Selasa, 22 Desember 2009

HIDUP BAIK


Seseorang sahabat bertutur tentang hakekat tujuan hidup, ia yakini ssetelah melalui perenungan panjang bahkan sampai harus umroh segala, menurut dia bahwa tujuan hidup adalah bagaimana mati baik. Lalu, untuk mati baik berarti kita mesti hidup baik, demikian penyimpulannya. Mendengar penuturan itu, pikiranku yang biasanya tergelitik, ini tidak, sepertinya pikiranku mengatakan itu bukan merupakan hal baru dalam dunia pemikiran tentang hidup. Apa lagi menyangkut mati baik dan hidup baik, masih memiliki pengertian yang jamak, mati baik apakah mati dengan ketenangan, bukan kecelakaan, terbunuh, sakit atau mati dengan segudang amal dan kekaryaannya yang dirasakan manfaatnya bagi sesama dalam kehidupan di dunia ? Lalu hidup baik itu ukurannya apa ?


Semua aku rasa setuju bahwa pemahaman terakhirlah yang benar. Orang mati baik dapat diukur dari seberapa besar amal dan kekaryaannya yang bermanfaat bagi sesamannya. Amal dan kekaryaan seseorang sangat bergantung pada seberapa besar ‘kemampuan’ untuk melakukan itu. Sahabat yang bicara tentang ‘mati baik’ itu, selanjutnya bertanya padaku:


“ Kalau menurut mas, untuk bisa mati baik apakah orang harus kaya ? Apakah orang miskin tidak mungkin mati baik ? “ Ditanya demikian pikiranku mulai tergelitik, apa ya jawabnya ?


“ Aku rasa mati baik bisa dicapai siapapun, tidak pandang miskin atau kaya, “ sahabatku tersenyum, lalu ia ngomong lagi.


“ Pada kondisi miskin untuk mati baik sulit, kaya juga kurang ”.


Aku tertegun mendapat jawaban tak terduga sahabatku. Logika apa yang digunakannya hingga berpendapat demikian. Kenapa miskin dan kaya sebagai sesuatu yang berbeda didudukan pada posisi yang sama yaitu kurang mendukung pencapaian untuk mati baik ? Kalau ukuran mati baik adalah amal dan kekaryaan bukankah peluang keduanya masih mungkin untuk bisa mencapainya. Mungkin kaya akan lebih memiliki peluang lebih besar, tetapi miskin juga tidak tertutup kemungkinan untuk mati baik, sebab amal dan kekaryaan bisa saja tidak tergantung materi. Begitukan ?


“ Maksudku kurang tepat, mas ! Menurutku untuk menjamin bisa mati baik kita mesti kaya raya, “ lanjut sahabatku dengan tetap tersenyum, tetapi lebih lebar. Memancing kinerja kontemplatifku, seolah tahu apa yang berkecamuk dalam pikiranku. “ Coba mas renungkan, deh ! “ Lanjut sahabatku sambil ngeloyor pergi. Kepergian sahabatku membuat lenyap pula energi bertanya tentang ‘mati baik’, lagian pekerjaanku lagi butuh kosentrasiku.


Ketika malam hampir mencapai puncaknya, saat aku duduk termenung sendiri di ‘kursi bengong’ tempat di mana aku selalu melepas segala penat seharian kerja, sambil sesekali merenung. Sementara di rumah induk anak-anak dan istriku sudah mulai bermimpi. Pertanyaan sahabatku tentang ‘mati baik’ itu tiba-tiba menyeruak di benak pikirku. Kenapa harus kaya raya untuk bisa ‘mati baik’ ?


Orang kaya raya akan mampu beramal dan berkarya lebih baik ? Hm………, bisa jadi benar. Tapi nanti dulu, itu juga bisa salah. Kaya raya itu ukuranya apa ? Apakah ukurannya materi atau juga bisa non materi ? Aku kira ‘kaya raya’ materi saja tidak cukup untuk menjamin seseorang bisa ‘mati baik’, seseorang harus sudah teruji dulu aspek semangat keiklasan ber‘amal’ dan ber’karya’nya yang bisa memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Kaya raya dalam hal semangat berbagi, bisa jadi tanpa harus dengan ‘materi’ tetapi bisa dalam bentuk non materi seperti ‘kaya raya’ ilmu pengetahuan. Orang yang sangat kaya ilmu pengetahuannya, dan memiliki semangat berbagi ilmunya yang kuat, kemudian karya keilmuannya banyak dimanfaatkan orang bisa jadi ini ekuel dengan orang miskin materi tapi potential mati baik.



Jadi aku sangat apresiet pada siapapun yang memiliki segudang energi untuk memotifasi orang-orang di sekitarnya dengan tulus iklas, contohnya seperti sahabatku. ia banyak menyediakan waktu terbatasnya untuk berbagi dengan kawan-kawan seperjuangannya, wanita ini bisa bertahan membangun kepercayaan diri seseorang yang 'perlu amunisi' untuk berjuang sepanjang pagi hingga tengah malam tanpa mempedulikan tuntutan tubuh untuk mandi. Tidak sekedar bicara, tetapi tangannya berkeringat. Ini adalah gambaran 'amal dan kekaryaan' yang lebih bernilai, ketimbang doa-doa panjang mekanis yang mengiringi peribadatan seseorang yang
tidak sepenuh hati.

