Senin, 03 Mei 2010

DENGAN SENANG HATI


Aku punya dua orang teman yang perangainya benar-benar bertolak belakang, kalau disitir dari cerita pewayangan barangkali dapat ditelusuri mungkin secara genetis mereka berdua tertirah dari dua trah gen yang berbeda yaitu : trah Astina dan trah Kurawa. Kalau keduanya bertemu selalu terjadi 'perang' yang tentu di landasai akibat perbedaan aktivitas ekspresi gen yang berbeda itu. Walau kelihatan diampun, mereka sesungguhnya sudah berseberangan pikirannya, yang satu cenderung berpikir positif dan yang lainnya berpikir negatif.

Berbagi cerita tentang perilaku teman yang jelek dari trah Kurawa saya pikir bukan hal yang utama, tidak baik menggunjingkan kejelekan teman. Maka ijinkan aku mau cerita tentang teman yang satunya saja, yang cenderung memvisualisasikan sosok yang mungkin bisa jadikan 'guru laku'. Konon lebih baik kita belajar dari pengalaman orang lain dari pada kita harus mengawalinya, harus kita akui berjalan di jalan yang sudah terbangun lebih mudah dari pada kita harus mengawali membuat jalan sendiri, kita harus menebas semak belukar, mengikis batu karang dan lain sebagainya.

Sisi baik teman yang ingin aku soroti pada tulisan ini adalah mengapa ia nampak melakukan banyak hal selalu bisa dilandasi dengan rasa 'senang hati' ? Siapapun mengakui bahwa satu teman itu, memiliki banyak sahabat dan bisa berkomunikasi baik dengan siapapun, sekalipun dengan mereka yang berseberangan pemikirannya. Ada hal menarik ketika aku bertandang ke tempatnya, Ada lukisan semi abstrak motif kaligrafi yang awalnya saya pikir itu benar-benar kaligrafi arab, eh... ternyata tulisan biasa. Ketika kita simak benar, akan terbaca: .....don't try to have thing that you love, .....but try to love thing that you have.

Dari kata-kata dalam lukisan itu, aku mulai mengajak tukar pikiran tentang hidup dan kehidupan. Menurut sang teman baik ini, semangat utama yang perlu dikembangakan untuk merengkuh kebahagiaan yang seluas-luasnya adalah ' bersyukur'. Orang sering lupa pada apa yang dimilikinya, apa yang telah dianugerahkan Allah padanya. Benar, ketika kita telah memdapatkan 9 dari 10 hal yang kita inginkan, pikiran kita tidak tercurah pada mensyukuri 9 yang telah kita peroleh tetapi justru terfokus pada 1 hal yang belum kita dapatkan. Dengan membiasakan bersyukur, rasa ketenangan akan terbangun dan hal itu akan membuat kita bisa menjalani hidup dengan hati yang senang.

Sang teman menyitir kata-kata sang bijak Imam Gozali yang intinya mengatakan: "Kebahagiaan yang sebenarnya dan lagi utama terletak pada kemenangan kita dalam memerangi hawa napsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan". Maka dari itu membangun diri harus dilihat dalam kontek 'tidak untuk sendiri'. Pengembangannya perlu dengan semangat intropeksi, cobalah melakukan apapun dengan 'senang hati' agar feedbacknya juga bersenang hati. Upayakan kita sukses dengan melibatkan dan mengajak orang lain juga menjadi sukses. Berbagilah menyangkut hal yang baik, agar kebaikan itu tumbuh seperti virus merambah ke mana-mana, sehingga atmosfir kita makin menyenangkan.

Laku bersenang hati lahir dari semangat mencoba menikmati (baca: mensyukuri) apapun yang harus kita alami. Kalau kita tidak rajin menyuburkan rasa suka hati, siapa lagi yang harus melakukan. Bayangkan kit berada dalam bus tanpa ac lalu terjebak dalam kemacetan, kita diburu waktu untuk suatu acara, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasinya. Kalau kita jengkel, mangkel, marah akan banyak energi positif hilang dan kita akan dikuasai energi negatif yang makin menyesakan dada, sakit hati dan waktu jadi terasa panjang. Tetapi ketika persepsi kita rubah dengan semangat 'nikmati aja', misalnya dengan mengajak diskusi hal yang menarik dengan teman di sebelah kita, atau mengabadikan (memotret, menulis) momen itu atau menelepon teman, maka suasana hati tidak akan begitu gundah, lalu kita belajar bisa menerima kenyataan tak terduga itu. Itulah hidup.