Senin, 07 Desember 2009

TIDUR NYENYAK


Aku pernah dengar ada orang yang berprinsip mengukur kualitas hidup dengan pengukuran yang sangat sederhana yaitu ‘tidur nyenyak’. Katanya kualitas hidup seseorang dianggap baik, ketika orang tersebut sudah bisa tidur nyenyak. Suatu prinsip yang unik, aku jadi tertarik untuk mencoba kontemplatif agar lebih memahami pemikiran itu. Dalam benak pikiranku, mulai muncul stimulus yang mengeja pertanyaan-pertanyaan. Pengukuran sederhana bukan berarti lahir dari buah pikiran sederhana pula, pradugaku justru ia lahir dengan landasan pemikiran yang mendalam dan realitas yang kuat tapi ‘penggaliannya’ terabaikan oleh orang lain.


Konon bagi mereka yang memahami dan meyakini pandangan holistik, hidup kita harus menyeluruh, berkeseimbangan dan selaras dengan alam. Alam memberi pembelajaran pada kita akan adanya realita dikotomis yang selalu menghias di dalamnya, misalnya: ada siang dan malam, gelap dan terang, baik dan buruk, suka dan duka, laki dan perempuan, cinta dan benci, kaya dan miskin, atas dan bawah, muda dan tua, hidup dan mati, dunia dan akhirat dan masih banyak lagi fenomena dikotomis seperti itu. Tidak itu saja bahkan bagi orang yang tidak mau dianggap berkacamata kuda fenomena itu tidak sekedar dikotomis mungkin ‘polikotomis’, mereka meyakini bahwa realita itu alternatifnya banyak, dari fenomena di atas kita mengenal: sore, medium, remang-remang, kecukupan, banci, dewasa, matisuri dan lain-lain yang semestinya juga satu kesatuan tak terpisahkan.


Hidup kita apakah harus dipaksa berada pada satu sisi fenomena ? Kadang kita sering dengar orang berbicara: “ Orang kok mementingkan duniawi saja, akhirat nggak dipikir”. Atau ada juga yang sebaliknya nggak begitu peduli pada kehidupan duniawi yang diutamakan kepentingan spiritual yang tujuannya akhirat. Sesungguhnya mementingkan salah satu saja hematku tidak benar, hidup kita sesungguhnya butuh keseimbangan. Orang yang hanya sekedar mengejar spiritual saja apa tidak berarti menyia-nyiakan hidup yang sesungguhnya membuka begitu banyak kemungkinan. Sebaliknya orang yang hanya mengejar duniawi saja berarti menafikkan esensi dirinya sendiri sebagai ‘manusia’, mahluk yang paling sempurna di muka bumi ini.


Ukuran kualitas hidup manusia berarti semestinya harus dilihat dari nilai pencapaian bersama dua hal yang sangat berbeda yaitu pencapaian spirituan dan keduniawian. Spiritual semestinya jangan ditafsir hanya terbatas pada peribadahan kita kepadaNya melalui sholat, dzikir, puasa, semedi, dan sebangsanya. Tetapi juga harus dilihat secara menyeluruh, artinya spiritualitas harus juga masuk dalam laku dunia demikian sebaliknya duniawi juga menguatkan spiritualitas. Spiritualitas dapat diukur dengan bahasa hati, semua harus sepenuh hati. Bekerja sepenuh hati, makan ya sepenuh hati, belajar sepenuh hati, sholat ya sepenuh hati, mandi ya sepenuh hati. Intinya, semua yang kita lakukan dalam menjalani hidup harus dengan kesadaran penuh, iklas, tawa’dhu. Dengan begitu kita berarti menghargai hidup yang telah diberikan kepada kita.


Semua yang dilakukan dengan sepenuh hati, akan memberi kenyamanan batin pada yang melakukan maupun lingkungannya. Tindakan sepehuh hati berarti tindakan tanpa ada ganjalan atau kegelisahan, orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati akan ditandai dengan laku menjalani dengan rasa ringan, ceria, suka cita atau ‘enjoi’ kalau meminjam bahasa iklan. Di mana saja, bagaimanapun situasinya kalau kita sudah memilih, maka kita harus bisa belajar menerimanya dan menikmatinya. Itu adalah awal belajar berada pada kondisi ‘sepenuh hati’.


Maka dari itu ketika orang berpendapat bahwa kualitas hidup dapat diukur dari perilaku tidur, ya logis juga. Kalau memang bahwa orang yang dianggap berkualitas hidupnya adalah orang yang telah mampu menyeimbangkan pencapaian kehidupan spiritualitas dan duniawinya. Pada dirinya akan dijumpai ketenangan lahir, batin serta pikirannya. Jelas pada orang-orang yang telah mencapai tataran ini, kegelisahan akan menjauh sehingga dalam memenuhi hajat tidurpun mereka bisa menjalaninya sepenuh hati sehingga mereka bisa ‘tidur nyenyak’. Tentu ini harus dibedakan dengan tidurnya orang yang masa bodo, cuek, gila yang juga 'nyenyak'.


Kita sering tidak enjoi, karena kita sering tidak sepenuh hati menjalankan sesuatu hal. Sebagai mahasiswa mengerjakan tugas dilakukan dengan kurang serius, asal-asalan, atau sekedarnya dengan disambi melakukan aktivitas lainnya, hasilnya adalah kegelisahan karena akan muncul pertanyaan ‘lulus atau tidak ya ?’. Kalau di sisi yang lain sebagai misalnya jadi anak, jadi ibu atau bapak perannya juga tidak dilakukan sepenuh hati maka kegelisahan akan bertambah, keresahan akan meningkat, sehingga bagaimana mereka bisa ‘tidur nyenyak’ ?


Kata kakekku, memang belajar untuk bisa menjalani sepenuh hati dalam semua laku memang tidak mudah. Butuh tempaan belajar, butuh pengorbanan, butuh ketekunan, butuh kesabaran, butuh keiklasan, butuh semangat berbagi. Jangan ikuti semua ‘ego’ yang ada dalam diri yang cenderung mendorong kearah pemuasan keinginan duniawi yang tidak pernah terpuaskan. Ingat bahwa hidup kita pendek, orang jawa bilang ‘urip kur mampir ngombe’, jadi manfaatkan sepenuhnya dengan bijak, jalani hidup dan nikmati.

Jumat, 04 Desember 2009

KERANGKA KONSEPTUAL


Kemarin ketika ujian kualifikasi, semua penguji cenderung memulai pertanyaan dengan mempertanyakan apa-apa yang tertuang dalam bagan ‘kerangka konseptual’. Kebetulan kerangka konseptualku sengaja tak buat dengan gambaran yang menarik plus sentuhan warna yang diharapkan menghilangkan kesan ilmu itu kaku. Kesan warna-warni itulah yang kemudian juga menarik untuk teman-teman minta bantuan ke aku untuk mendandani kerangka konsep punya mereka.

Memang menurutku membuat kerangka konseptual ya susah-susah gampang, maksudnya buat orang yang memahami maksud, tujuan, manfaat dan cakupan penelitian tentu menjadi gampang, tetapi buat orang yang awam dan tidak mendalami pada maksud, tujuan, manfaat dan cakupan penelitian tersebut tentu akan susah membuatnya. Jadi para professor memulai pertanyaan dari kerangka konseptual adalah pilihan tepat dan amat cerdas karena dari sinilah kapasitas pemikiran ‘mahasiswa’ yang diuji bisa dilihat.

Kerangka konseptual menurutku disimak dari akar katanya yaitu ‘kerangka’ dan ‘konsep’, maka kerangka konseptual adalah gambaran mendasar atau pemikiran yang mendasari penelitian kita yang berisi konsep-konsep dan jabarannya. Kerangka konseptual merupakan kerangka pikir dasar mengenai hubungan antar konsep-konsep, variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian atau hubungan antar konsep, variabel dengan konsep, atau variabel dengan variabel lainnya dari masalah yang diteliti sesuai dengan apa yang peroleh dari studi pustaka.

Sementara pengertian konsep dalam hal ini adalah suatu abstraksi atau gambaran, buah pikiran yang dibangun dengan menggeneralisasikan suatu pengertian. Karena sifatnya yang general itu, konsep tidak dapat diamati dan diukur secara langsung. Agar supaya konsep tersebut dapat diamati dan diukur, maka konsep tersebut harus dijabarkan terlebih dahulu menjadi variabel-variabel. Variabel adalah sesuatu yang nilainya dapat diukur, nilainya berubah-ubah menurut waktu, elemen atau tempat.

Kerangka konseptual akan menjadi ‘frame’ atau ‘boundary’ yang menegaskan masalah yang dikaji, fokus dengan batas cakupan yang jelas. Setidaknya ketika ada ketegasan mana ranah yang diteliti, memudahkan identifikasi fungsi variabel (mana yang independent, dependent, kendali, dll), hal tersebut akan memudahkan kita memformulasi hipotesis, serta menyusun pendekatan metode penelitian yang layak dilakukan. Akan sangat sulit orang lain yang tidak memahami permasalahan dan substasi penelitian untuk diminta membuatkan kerangka konsep. Tetapi begitu jadi kerangka konsep, orang lain yang tidak faham akan mudah terfahamkan.

Mungkin menggambarkan dengan contoh akan lebih mudah kita mengingat, dalam penelitianku ‘Aklimatisasi’ adalah konsep. Aklimatisasi adalah hal umum tentang proses menumbuhkan bibit tanaman hasil kultur in vitro agar adaptif bisa hidup di lingkungan yang baru (ex vitro) dan berbeda dari lingkungan sebelumnya. Agar bisa diukur maka harus dijadikan variabel misalnya; teknik aklimatisasi, media aklimatisasi, penggunaan pupuk dan obat. Ada teman penelitian vernalisasi pada tanaman bawang merah, vernalisasi adalah konsep, ini harus dijabarkan dalam bentuk variabel misalnya saja: tingkat derajat suhu, lama atau periode vernalisasi.

Dalam sudut pandang epitemik dedutif maka teknik aklimatisasi, media aklimatisasi, penggunaan pupuk dan obat; tingkat / derajat suhu, lama /periode vernalisasi dapat didudukan sebagai variabel bebas atau independen, terus variabel dependen atau tergantungnya apa ? Bisa misalnya: laju pertumbuhan, kecepatan berakar, kecepatan berbunga, jumlah bunga dan lain-lain. Jadi konsep dan variabel yang telah kita tentukan tadi kira-kira kalau kemudian kita buat interkorelasinya dalam kerangka konsep adalah seperti di bawah ini:

Teknik Aklimatisasi ----------------
Jenis Media ------------------------- Laju Pertumbuhan
Jenis Pupuk / Obat ----------------


Tingkat Suhu ----------------------
Lama Waktu ------------------------ Laju Pembungaan
Umur Tanaman -------------------

Catatan: mestinya titik-titik di atas berupa garis yang mengarah ke Laju Pertumbuhan atau Pembungaan.
Interkorelasi antara konsep dengan konsep atau konsep dengan variabel yang telah kita buat, selanjutnya harus di 'breakdown' dengan mengajukan pertanyaan hal apa yang dapat diinterkolerasikan selanjutnya ? apa yang menjadi faktor dari suatu konsep atau variabel yang sudah kita tentukan ? Misal ketika aku bicara tentang konsep 'aklimasisasi', maka faktor yang mempengaruhi adalah: jenis anggrek, jenis media in vitro, teknik aklimatisasi, operator, nutrisi, dan faktor lingkungan (cahaya, media, suhu, kelembaban, angin). Proses 'breakdown' terus dilakukan sampai pada lingkup yang kita inginkan, dengan mempertimbangkan sarana, dana dan waktu yang tersedia untuk penelitian. Ini banyak dipertanyakan dalam ujian, aku sadar karena 'ruh' penelitian memang kan ada di sana.

Untuk mengembangkan kerangka konseptual tentu saja kita harus memperkaya asumsi-asumsi dasar yang relevan yang berasal dari bahan-bahan referensi yang terpercaya dan baru. Tetapi juga alangkah baiknya kalau dapat diperkuat dengan informasi, pengetahuan yang diamati, diperoleh langsung pada lingkup area masalah yang akan dijadikan penelitian, seperti aku berarti permasalahan di masyarakat peranggrekan. Dengan demikian kerangka konseptual yang dibuat merupakan paduan yang kaya dan lengkap karena merupakan gabungan antara hasil pemikiran dari konsep-konsep (produk deduksi) dan fenomena empiris (produk induksi). Karena pengetahuan baru umumnya terbangun melalui pendekatan ini (lihat tulisan: epistemik deduksi).

Singkatnya kalau tidak sempat lihat, berpikir deduksi adalah proses berlogika yang berdasar dari kebenaran umum mengenai suatu fenomena (teori) dan memverifikasikan kebenaran tersebut pada suatu peristiwa atau data tertentu yang berciri sama dengan fenomena tersebut yang lebih khusus. Berpikir induksi adalah proses berlogika yang berangkat dari data empirik (khusus) lewat observasi menuju kepada suatu teori (umum). Dengan kata lain induksi adalah proses mengorganisasikan fakta-fakta atau hasil-hasil pengamatan yang terpisah (khusus) menjadi suatu rangkuman hubungan atau suatu generalisasi (umum).

Kamis, 03 Desember 2009

STORY OF THE 'PLONG'



Mat Yudha pada suatu hari di pagi yang tidak begitu cerah, wajahnya jemberut, padahal wajahnya semestinya lumayan smart, dengan kaca matanya yang kebilang tebal maka kali ini jadi tidak proporsional, tapi itulah penampilan sekarang. Tangannya memegangi perutnya, sesekali wajahnya meringis, gelisah nggak karuan. Dalam bahasa kegundahan dia berada pada kondisi yang ia tidak inginkan.

“ Siapa yang di kamar mandi ? “ teriaknya.
“ Aku Mas, “ ucap istrinya lirih dari dalam, “ Sebentar, nanggung dah sabunan Mas “.
“ Aduh…… cepat dikit dong ! “ desak Mat Yudha mendekat pintu kamar mandi. Istrinya diam, yang terdengar suara air ditimba. Gejebar....gejebur............. Wajah Mat Yudha memerah, tangannya tak pernah lepas memegangi perutnya. Badannya menekuk setengah bongkok, seperti udang yang baru digoreng. Dunia bagi Mat Yudha terpenting adalah kamar mandi. Tidak perduli lagi berita televisi yang lagi getol memberitakan tontonan baru layar kaca pasca kasus pertarungan buaya lawan cecak (baca: porli vs KPK) yaitu kasus yang tak kalah seru bertajuk ‘ Dana Siluman Bank Century 6.7 triliun’.

“ Udah…. Ayo cepat, “ teriak Mat Yudha lagi. Pintu kamar mandi terbuka, Mpok Tanti si istri Mat Yudha keluar nggak jangkep pakaiannya, bagian tubuhnya yang semestinya tertutup menjadi tontonan cecak yang ada di dinding.
“Cek….cek….cek”, suara cecak. Sepertinya cecak mengagumi lekuk tubuh yang sejenak tampil di depannya, tapi keburu tubuh itu hilang di balik pintu kamar utama. Heran Mat Yudha tidak marah cecak menikmati kemolekan istrinya, padahal biasanya semut merah menjamah kulitnya langsung dibunuhnya. Tetangga melirik saja sudah ditantang duel satu lawan satu. Makin jelas Mat Yudha lagi tidak perduli pada dunia di sekitarnya.

Begitu masuk kamar mandi, Mat Yudha langsung melepas celananya yang komprang dengan mudahnya dan tidak sempat menggantungkan di dinding, tapi melipat sekenanya dan buru-buru jongkok. Dan dengan tanpa jeda, ……. terdengar tembakan bayonet dari muara perut Mat Yudha. Breeeeeeeeeeettttttt…. Breeeeeetttttttt….breeeeett. Lalu terlihatlah wajah Mat Yudha yang berbeda, seperti lega sekali lepas dari beban berat sebelumnya, jadi nampak kesmartannya.

“ Rasanya Plong !” batin dia.

Nah, rasa seperti itulah yang aku rasakan sekarang ini. Rasa Plong, sebuah rasa tanpa beban, tanpa kegundahan, setelah beberapa hari yang lalu penasaran dengan gerangan yang namanya ‘ujian kualifikasi doktor’. Sampai akhirnya Kamis lalu aku jalani, jam 8 pagi sampai jam 10 pagi, dimulai aku presentasi rencana disertasi, kemudian 100 menit dicecar pertanyaan oleh 7 pakar Science yang bergelar professor dan doktor. Sungguh….. aku merasa bersyukur ujian lancar, cair, penuh keakraban, dengan joke awal ‘tentang anggrek' dari sang Ketua Penguji. Koreksi, masukan, debat mempertahankan pendapat menurut saya itu nilai plus dari forum akademis, aku mencintai dan menghormatinya. Lalu soal kebuntuan menjawab rasanya harus disadari sulit dihindari walau kita sudah merasa maksimal mempersiapkan. Itu juga saya ambil hikmah positif bahwa kita memang tidak boleh berhenti belajar, dan jangan merasa pintar.
Hikmah positif harus aku rasakan, ujian kualifikasi tidak menakutkan seperti yang dibayangkan dan diceritakan orang-orang. Tapi dibilang enteng atau sepele jelas menurut saya itu konyol. Memang ada sementara orang beranggapan bahwa kegiatan itu formalitas, pasti lulus, atau terpaksa diluluskan. Itu jelas anggapan yang salah, lagian siapa yang mau diperlakukan 'terpaksa diluluska'. Yang jelas, pengalaman aku yang sekarang sudah 'plong' bahwa untuk ujian kualifikasi kita mesti cukup bekal dan memahami betul penelitian yang akan kita lakukan, karena sumber pertanyaan semua berakar dari sana. Sekecil dan sesepele apapun konsep, terminologi, masalah, metode sebaiknya kita fahami.
Kecerobohan, menyepelekan hal sederha menurut kita (tidak menurut mereka), misalnya kurang atau buntunya komunikasi, atau komunikasi yang mengambang, tidak tegas dari pengambil kebijakan, mengesampingkan saran pakar, entah atas nama alasan tidak ada waktu, kurang pustaka, dan lain sebagainya sebaiknya diantisipasi agar tidak jadi ganjalan saat ujian, karena yang rugi bukan siapa-siapa, tetapi kita sang mahasiswa. Kalau sudah 'plong' seperti ini sungguh sesakit, capai, gundah, emosi, stresss, semua menjauh sendiri. Nah, siapa mau ikut 'plong' ? Aku ingin menyemangatinya.

Selasa, 01 Desember 2009

SKALA PENGUKURAN


Ketika diskusi dengan bu Diana di Perpustakaan Pasca, aku ingat mimik beliaunya yang lancar menerangkan tentang skala pengukuran yang lazim difahami seorang peneliti. Sebetulnya tidak hanya skala pengukuran yang penting dipahami, seorang peneliti perlu faham tentang unit analisys, karakteristik, variabel, populasi, sampel, sampling, dan lain-lain. Kembali ke apa yang dipaparkan oleh bu Diana tentang skala pengukuran. Beliau menjelaskan bahwa menyangkut skala pengukuran dikenal ada 4 skala utama, yaitu: Nominal, Ordinal, Interval dan Rasio. Tapi di akhir diskusi, karena beliau harus balik ke Malang, beliau berpesan: “ Tolong dicek lagi siapa tahu salah.”


Setelah saya cek ulang di buku-buku statistic yang aku punya, ternyata apa yang disampaikan bu Diana benar. Trim, bu Diana. Skala pengukuran sering juga disebut skala data. Data adalah catatan atas kumpulan fakta, yang diterima secara apa adanya. Data merupakan bentuk jamak dari datum. Datum berasal dari bahasa latin yang berarti ‘sesuatu yang diberikan’. Kumpulan fakta tersebut merupakan hasil dari proses pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata atau citra. Sehingga nilai data sangat bergantung pada validitas alat ukurnya, pengukur serta bagamana cara mengukurnya.


Menurut begawan statistik bahwa tipe data memegang peranan penting di dalam penentuan jenis uji statistik yang akan digunakan. Secara umum data statistik digolongkan menjadi 2 macam, yaitu: data diskrit, yaitu data yang tidak dikonsepsikan adanya nilai-nilai di antara data lain yang terdekat. Misalnya data jumlah ternak, jumlah anak, jumlah pohon yang ada di suatu rumah, tidak mungkin ada 12,4 anak, 4.6 pohon dan lain-lain. Data kedua disebut data continue, yaitu data yang didapat dari hasil pengukuran yang sudah terstandar.


Data didapatkan dari perhitungan dan pengukuran. Pengukuran adalah penggunaan aturan untuk menetapkan bilangan pada obyek atau peristiwa. Dengan kata lain, pengukuran memberikan nilai-nilai variabel dengan notasi bilangan. Aturan penggunaan notasi bilangan dalam pengukuran disebut skala atau tingkat pengukuran (scales of measurement). Secara lebih rinci, dalam statistik terdapat 4 skala pengukuran yaitu nominal, ordinal, interval dan rasio.


Skala Nominal, ialah angka yang berfungsi hanya untuk membedakan, merupakan identitas, urutan tidak berlaku, operasi matematik juga tidak berlaku, artinya 2 tidak harus lebih besar dari satu atau tidak lebih kecil dari 4 (hasil kali, bagi, penjumlahan, pengurangan tidak mempunyai arti). Hanya sebagai lambang, symbol atau identitas. Contohnya: Jenis kelamin: perempuan (o) dan laki-laki (1); Agama: Islam (1), Kristen (2), Hindu (3); Suku: Jawa(1), Minang(2), Batak(3), Dayak(4) dan seterusnya. Bisa juga angka dari alamat rumah, nomor kamar hotel, nomor KTP, SIM, Nomor Punggung Pemain Bola dan sebangsanya.


Skala Ordinal, ialah angka yang selain berfungsi sebagai nominal juga menunjukan urutan, bahwa sesuatu lebih baik, lebih bagus, lebih disenangi, dari pada yang lain. Misalnya ada 5 anak SD dengan perolehan nilai matematika sebagai berikut: A=50; B=45; C=75; D=100; dan E=80, maka peringkat anak SD tersebut dalam nilai matematika adalah D=1; E=2; C=3; A=4; dan B=5. Pada data tersebut jarak nilai tidak sama, akan tetapi terlihat urutannya makin besar (menuju 5) atau makin kecil (menuju 1).


Skala Interval, ialah angka yang selain berfungsi sebagai nominal dan ordinal juga menunjukan jarak yang sama, akan tetapi tidak sampai berapa kali, sebab titik nol letaknya sembarang, dipergunakan untuk ‘rating’. Contoh adalah suhu atau temperature naik dari 20o – 30o atau 40o – 60o jaraknya 10o – 20o . Akan tetapi tingkat panas yang ditunjukan oleh angka 30o tidak berarti 1.5 kali panas yang ditunjukan oleh angka 20o. Demikian juga kalau kita bicara tentang tingkat kepuasan, misalnya ditunjukan dengan angka 1,2,3,4,5. Walaupun jaraknya sama, tetapi tidak berarti tingkat kepuasan 4 adalah dua kali dari kepuasan 2 atau kepuasan 5 adalah lima kali kepuasan 1.


Skala Rasio, ialah angka yang selain berfungsi sebagai nominal, ordinal, dan interval juga menunjukan berapa kali, sebab angka nol letaknya tidak sembarang. Misalnya berat badan A=60 kg, B=30 kg, berate berat A adalah dua kali berat B, atau berat B setengah dari berat A.


Terima kasih buat bu Diana, sungguh bayangan wajah anda akan memudahkan mengingatkanku pada hal-hal di atas. Tipe orang macam apa aku ini, tak tahulah, aku hanya punya keyakinan untuk berupaya: membayangkan yang aku lihat, mengingat yang aku baca, rasakan yang aku alami, kerjakan yang aku sukai. Welah……welah…… stress kok guyon.

Senin, 30 November 2009

EPISTEMIK DEDUKSI


Ketika aku lagi membuat presentasi kualifikasi, pikiranku yang semula mengalir dari satu tahapan ke tahapan lain, tiba-tiba buntu. Tahu-tahu tumpul ketika ada pertanyaan apa itu Epistemik Deduksi ? Kan ketika kita memaparkan kerangka konsep tentang penelitian yang akan kita lakukan, kita mesti harus mampu meresum sesungguhnya apa epistemic deduksinya ? Pertanyaan itu tidak mungkin terjawab manakala kita sendeiri tidak tahu apa itu epistemic deduksi. Ya kan ?


Disimak dari kata yang menyusunnya berasal dari kata ‘epistemik’ dan ‘deduksi’. Epistemik berkait dengan terminologi epistemology yaitu maknanya berkaitan dengan bagaimana pengetahuan dicari, sedangkan deduksi bermakna proses mencari pengetahuan yang dilakukan dengan metode bagaimana cara melihat dan menyimpulkan suatu persoalan yang dimulai dari pernyataan yang bersifat umum menuju kepada pernyataan yang bersifat khusus. Dengan demikian epistemic deduksi adalah ‘bagaimana membuat kesimpulan khusus yang dihasikan dari kasus-kasus yang bersifat umum.


Masih ingat kuliah filsafat ilmu yang lalu, bahwa Untuk mendapatkan pengetahuan baru bisa dilakukan dengan dua cara : pertama dengan metode induksi, yaitu sebuah metode bagaimana cara melihat dan menyimpulkan suatu persoalan yang dimulai dari pernyataan yang bersifat khusus menuju kepada pernyataan yang bersifat umum. Bagaimana membuat kesimpulan umum yang dihasilkan dari kasus-kasus yang bersifat khusus atau individual.


Untuk menajamkan pemahaman tersebut, kita ambil contoh misalnya : besi jika dipanaskan akan memuai, timah jika dipanaskan akan memuai, seng jika dipanaskan akan memuai, emas jika dipanaskan akan memuai, perak jika dipanaskan akan memuai, tembaga jika dipanaskan akan memuai. Dari pemahaman itu maka secara umum bisa disimpulkan bahwa : Semua logam jika dipanaskan akan memuai.


Penyimpulan secara umum dilakukan dengan melihat dan meneliti kasus-kasus khusus dari beberapa sampel yang mempunyai sifat sejenis, baru kemudian dibuat suatu kesimpulan yang umum. Pendekatan proses mendapatkan pengetahuan ini dianggap sebagai metode yang paling praktis, karena untuk menyimpulkan bahwa ‘semua logam jika dipanaskan akan memuai’ kita tidak perlu lagi meneliti semua jenis logam yang ada di alam semesta ini.


Cara kedua untuk mendapatkan pengetahuan adalah dengan metode deduksi, metode ini adalah kebalikan dari metode induksi, yaitu dari memahami pernyataan yang bersifat umum, menuju kesimpulan yang bersifat khusus. Kita ambil contoh tetap dengan kasus logam, bahwa kita sudah memiliki pemahaman umum bahwa ‘logam jika dipanaskan akan memuai’. Maka dengan metode deduktif kita bisa mengkaji bagai mana dengan timbel yang juga logam, bagaimana kondisi timbel jika dipanaskan. Kenyataan membuktikan bahwa timbel memuai setelah dipanaskan, maka timbel benar-benar logam.

Dengan penalaran deduktif maka kita akan mendapatkan pengetahuan baru yang lebih terpercaya lagi, bahwa timbel jika dipanaskan akan memuai, walaupun kesimpulan ini kita dapatkan tidak melalui penelitian terlebih dahulu, tetapi berdasarkan pemahaman sebelumnya yang diperoleh secara induktif. Memang akhirnya kita bisa lihat kelebihan yang kita dapatkan dengan penalaran deduktif, akan lebih hemat biaya dan waktu untuk menyimpulkan suatu masalah.


Menurut pikiranku dalam mengkaji sesuatu, sebagai cara mengembangkan pemikiran sekaligus pengetahuan, rasanya dua pendekatan induktif deduktif tidak bisa jalan sendirian. Dua hal tersebut harus berjalan beriringan, saling topang, saling mengisi dan melengkapi, menguatkan bangunan ketelitian pemikiran dan pengetahuan. Toh, dalam kenyataan keseharian kehidupan manusia pendekatan cara melihat dari hal khusus ke umum dan dari umum ke khusus atau pendekatan verifikasi dan generalisasi adalah merupakan hal yang selalu bersinergi.


Sekarang, aku jadi tahu di mana resum epistemic deduksi dari penelitian yang akan aku lakukan. Hal umum tentang media, kontaminasi yang terjadi, stagnansi pada proses aklimatisasi, perubahan pada kondisi khusus dengan gula dan antibiotic lalu …………….. bla…..bla…. dan …….bla….bla.

Senin, 23 November 2009

GUNDAH


Entah ada reaksi chemikalis, biologis apa yang terjadi di dalam tubuh ini, ada kegundahan yang berjalan sendiri, tidak terkontrol oleh kendali otak yang memilikinya. Kegundahan itu selalu muncul di setiap waktu, tidak mengenal tempat tidak mengenal situasi. Konyolnya dari waktu ke waktu terasa kualitasnya makin meningkat, makin menekan menjajah hasrat-hasrat lain yang semestinya hadir dan tetap mengisi kewajaran hidup. Apakah ini sebuah anomali raga yang wajar lantara deraan kegelisahan pikiran. Apakah sedemikian kuatnya kegelisahan pikiran hingga mampu menguasai kendali otak ?


Kondisi seperti itu hadir tanpa diminta dan diharap, ia muncul begitu saja ketika focus pikiran tertumpu pada pekerjaan yang belum juga selesai, kesiapan yang belum mantap, padahal waktu terus berjalan dan kenyataannya ‘jadwal ujuan kualifikasi’ makin dekat. Malam ini aku merenung, mencoba bercanda dengan kegundahan itu, aku berharap bisa merayunya, mengajaknya bersahabat, kalau perlu mengajaknya kembali menyatu dengan ranah dan kendali otakku. Wahai ‘gundah’ siapa engkau ? Maumu apa ? Bisakah kita bersahabat ?


Kegundahan hati konon adalah suatu puncak kegelisahan yang disebabkan oleh adanya problematika hidup yang penuh dengan konflik, rumit dan tidak kunjung terselesaikan. Kalau wajah gundah itu demikian, aku merasa tidak sepantasnya gundah itu hadir padaku. Problematikaku tidak penuh konflik, tidak juga rumit, dan rasanya ada secercah harapan itu akan terselesaikan. Lalu siapa dan macam apa gundahku ? Ya….. mungkin, gundahku hanya merupakan perasaan tidak nyaman terhadap suatu keadaan saja. Konon, gundah jenis ini akan terasa berkurang ketika kita bersosialisasi dan bercerita pada orang-orang terdekat kita yang dimungkinkan kena nasib yang sama.

Sahabatku, hampir lebih tiga jam aku terdiam melanjutkan kontemplasi ini. Hanya terpekur, mencoba meyakinkan bahwa wajah gundahku adalah perasaan tidak nyaman saja. Tidak nyaman menghadapi sesuatu yang banyak orang menggambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan, menegangkan, penuh ketidakpastian hasil. Ya, orang-orang menganggap demikian pada ‘ujian kualifikasi’ dan aku terlarut mengikutinya. Perasaan itu berkurang, ketika aku sesekali waktu bercerita dengan teman-teman yang juga sama sibuknya, gumuhnya, stresnya mempersiapkan itu. Bisa berkurang ketika mendengar, melihat ada teman yang ternyata permasalahannya lebih rumit dibanding kita.


Gundah ini hadir maunya apa ? Gundah konon kata orang pintar, sesungguhnya merupakan bahasa hati dalam mengungkapkan harapan sebaliknya. Kalau kita tahu gundah kita adalah perasaan tidak nyaman, maka sesungguhnya hati kita tengah memberi signal agar kita cepat bergegas menemukan akar permasalahan, lalu mengurangi, menghindari, menuntaskan apa yang semestinya kita lakukan agar tubuh kita, pikiran kita selanjutnya berada pada situasi yang nyaman. Dalam kasus ini, kegundahanku sepertinya ingin mengajak aku untuk focus, rubah pendekatan, dan disiplin diri. Ya, selama ini jujur tidak fokus, banyak berada pada pikiran dan kerja yang tidak semestinya, pendekatannya asal-asalan dan samben, trus disiplinya payah.


Ketika ranah berpikir positifnya jalan, pemahamanku berubah tentang gundah, kita semestinya sadar bahwa menempatkan kegundahan sebagai musuh adalah salah. Kegundahan adalah sahabat baik kita, dokter pribadi kita, dukun nujum kita yang selalu setia mengingatkan laku kita ketika kita berada pada jalur yang tidak semestinya. Ia adalah bahasa hati yang secepatnya harus kita tanggapi, jangan terlambat sebelum bermetamorfosis menjadi realita yang ‘menggoncang jiwa’.


Aku pernah punya pengalaman gundah dalam perjalanan dengan sebuah bus dari Bogor ke Purwokerto. Awalnya perasaan biasa saja ketika aku naik dan duduk di bangku depan dekat supir, lewat puncak kegundahan muncul dan makin menguat ketika mau memasuki Bandung, intuitifku mengajak duduk ke belakang, mundur satu bangku masih gundah, mundur lagi beberapa bangku, dan lucu kegundahan itu berkurang. Demi Allah, semenjak itu aku menjadi yakin bahwa suara hati adalah suaranya bisa kita panuti. Bayangkan, tak diduga tak dinyana di satu kilometer sebelum Bandung, tepatnya di tol dekat Pasir Kaliki bus yang saya tumpangi menabrak truk yang sarat muatan, bus penyok di bagian depannya, penumpang yang duduk 3-4 di depan menjadi korban meninggal dan luka-luka. Percaya ? Maka jangan takut dengan kegundahan kita, kenali maunya raih hikmahnya.